Rabu, 22 Desember 2010

makalah peranan pembelajaran filsafat ilmu untuk meningkatkan kulitas

BAB 1
PENDAHULUAN


Sejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan filsafat. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan. Akan tetapi, sebelum sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan, seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu ialah mengenai bagaimana proses berpikir manusia (thinking process) sehingga dapat menghasilkan pengetahuan pada manusia.
Bicara tentang sumber daya manusia tentu tidak lepas dari manusia-nya itu sendiri beserta dengan atribut-atribut uniknya mulai dari aspek fisik hingga aspek psikologis. Satu hal yang paling menonjol dari manusia adalah makhluk yang komunal, dimana setiap individu selalu membutuhkan individu yang lain untuk saling berinteraksi
Aspek filsafat sesungguhnya merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan kinerja dan mutu manusia, meskipun bukan satu-satunya determinan. Di samping kajian filsafat mengenai eksistensi manusia, perumusan dan kejelasan filsafat terhadap sumber daya itu sendiri akan menentukan kebijakan dasar kualitas, dan selanjutnya menentukan tingkat kemajuan dan perkembangan sumber daya manusia. Pada sisi lain, sumber daya manusia serta kebijakan secara umum, pada saat ini dihadapkan pada konteks masyarakat Indonesia yang sedang berubah, suatu masyarakat reformasi transisional yang diharapkan menuju masyarakat yang sejahtera, berkeadilan, demokrasi, menghargai kenyataan pluralitas masyarakat dan sumber daya, otonomi, dan sebagainya
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Filsafat
2.1.1 Pengertian Filsafat
Arti filsafat secara terminologi menurut Plato adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli (Surajio,2007 hal;3).
Agustinus & Descartes memulai berfilsafat dari keraguan dan kesangsian. Adanya keraguan dan rasa heran ini mendorong manusia untuk berfikir lebih mendalam, menyeluruh dan kritis untuk memperoleh kepastian dan kebenaran yang hakiki. Berfikir secara mendalam, menyeluruh dan kritis inilah yang kemudian disebut berfilsafat.
Filsafat adalah pengetahuan yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan manusia secara kritis. Filsafat disebut juga ilmu pengetahuan yang mencari hakekat dari berbagai fenomena kehidupan manusia. Filsafat adalah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan (realitas). Filsafat merupakan refleksi rasional (fikir) atas keseluruhan realitas untuk mencapai hakikat (= kebenaran) dan memperoleh hikmat (= kebijaksanaan).
Filsafat ilmu adalah filsafat yang menelusuri dan menyelidiki sedalam dan seluas mungkin segala sesuatu mengenai semua ilmu, terutama hakekatnya, tanpa melupakan metodenya. Kerapkali kita lihat ilmu filsafat dipandang sebagai ilmu yang abstrak dan berada di awang-awang saja, padahal ilmu filsafat itu dekat dan berada dalam kehidupan kita sehari
2.1.2 GUNA FILSAFAT
Filsafat mempunyai kegunaan baik teoritis maupun praktis, dengan mempelajari filsafat orang akan bertambah pengetahuannya. Adapun kegunaan filsafat adalah sebagai berikut :
1) Melatih diri untuk berfikir kritis dan runtut serta menyusun hasil fikiran tersebut secara sistematis.
2) Menambah pandangan dan cakrawala yang lebih luas agar tidak berfikir dan bersikap sempit dan tertutup
3) Melatih diri melakukanpenelitian , pengkajian dan memutuskan atau mengambil kesimpulan mengenai sesuatu hal yang secar mendalam dan komprehensif
4) Menjadikan diri bersifat dinamis dan terbuka dalam menghadapi berbagai problem
5) Membuat diri menjadi manusia yang penuh toleransi dan tenggang rasa
6) Menjadi alat yang berguna bagi manusia baik untuk keoentingan pribadi maupun dalam hubungannya dengan orang lain
7) Menyadari akan kedudukan manusia baik secara pribadi maupun dalam hubungannya dengan orang lain, alam sekitar dan Tuhan Yang Maha Esa.
8) Menjadikan manusia lebih taat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.1.3 FUNGSI FILSAFAT
Filsafat mula-mula berfungsi sebagai induk atau ibu ilmu pengetahuan. Sebelum ilmu pengetahuan ada, filsafat harus menjawab segala macam persoalan tentang manusia, masyarakat, social ekonomi, negara, kesehatan, dll. Karena perkembangan keadaan dan masyarakat muncul berbagai disiplin ilmu yang sat yang banyak problem yang kemudian tidak dapat di jawab oleh filsafat, maka lahirlah ilmu pengetahuan yang dapat menjawab problem tersebut misalnya ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan kedokteran, ilmu pengetahuan masyarakat, dll. Ilmu pengetahuan tersebur terpecah-pecah menjadi lebih khusus sehingga muncul berbagai disiplin ilmu yang sangat banyak dengan kekhususan masing-masing. Jika ilmu-ilmu pengetahuan tersebut berusaha memperdalam dirinya maka akhirnya akan sampai juga sampai pada filsafat. Sehubungan dengan keadaan tersebut maka filsafat dapat berfungsi sebagai interdisipliner system. Filsafat dapat berfugsi menghubungkan ilmu pengetahuan yang telah komplek tersebut. Filsafat juga dapat berfungsi sebagai tempat bertemunya berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

2.1.4 ILMU DAN MASYARAKAT
Dewasa ini ilmu menjadi sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari, seolah-olah manusia sekarang ini tidak dapat hidup tanpa ilmu pengetahuan. Kebutuhan manusia yang paling sederhanapun sekarang memerlukan ilmu, misalnya kebutuhan pangan, sandang dan papan, sangat tergantung dengan ilmu meski yang paling sederhana sekalipun. Maka kegiatan ilmiah dewasa ini berdasarkan pada dua keyakinan berikut
1. Segala sesuatu dalam realitas dapat diselidiki secara ilmiah, bukan saja untuk mengerti realitas dengan lebih baik, melainkan juga untuk menguasainya secara lebih mendalam menurut segala aspeknya.
2. Semua aspek realitas membutuhkan juga penyelidikan primer seperti air, makanan, udara, cahaya, kehangatan, dan tempat tinggal tidak akan cukup tanpa ada penyelidikan itu.

2.1.5 BERFIKIR ILMIAH
Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi kedalam dua bagian. Pertama, konsepsi (tassawur) yaitu pengetahuan sederhana dan kedua, pembenaran (thasdiq) yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian (Ash-Shadr 1995:25). Artinya, proses berpikir yang manusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu; pengetahuan yang pertama kali muncul berupa konsepsi (tassawur) atau pengetahuan sederhana dan seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran (thasdhiq) atau dari pengetahuan sederhana (tassawur) sampai kepada ilmu pengetahuan, pengetahuan sederhana itu diberi pembenaran sesuai dengan keyakinan manusia yang diyakininya. Selanjutnya, untuk memahami pengetahuan sebagai sesuatu yang natural (alamiah) dari sudut pandang manusia diperlukan uraian psikologi, yaitu penjelasan atau uraian tentang proses mental yang bersifat subjektif yang dikaitkan dengan hal-hal empirik yang bersifat objektif, dari hal itu diharapkan dapat berpengaruh pada penguasaan manusia terhadap data konkrit sehingga dapat mendukung pada pembenaran pengetahuan (Rosenthal 1997:56).

Filsafat menjembati cara berfikir secara ontologis, epistemologi dan aksiologi
· Ontologi : hakikat apa yang dikaji
· Epistemologi : cara mendapatkan pengetahuan yang benar
· Aksiologi : nilai kegunaan ilmu

2.1 SUMBER DAYA MANUSIA
Manusia berkembang sebagai individu menjadi pribadi yang unik yang bukan duplikat pribadi lain. Tidak ada manusia yang diharap mempunyai kepribadian yang sama sekalipun keterampilannya hampir serupa. Dengan adanya individu dan kelompok yang berbeda-beda diharapkan akan mendorong terjadinya perubahan masyarakat dengan kebudayaannya secara progresif.
Bicara tentang sumber daya manusia tentu tidak lepas dari manusia-nya itu sendiri beserta dengan atribut-atribut uniknya mulai dari aspek fisik hingga aspek psikologis. Satu hal yang paling menonjol dari manusia adalah makhluk yang komunal, dimana setiap individu selalu membutuhkan individu yang lain untuk saling berinteraksi
Adanya aspek-aspek lahiriah, psikologis dan rohaniah mengisyaratkan bahwa manusia dalam fenomena (situasi) pekerjaan adalah paduan antara manusia sebagai sebagai fakta dan manusia sebagai nilai.
2.2 SIKAP ILMIAH YANG HARUS DIMILIKI ILMUWAN =manusia / perawat
Para ilmuwan sebagai seorang yang professional dalam bidang keilmuan sudah barang tentu perlu memiliki visi moral, yaitu moral khusus sebagai ilmuwan. Moral inilah di dalam filsafat ilmu disebut juga sebagai sikap ilmiah. Sikap ilmiah harus dimiliki setiap ilmuwan, hal ini disebabkan oleh sikap ilmiah adalah suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang bersifat obyektif. Sikap ilmiah bagi seorang ilmuwan bukanlah membahas tujuan dari ilmu, melainkan bagaimana cara untuk mencapai suatu ilmu yang bebas dari prasangka pribadi dan dapat dipertanggungjawabkan secara social untuk melestarikan dan keseimbangan alam semesta ini, serta dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Sikap ilmiah yang perlu dimiliki para ilmuwan menurut Abbas Hamami M.,1996 sedikitnya ada enam yaitu sebagai berikut :
1. Tidak ada rasa pamrih, artinya suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang obyektif dengan menghilangkan pamrih atau kesanangan pribadi.
2. Bersikap selektif yaitu suatu sikap yang tujuannya agar para ilmuwan mampu mengadakan pemilihan terhadap segala sesuatu yang dihadapi.
3. Adanya rasa percaya yang layak baik terhadap kenyataan maupun alat indra serta budi.
4. Adanya sikap yang berdasar pada suatu kepercayaan dan dengan merasa pasti bahwa setiap pendapat atau teori yang terdahulu telah mencapai kepastian.
5. Adanya suatu kegiatan rutin bahwa seorang ilmuwan harus selalu tidak puas terhadap penelitian yang telah dilakukan, sehingga selalu ada dorongan untuk riset, dan riset sebagai aktivitas yang menonjol dalam hidupnya.
6. Seorang ilmuwan harus memiliki sikap etis yang selalu berkehendak untuk mengembangkan ilmu untuk kemajuan ilmu dan untuk kebahagiaan manusia, lebih khusus untuk pembangunan bangsa dan Negara.







CONTOH KASUS :
Di sebuah institusi pendidikan keperawatan X memiliki jumlah SDM dosen yang cukup dengan perbandingan antara dosen dan mahasiswa yaitu 1 : 12, kualifikasi dosen yang ada sudah memadai. Namun hasil evaluasi belajar mengajar mahasiswa yang dilakukan oleh pihak Quality assurance Institusi diperoleh temuan ;
1. prestasi belajar mahasiswa menurun
2. disiplin menurun, tugas tidak di kerjakan
3. 26 % presensi kehadiran mahasiswa kurang
Setelah dianalisa ternyata dari evaluasi dosen diperoleh hasil :
1. team work kurang
2. kinerja menurun
3. loyalitas, dedikasi menurun
4. money oriented

Masalah tersebut diatas semestinya tidak perlu terjadi. Seorang dosen yang memiliki tingkat pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya melakukan “transfer of knowledge” namun juga harus sebagai seorang pendidik yang menanamkan nilai moral dan juga menjadi role model dalm berperilaku. Fenomena diatas membuktikan bahwa SDM dosen tidak cukup dengan pendidikan yang tinggi yang mengedepankan pemikiran ilmiah saja tetapi juga harus diimbangi dengan sikap ilmiah.
Para dosen sebagai seorang yang professional dalam bidang keilmuan sudah barang tentu perlu memiliki visi moral, yaitu moral khusus sebagai ilmuwan. Moral inilah di dalam filsafat ilmu disebut juga sebagai sikap ilmiah. Sikap ilmiah harus dimiliki setiap dosen, hal ini disebabkan oleh sikap ilmiah adalah suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang bersifat obyektif. Sikap ilmiah bagi seorang dosen bukanlah membahas tujuan dari ilmu, melainkan bagaimana cara untuk mencapai suatu ilmu yang bebas dari prasangka pribadi dan dapat dipertanggungjawabkan secara social untuk melestarikan dan keseimbangan alam semesta ini, serta dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Sikap ilmiah ini yang perlu dimiliki oleh dosen. Sehingga dalam pembelajaran tidak hanya diperlukan pembelajaran science tetapi juga humaniora salah satunya adalah filsafat ilmu dan penerapannya. Pembelajaran Filsafat ini menjembati cara berfikir secara ontologis, epistemologi dan aksiologi. Ontologi : hakikat apa yang akan diajarkan, Epistemologi : cara mendapatkan pengetahuan yang benar dengan mengajarkan materi yang benar, Aksiologi : nilai kegunaan ilmu yang diajarkan kepada mahasiswa. Harapannya SDM dapat berubah menjadi manusia yang termasuk “ Tahu di tahunya dan tahu di tidaktahunya” .




BAB 3
KESIMPULAN

Filsafat adalah pengetahuan yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan manusia secara kritis. Filsafat disebut juga ilmu pengetahuan yang mencari hakekat dari berbagai fenomena kehidupan manusia. Filsafat adalah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan (realitas). Filsafat merupakan refleksi rasional (fikir) atas keseluruhan realitas untuk mencapai hakikat (= kebenaran) dan memperoleh hikmat (= kebijaksanaan).
Bicara tentang sumber daya manusia tentu tidak lepas dari manusia-nya itu sendiri beserta dengan atribut-atribut uniknya mulai dari aspek fisik hingga aspek psikologis. Satu hal yang paling menonjol dari manusia adalah makhluk yang komunal, dimana setiap individu selalu membutuhkan individu yang lain untuk saling berinteraksi
Adanya aspek-aspek lahiriah, psikologis dan rohaniah mengisyaratkan bahwa manusia dalam fenomena (situasi) pekerjaan adalah paduan antara manusia sebagai sebagai fakta dan manusia sebagai nilai.
Para ilmuwan sebagai seorang yang professional dalam bidang keilmuan sudah barang tentu perlu memiliki visi moral, yaitu moral khusus sebagai ilmuwan. Moral inilah di dalam filsafat ilmu disebut juga sebagai sikap ilmiah. Sikap ilmiah harus dimiliki setiap ilmuwan, hal ini disebabkan oleh sikap ilmiah adalah suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang bersifat obyektif. Sikap ilmiah bagi seorang ilmuwan bukanlah membahas tujuan dari ilmu, melainkan bagaimana cara untuk mencapai suatu ilmu yang bebas dari prasangka pribadi dan dapat dipertanggungjawabkan secara social untuk melestarikan dan keseimbangan alam semesta ini, serta dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Sikap ilmiah yang perlu dimiliki para ilmuwan menurut Abbas Hamami M.,1996 sedikitnya ada enam yaitu sebagai berikut :
Tidak ada rasa pamrih
2. Bersikap selektif
3. Adanya rasa percaya yang layak baik terhadap kenyataan maupun alat indra serta budi.
4. Adanya sikap yang berdasar pada suatu kepercayaan dan dengan merasa pasti bahwa setiap pendapat atau teori yang terdahulu telah mencapai kepastian.
5. Adanya suatu kegiatan rutin bahwa seorang ilmuwan harus selalu tidak puas terhadap penelitian yang telah dilakukan
6. Seorang ilmuwan harus memiliki sikap etis yang selalu berkehendak untuk mengembangkan ilmu untuk kemajuan ilmu dan untuk kebahagiaan manusia, lebih khusus untuk pembangunan bangsa dan Negara.
BAB 4
PERSPEKTIF

Demikian pula dalam keperawatan, keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio, psiko, sosio, spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Pelayanan keperawatan merupakan bantuan yang diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemauan menuju kepada kemampuan melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri.
Dalam keperawatan pelayanan yang kita berikan adalah jasa kepada klien yaitu individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. Berbekal pembelajaran filsafat akan terbentuk sikap ilmiah dan moral dalam diri perawat sehingga akan menyempurnakan sikap ilmiah dan moral perawat. Bukan lagi salary atau income yang diperoleh yang menjadi focus utama melainkan bagaimana memberikan pelayanan yang terbaik kepada klien

DAFTAR PUSTAKA

Frans Magnis, Suseno, 1992. Filsafat sebagai Ilmu Kritis. Kanisius : Yogyakarta

Pitono Soeparto, dkk, 2007. Filsafat Ilmu Kedokteran. Gramik FK Unair : Surabaya

Ahmad Tafsir, 2006. Filsafat Ilmu : Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan, PT Remaja Rosdakarya : Bandung

Soetriono, Rita Hanafie. 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, C.V. Andi Offset : Yogyakarta

Soerajiyo, 2007. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Bumi Aksara : Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar