Rabu, 22 Desember 2010

makalah filsafat ilmu tentang pengetahuan dan ilmu pengetahuan

BAB III
FILSAFAT ILMU



Pada bab ini akan dibahas tentang pengertian filsafat ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan, serta persamaan dan perbedaan yang mendasar tentang keduanya dengan filsafat. Selain itu juga akan dikaji tentang cara kerja ilmu empiris yang sifatnya induktif, cara kerja ilmu deduktif dan ilmu-ilmu kemanusiaan. Pengenalan tentang berbagai bentuk pengetahuan dan ilmu pengetahuan sangatlah berguna terutama dalam menentukan dasar seseorang dalam memasuki dunia ilmu pengetahuan atau dunia ilmiah.
3.1 PENGETAHUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
3.1.1 Pengertian Pengetahuan
Bagi manusia hal utama yang sangat penting bagi dirinya adalah keingintahuan tentang sesuatu. Sesuatu itu dapat berupa apa saja, sesuatu yang tampak konkret, nyata seperti meja, kursi, teman, alat-alat kedokteran, buku ,dan lain sebagainya. Baginya apa yang nampak dan diketahuinya akan menjadi sebuah pengetahuan, yang sebelumnya belum pernah dikenalnya. Untuk mendapatkan pengetahuan itu, maka pengenalan akan pengalaman indrawi sangat menentukan. Seseorang dapat membuktikan secara indrawi, secara konkret, secara faktual, dan bahkan ada saksi yang mengatakan, bahwa benda itu, misalnya kursi, memang benar ada dan berada di ruang kerja seseorang. Dengan pembuktian secara indrawi: karena sentuhan, penglihatan, pendengaran, penciuman, daya pengecap, dan argumen-argumen yang menguatkannya, maka sebenarnya telah muncul suatu kebenaran tentang pengetahuan itu. Bagaimana sebenarnya pengetahuan berasal? Pengetahuan muncul karena adanya gejala. Gejala-gejala yang melekat pada sesuatu misalnya bercak-bercak merah pada kulit tubuh manusia, aroma bau tertentu karena seseorang sedang membakar sate ayam, bau yang menyengat karena sudah lama got itu tidak dibersihkan, semua gejala itu muncul dihadapan kita. Kita harus “menangkap” gejala itu atas dasar pengamatan indrawi, observasi yang cermat, secara empiris dan rasional. Pengetahuan yang lebih menekankan adanya pengamatan dan pengalaman indrawi dikenal sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Selain telah mengenal adanya pengetahuan yang bersifat empiris, maka pengetahuan empiris tersebut harus dideskripsikan, sehingga kemudian kita mengenal adanya pengetahuan deskriptif. Pengetahuan deskriptif muncul bila seseorang dapat melukiskan, menggambarkan segala ciri, sifat, gejala yang nampak olehnya, dan penggambaran tersebut atas dasar kebenaran (objektivitas) dari berbagai hal yang diamatinya itu.
Pengalaman pribadi manusia tentang sesuatu dan terjadi berulang kali juga dapat membentuk suatu pengetahuan baginya. Sebagai contoh, Ani merasa bahwa ia akan terlambat kuliah di kampus (kuliah di mulai pukul 9 pagi) apabila berangkat dari rumah pukul 7.30 pagi, karena perjalanan ke kampus membutuhkan waktu 2 jam. Selama ini ia sering terlambat masuk kuliah karena berangkat dari rumah pukul 7.30 pagi. Untuk itu ia telah berpikir dan memutuskan bahwa setiap hari ia harus berangkat pukul 6.30 agar tidak terlambat di kampus. Contoh tersebut menunjukkan bahwa pemikiran manusia atau kesadaran manusia dapat dianggap juga sebagai sumber pengetahuan dalam upaya mencari pengetahuan. Selain pengamatan yang konkret atau empiris, kekuatan akal budi sangatlah menunjang. Kekuatan akal budi yang kemudian dikenal sebagai rasionalisme, (yaitu pandangan yang bertitik tolak pada kekuatan akal budi) lebih menekankan adanya pengetahuan yang sifatnya apriori, suatu pengetahuan yang tidak menekankan pada pengalaman. Matematika dan logika adalah hasil dari akal budi, bukan dari pengalaman. Sebagai contoh, dalam logika muncul pertanyaan: “jika benda A tidak ada, maka dalam waktu yang bersamaan, benda itu, A tidak dapat hadir di sini”, dalam matematika, perhitungan 2+2=4, penjumlahan itu sebagai sesuatu yang pasti dan sangat logis.
3.1.2 Pengertian Ilmu Pengetahuan
Sebuah pernyataan yang muncul dibenak setiap orang, sebenarnya ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah itu apa? Apakah ada perbedaan antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan? Untuk menjawab hal itu perlulah kita mengulasnya dengan cermat. Ilmu pengetahuan muncul karena adanya pengalaman manusia ketika ia mendapatkan pengetahuan tertentu melalui proses yang khusus. Sebuah cerita tentang Newton, bagaimana ia menemukan teori gravitasi dalam ilmu fisika bermula ketika ia merasakan sesuatu, yaitu apel yang jatuh dan menimpa kepalanya saat sedang duduk di bawah pohon apel. Pengalaman tentang sesuatu itulah yang menyebabkan orang kemudian berpikir dan berpikir lebih lanjut tentang sebab peristiwa tersebut. Berkat ketekunan, kesabaran, keingintahuan serta didukung dengan kepandaian dan intelegensi yang memadai dan daya kreativitas yang tinggi seseorang dapat menciptakan teori-teori atau hukum atau dalil dan teori-teori tersebut agar dapat diterapkan bagi kepentingan umat manusia. Munculnya teknologi atau hasil dari ilmu pengetahuan (berupa benda-benda di sekeliling manusia seperti misalnya mobil, pesawat terbang, kereta api, komputer, telpon selular, dan sebagainya), dari masa ke masa telah menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memang mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Tetapi pengalaman yang bersifat indrawi belumlah cukup untuk menghasilkan ilmu pengetahuan. Pengalaman indrawi tersebut harus mengalami proses ilmiah yang lebih lanjut, dan hal ini dikenal sebagai proses metodologis. Proses metodologis adalah suatu proses kerja di dalam kegiatan ilmiah (misalnya dapat berada dalam suatu laboratorium) untuk mengolah gejala-gejala pengetahuan dan bertujuan mendapatkan kebenaran dari gejala-gejala tersebut. Untuk itulah di dalam setiap proses metodologis atau proses kegiatan ilmiah, observasi atau pengamatan yang cermat terhadap objek penelitian haruslah diperhatikan dengan benar. Pengamatan secara empiris atau indrawi yang didukung dengan alat bantu tertentu seperti misalnya mikroskop, tape recorder atau kuesioner sangat membantu bagi seorang peneliti dalam mencari dan menemukan fakta penelitiannya. Hasil dari ilmu pengetahuan yang mendasarkan pada pengamatan indrawi dan faktual disebut sebagai ilmu pengetahuan empris. Ini berarti bahwa ilmu empiris bergantung pada objek penelitian yang sangat konkret dan terlihat, tersentuh, terdengar dan tercium oleh panca indra manusia. Di sisi lain, ilmu pengetahuan haruslah dapat dilukiskan, digambarkan, diuraikan secara tertulis tentang segala ciri-ciri, sifat maupun bentuk dari gejala-gejalanya, dan ilmu pengetahuan semacam itu disebut sebagai ilmu pengetahuan deskriptif. Contoh ilmu empiris adalah antara lain: ilmu kedokteran, antropologi, arkeologi, ilmu teknik, biologi, ilmu kimia, ilmu fisika, sedang contoh ilmu deskriptif adalah antara lain: ilmu filsafat, susastra, ilmu kedokteran, biologi, ilmu keperawatan, sosiologi, antropologi, dan sebagainya.
Bagi seorang ilmuwan lingkup ilmiah sangat mendukung dalam proses penelitiannya. Lingkup ilmiah tersebut haruslah sangat dikenal dan diakrabinya. Ia harus mengenal tentang langkah-langkah dalam kegiatan penelitiannya atau istilah teknis dalam kegiatan penelitian. Ia harus dapat berpikir logis, runtut dalam setiap langkah ataupun tahapan dalam setiap penelitiannya. Tahapan penelitian atau cara kerja ilmiah lazimnya dilalui dengan proses penalaran yang meliputi , misalnya :
a). Observasi yaitu pengamatan terhadap objek penelitian yang sifatnya konkret seperti manusia, bangunan, monumen, tumbuh-tumbuhan, penyakit dan sebagainya dan objek penelitian tersebut merupakan fenomena bagi penelitian seseorang atau peneliti.
b). Fakta yaitu suatu realitas yang dihadapi seorang peneliti, sesuatu yang saya lihat atau sesuatu tentang apa yang terjadi yang berkaitan dengan gejala dalam fenomena seseorang.
c). Data yaitu hasil atau sejumlah besaran atau kuantitas yang berasal dari fakta yang telah ditemukan oleh si peneliti. Di dalam data inilah seorang peneliti telah menemukan gejala yang lebih bersifat kuantitatif dan konkret/faktual dari objek penelitiannya, misalnya jumlah rumah sakit swasta yang ada di DKI Jakarta ada 30 buah; penderita diabetes mellitus pada Puskesmas Rawamangun pada bulan Maret 2006 berjumlah 10 orang, dan sebagainya.
d). Konsep merupakan pengertian atau pemahaman tentang sesuatu (yang berasal dari fakta), dan pemahaman itu berada pada akal budi atau rasio manusia. Konsep selalu dipikirkan oleh manusia, dan oleh karenanya menjadi pemikiran manusia. Bagi seseorang atau peneliti yang memiliki konsep tertentu atau konsep tentang sesuatu maka konsep tersebut harus dituliskan agar dapat dipahami oleh orang lain.
e) Klasifikasi atau penggolongan atau kategori adalah mengelompokkan gejala atau data penelitian ke dalam kelas-kelas atau penggolongan ataupun kategori atas dasar kriteria-kriteria tertentu. Syarat klasifikasi atau penggolongan ataupun kategori haruslah memiliki ciri, sifat yang homogen atau sama. Apabila ciri, sifat dari gejala itu tidak sama, maka klasifikasi dari suatu gejala atau data penelitian tersebut tidak menunjukkan kadar ilmiah yang benar.
f) Definisi yaitu merumuskan tentang sesuatu atau apa yang disebut (definiendum) dengan perumusan tertentu atau apa yang dinamakan (definiens). Definisi membantu seorang peneliti atau ilmuwan untuk merumuskan tentang sesuatu/ hal itu agar orang lain lebih mudah memahami perumusan tersebut. Untuk itu ada beberapa jenis definisi yang dijelaskan sebagai berikut :
(1). Definisi etimologis yaitu menjelaskan sesuatu atas dasar asal katanya. Misalnya kata biologi berasal dari bahasa Yunani (bios dan logos), yang artinya ilmu yang mempelajari tentang mahluk hidup
(2). Definisi stipulatif adalah merumuskan sesuatu atau istilah tertentu yang akan digunakan untuk masa depan. Pengertian masa depan adalah suatu pengerti-an yang diarahkan pada kegiatan seminar, ceramah, isi buku dan dalam kegiatan ilmiah tertentu istilah-istilah yang baru dimunculkan.
(3). Definisi deskriptif merumuskan tentang sesuatu atas dasar sejarah, ciri, sifat, kriteria-kriteria yang ada pada sesuatu atau gejala-gejala itu.
(4). Definisi operasional merumuskan tentang pelaksanaan atau cara kerja dari fungsi dan peran gejala, alat atau benda tertentu. Definisi operasional lazim digunakan dalam ilmu teknik, ilmu pengetahuan kealaman.
(5). Definisi persuasif merumuskan sesuatu dengan tujuan agar rumusan tersebut dapat mempengaruhi pemikiran seseorang. Definisi persuasif sering dipakai dalam kegiatan periklanan yang ditayangkan dalam media elektronik maupun media cetak, kegiatan kampanye politik dan sebagainya.
Definisi yang telah disebutkan di atas ternyata harus dipahami bahwa setiap perumusan definisi selalu menggunakan pernyataan bahasa. Bagi ilmu pengetahuan maka bahasa memegang peran penting, karena dapat mengungkapkan segala kegiatan penelitian seorang ilmuwan baik itu secara lisan maupun tertulis. Terutama dalah bahasa tulisan, maka bahasa ilmiah (bahasa ilmu) yaitu bahasa yang digunakan seorang ilmuwan dalam penelitiannya sangatlah penting karena segala upaya pembenaran metodologisnya berada di dalamnya seperti penjelasan dalam perumusan hipotesa, konsep, definisi, teori dan sebagainya.
Langkah proses penalaran pada penelitian berikutnya yaitu:
g). Hipotesa adalah suatu ramalan atau prediksi dalam kegiatan penelitian yang harus dibuktikan kebenarannya. Dalam hipotesa tersebut, perumusan masalah sangatlah penting. Seorang peneliti harus mampu merumuskan permasalaan penelitian dengan cermat dan teliti. Dan atas dasar hipotesa tersebut, maka ilmuwan atau peneliti akan menganalisanya lebih lanjut.
h). Teori adalah hubungan yang sedemikian rupa antara gejala satu dengan gejala lainnya dan hubungan tersebut telah dibuktikan kebenarannya. Sebenarnya, teori yang telah teruji kebenarannya berasal dari hipotesa yang telah ada (yang sebenarnya berasal dari kerja keras si ilmuwan, usaha yang tak mengenal lelah dan selalu melakukan trial dan error, uji coba dan pada akhirnya si ilmuwan itu membuahkan hasil teori yang sahih).
3.1.3 Cara Kerja Ilmu Empiris
a). Pengertian Ilmu Empiris
Ilmu Empiris adalah ilmu yang bertitik tolak pada pengalaman indrawi. Pengalaman indrawi diartikan sebagai sentuhan, penglihatan, penciuman, pengecapan seseorang terhadap sesuatu yang diamatinya. Dengan demikian pengalaman indrawi dari seorang ilmuwan berkaitan dengan objek penelitian yang sifatnya sangat konkret, faktual. Dalam pengamatan atau observasi terhadap objek tersebut, seorang peneliti atau ilmuwan atau mahasiswa dapat menggunakan sarana untuk menunjang pengamatannya itu. Sarana itu dapat berupa alat-alat seperti mikroskop, teleskop, thermometer, neraca ataupun alat-alat pengukur lainnya. Tujuan pengamatan untuk memperoleh ataupun menangkap semua gejala terhadap semua objek yang diamatinya serta menjelaskan dengan benar. Hasil dari pengamatan itu berupa data awal yang harus dicatat dengan cermat, yang kelak akan sangat berguna bagi analisis sebuah penelitian.
b). Objek Ilmu Empiris
Ilmu empiris memiliki objek yang dapat dibedakan dari dua aspek, yaitu objek materi dan objek formal. Objek materi berupa apa saja yang dapat dimati oleh manusia, seperti alam semesta, mahluk hidup di dunia ini, dan manusia. Objek forma adalah pokok perhatian seseorang terhadap sesuatu yang menjadi minatnya yang sangat khusus. Objek forma atau aspek yang khusus dalam ilmu empiris dapat berupa misalnya minat yang sangat tinggi tentang kesehatan manusia, tentang pertumbuhan dan perkembangan dari tumbuh-tumbuhan, dari hewan, serta adat istiadat suatu bangsa/masyarakat tertentu. Dari hasil objek forma yang beraneka ragam itulah memunculkan ilmu-ilmu tertentu yang sifatnya empiris, misalnya ilmu kedokteran, biologi, ilmu teknik, botani, zoologi, antropologi, ilmu sosial.
c). Pendekatan atau Metode Ilmu Empiris
Pendekatan atau metode merupakan cara seorang ilmuwan atau peneliti atau mahasiswa mendapatkan data saat ia sedang melakukan pengamatan. Lazimnya di dalam ilmu empiris seorang ilmuwan atau mahasiswa menggunakan pendekatan atau metode induktif. Metode induktif adalah sebuah metode yang digunakan dalam ilmu empiris yang mencoba menarik kesimpulan dari penalaran yang bersifat khusus untuk sampai pada penalaran yang umum sifatnya. Pada penalaran yang sifatnya khusus itu, seorang pengamat akan mengamati beberapa hal atau sesuatu yang memiliki ciri-ciri yang khusus. Sebagai contoh, saat Toby melihat buah jeruk yang diletakkan di dalam sebuah keranjang, ia melihat bahwa keduapuluh jeruk itu berwarna kuning dan bentuknya bulat. Atas dasar itulah Toby menyimpulkan bahwa jeruk (yang berjumlah 20) yang berada di dalam keranjang semuanya berwarna kuning dan bentuknya bulat. Metode induksi berguna bagi ilmu empiris karena mendasarkan pada pengamatan faktual dan dipakai sebagai landasan berpijak pada ilmu empiris.
3.1.4 Cara Kerja Ilmu-ilmu Deduktif
a). Pengertian Ilmu Deduktif
Ilmu deduktif adalah ilmu pengetahuan yang membuktikan kebenaran ilmiahnya melalui penjabaran-penjabaran (=deduksi). Berbeda dengan ilmu empiris yang mendasarkan atas pengalaman indrawi, maka penjabaran-penjabaran itu melalui penalaran yang berdasarkan hukum-hukum serta norma- norma yang bersifat logis. Dari hukum-hukum serta norma-norma logis memunculkan suatu penalaran yang mencoba membuktikan sesuatu atas dasar perhitungan yang sangat pasti. Dengan demikian dalam ilmu deduktif terdapat suatu penalaran yang diperoleh dari kesimpulan yang bersifat umum untuk menuju ke penalaran yang bersifat khusus.
Ilmu-ilmu deduktif dikenal sebagai ilmu matematik. Penalaran yang deduktif diperoleh dari penjabaran dalil-dalil, atau rumus-rumus yang tidak dibuktikan kebenarannya melalui penyelidikan empiris, melainkan melalui penjabaran dalil-dalil yang telah ada sebelumnya. Suatu dalil atau rumus mate-matika dibuktikan kebenarannya berdasarkan dalil-dalil yang telah ada atau dalil lain, berdasarkan suatu perhitungan/hitung-menghitung, ukur-mengukur, timbang-menimbang, bukan atas dasar observasi. Dalam membuktikan kebenaran itulah kita mengenal adanya, pada awalnya aritmatika, matematika, goniometri, ilmu ukur dan sebagainya. Asas matematika hanya mengenal “logika dua nilai” (“two value logic”) yaitu benar dan tidak benar (salah). Contoh yang sederhana adal dua ditambah dua adalah empat. Itu berarti penjumlahan tersebut memiliki nilai benar. Apabila kita mengatakan bahwa tiga dikalikan empat hasilnya lima belas, maka hasil itu dikatakan tidak benar (salah).
b). Objek Ilmu Deduktif
Objek pada ilmu deduktif adalah angka atau bilangan yang mungkin jumlahnya satu atau lebih dari satu, yang kemudian dikenal dengan himpunan atau semacam deret. Objek tersebut sebenarnya sebagai sebuah lambang atau simbol yang digunakan sebagai relasi antar objek. Kita mengenal angka romawi (I, II, IV dan seterusnya) atau angka-angka yang lazim dikenal sebagai : 1, 2, 3, dan seterusnya, dan semuanya itu merupakan sebuah simbol atau lambang yang telah dikenal dan diakrabi oleh kita semua. Selain itu dikenal juga simbol dalam bentuk lain seperti: +, -, >, <, , % dan sebagainya. Pemakaian simbol-simbol dalam ilmu deduktif berguna agar validitas atau keabsahan dari pembuktian penjabaran-penjabaran dalil atau axioma atau rumus terbukti tidak salah dan dianggap benar.
3.1.5 Cara Kerja Ilmu-ilmu Empiris Yang Lebih Khusus: Ilmu Alam, Ilmu Hayat dan Ilmu-Ilmu Tentang Manusia
a). Cara Kerja Ilmu Alam
1) Pengertian Tentang Ilmu Alam
Ilmu alam adalah ilmu yang membahas tentang gejala-gejala alam (gejala alam yang tidak hidup). Sifat ilmu alam adalah empiris, artinya gejala alam itu dianggap sebagai fenomena yang dapat dibuktikan secara indrawi, dan konkret. Contoh Ilmu-ilmu alam adalah geologi, astronomi, hidrologi, ilmu kimia, fisika, meteorologi, geodesi.
2) Sifat Ilmu Alam
Adanya praanggapan bahwa ada hukum alam, yang dapat dikenakan pada seluruh gejala alam. Sifat hukum alam memiliki ciri kuantitatif, suatu ciri yang melekat pada gejala alam yang muncul di masa lalu maupun di masa yang akan datang. Ciri kuantitatif merujuk pada kenyataan bahwa gejala alam memiliki besaran tertentu dan karenanya dapat dihitung, diukur secara matematis. Selain itu hukum alam memiliki sifat mekanistis, yaitu sifat keteraturan yang melekat pada gejala alam dan sifat keteraturan itu berjalan secara berkala serta memiliki siklus tertentu.
3) Pendekatan atau Metode Ilmu-ilmu Alam
Pertama, melalui metode observasi atau pengamatan melalui panca indra manusia serta didukung oleh alat tertentu, alat yang dioperasionalkan untuk menunjang pengamatan tersebut. Kedua, metode deskripsi yang bertujuan untuk melukiskan, menggambarkan tentang gejala alam serta interaksi di antara gejala-gejala alam tersebut. Ketiga, metode erklaeren atau metode eksplanasi, adalah metode untuk menerangkan tentang berbagai hubungan gejala alam itu satu dengan yang lainnya. Keempat, metode kausalitas, yaitu metode yang mencoba menjelaskan gejala alam atas dasar hubungan sebab akibat.
b). Cara Kerja Ilmu Hayat
1) Pengertian Ilmu Hayat
Ilmu hayat adalah ilmu pengetahuan yang membahas gejala alam yang bersifat hidup, atau memiliki sifat kehidupan. Sifat ilmu hayat adalah empiris, artinya gejala alam yang dianggap hidup dapat diamati secara indrawi atau faktual, nyata. Contoh pada ilmu hayat adalah ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu hewan (zoologi)
2) Sifat Ilmu Hayat
Ilmu hayat memiliki organ-organ yang dapat tumbuh, mati, berkembang biak. Setiap organ dapat memiliki sel, jaringan yang membentuk suatu sistem yang memiliki nama, fungsi, peran/tugas, kegunaan serta tujuan tertentu. Sebagai suatu sistem yang baik, maka setiap organ itu memiliki daya-daya hidup saling melengkapi, saling menunjang sehingga sistem itu berjalan dengan sempurna.
3) Pendekatan atau Metode Ilmu-ilmu Hayat
Pertama, metode kausal yang berguna untuk melihat hubungan sebab akibat yang berasal dari hubungan atau interaksi antar organ. Di dalam hubungan kausalitas itu sebenarnya terdapat semacam “informasi” di antara masing-masing organ, sehingga memungkinkan organ itu berproses swakendali atau disebut sebagai proses sibernetik. Proses sibernatik merupakan proses yang dikendalikan oleh adanya informasi umpan balik dari organ-organ yang berjalan secara teratur (mekanistis). Proses umpan balik tersebut diartikan sebagai hubungan timbal balik di antara organisme. Sebagai contoh, daun mangga ketika masih tunas (kecil) berwarna hijau muda, ketika tumbuh menjadi lebih besar berwarna hijau tua, dan ketika daun itu mati berwarna kekuningan dan setelah mengering, maka daun itu gugur. Selama pohon mangga itu masih hidup, maka terulang proses pertumbuhan daun itu. dari tunas daun hingga daun berwarna hijau tua kemudian kekuningan dan proses tersebut disebut sebagai proses sibernetik (proses swakendali), Sementara itu karena adanya asupan informasi masing-masing organisme melalui sel fotografik maka proses itu dapat berjalan dan berlangsung secara teratur dan berkala.
Kedua, metode mekanistis, yaitu metode yang memunculkan adanya keteraturan tentang sistem yang berlaku pada gejala atau daya-daya hidup dari organisme. Metode mekanistis memiliki tujuan tertentu yang disebut sebagai tujuan finalis (tujuan akhir) agar sistem organisme berjalan dengan sempurna.
Ketiga, metode genetik, yaitu metode yang mengkaji tentang penelusuran secara historis bagaimana terjadinya sebuah organ, sel ataupun jaringan tertentu.
Keempat, metode fungsional, yaitu metode yang melihat bahwa masing-masing organisme itu memiliki fungsi tertentu yang memungkinkan sistem organ itu berjalan dengan teratur dan baik.
c). Cara Kerja Ilmu-ilmu Kemanusian
1) Pengertian Ilmu-ilmu Kemanusiaan
Ilmu-ilmu kemanusiaan adalah ilmu yang mengkaji masalah kemanusiaan seperti masalah: budaya, sosial, politik, ekonomi, yang terdapat pada masyarakat. Ilmu-ilmu kemanusiaan memiliki objek kajian yang diamati secara empiris dan objek itu dianggap kongkret karena masalah kemanusiaan itu memiliki objek yang khusus yaitu manusia atau masyarakat tertentu. Contoh ilmu-ilmu kemanusiaan adalah antropologi, ilmu susastra, ilmu arkeologi, ilmu sejarah, ilmu sosial, ilmu ekonomi.
2) Sifat Ilmu-ilmu Kemanusiaan
Sifat yang paling menonjol pada ilmu-ilmu kemanusiaan adalah objeknya berkaitan dengan manusia yang memiliki tindakan bermakna (meaningfull action). Di dalam tindakan (perilaku) bermakna manusia atau seseorang manghasilkan karya-karya tertantu misalnya karya sastra seperti Romeo dan Juliet karya William Shakespeare dari Inggris, karya seni seperti tari Pendet, lukisan yang termashur yaitu Monalisa karya Michelangelo. Untuk itulah apabila ingin mengkaji ilmu-ilmu kemanusiaan dengan lebih mendalam haruslah digunakan metode yang tepat, agar objektivitas dan kebenaran ilmiahnya dapat terungkap dengan benar dan sahih.
3) Pendekatan atau Metode Ilmu-ilmu Kemanusiaan
Metode yang sangat mendasar pada ilmu-ilmu kemanusiaan adalah metode pemahaman (methode verstehen). Metode pemahaman digunakan untuk memahami, meyakini tindakan-tindakan manusia ketika ia melakukan suatu karya seni ataupun terlibat dalam peristiwa sejarah, misalnya jatuhnya pemerintahan Orde Baru di Indonesia pada tahun 1998. Di dalam metode pemahaman digunakan metode wawancara mendalam (depth intervieuw), yang bertujuan untuk memahami dengan lebih baik dan mendalam tentang para pelaku budaya yang terlibat, misalnya pada peristiwa sejarah ataupun saat membuat karya seni. Metode yang lain adalah metode deskripsi, yaitu metode yang digunakan oleh para peneliti untuk mencatat, melukiskan dan menggambarkan tentang seluruh sifat dan karakteristik dari objek penelitiannya.
Pada awalnya ilmu-ilmu kemanusiaan hanya menggunakan metode kualitatif, yaitu metode yang bertitik tolak pada nilai-nilai (value) kemanusiaan (nilai moral, nilai budaya, nilai agama, nilai estetis/keindahan, dan sebagainya) dalam menganalisis data penelitiannya. Tetapi dengan perkembangan dan demi kemajuan ilmu itu, maka ilmu-ilmu kemanusiaan di awal abad XX dan sampai saat ini telah menggabungkan metode statistik ke dalam penelitiannya. Sebagai contoh, di dalam penelitian pada psikologi, ilmu sosial, serta ilmu ekonomi, mereka telah menggunakan metode statistik dalam mengolah data penelitiannya.

3.2 REVOLUSI ILMU PENGETAHUAN
Apa yang hendak kita ketahui tentang revolusi ilmu pengetahuan? Apakah revolusi semacam itu memiliki kegunaan bagi kita? Sebenarnya revolusi macam apakah itu? Jawaban ini membutuhkan penjelasan yang cukup cermat. Revolusi ilmu pengetahuan muncul di Eropa sekitar Abad XVII. Pada masa itu Eropa dilanda krisis kehidupan yang cukup berat.
Banyaknya pengangguran, kehidupan perekonomian yang tidak menguntungkan sebagian rakyat jelata dan kehidupan kenegaraan feodalisme yang sangat materialistis kapitalis menumbuhkan berbagai gejolak pada bangsa Eropa. Berbagai revolusi ditemui dalam sejarah perjalanan bangsa Eropa, seperti Revolusi Industri, Revolusi Pertanian, Revolusi Perancis, serta Revolusi Ilmu Pengetahuan.
Revolusi ilmu pengetahuan adalah suatu revolusi yang terjadi di Eropa pada abad XVII. Revolusi itu menandai bangkitnya kelompok intelektual bangsa Eropa mengenai cara berpikir keilmiahan. Sebenarnya apa arti revolusi ilmu pengetahuan itu bagi kita sekarang? Yang diartikan sebagai reolusi ilmu pengetahuan adalah sebuah revolusi tentang perubahan cara berpikir serta persepsi manusia dalam mendapatkan pengetahuan bagi dirinya. Perubahan persepsi manusia tersebut adalah tentang bagaimana cara berada sebuah objek yang menjadi pokok perhatian dalam kegiatan ilmiahnya. Sebuah objek (misalnya benda) dalam penelitian haruslah berada dan tampil di depan seorang mahasiswa atau peneliti secara nyata, konkret. Benda tersebut tampil secara konkret karena adanya persentuhan indrawi si peneliti atau mahasiswa terhadap benda tersebut. Selain itu benda tersebut dapat diukur dan terukur secara matematis, sehingga orang dapat mengamati tentang berat, gerak, atau perubahan yang terjadi pada benda tersebut.
Revolusi ilmu pengetahuan adalah perubahan cara berpikir masyarakat intelektual Eropa dari cara berpikir yang ontologis ke cara berpikir matematis mekanistis. Cara berpikir ontologis adalah warisan yang ditinggalkan bangsa Eropa ketika Abad atau Masa Pertengahan (Middle Ages) diberlakukan hukum agama bagi segala-galanya, termasuk kegiatan ilmu pengetahuan. Dunia yang dialami manusia beserta pengetahuan yang dimilikinya merupakan keberadaan secara apa adanya (natura), alamiah yang memang itu milik manusia. Keadaan itu berlangsung cukup lama, hingga muncul Abad Renaissance yang mengubah segalanya. Manusia tidak lagi menjadi citra Tuhan, tetapi manusia memiliki rasio atau kesadaran manusia (akal budi) serta kreativitas keinginan untuk maju, memperbaiki kebudayaan manusia.
Dunia manusia dan pengetahuannya adalah dunia antroposentris, dunia yang terpusat pada "kekuataan" akal budi manusia. Pada masa Renaissance dibangun kejayaan bangsa Eropa, yaitu mulai dipelajarinya pengetahuan yang berlandaskan rasionalitas dan empiristis. Berbagai peninggalan bangunan, yang megah seperti karya seni (seni lukis, pahat dan arsitektur) yang berada di daratan Eropa menandai bangkitnya bangsa Eropa untuk menguasai dunia seni maupun ilmu pengetahuan. Tokoh-tokoh pembaharu Humanis Renaissance, seperti Leonardo da Vinci, Michelangelo. N. Copernicus, J. Keppler dan Galileo Galilei sangatlah termashur dengan karya-karya seni dan penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Fenomena alam, sosial budaya dipelajari, diamati secara cermat untuk kemudian dimanfaatkannya. Dari upaya yang cukup lama dan tak kenal lelah, maka berkembanglah ilmu-ilmu pengetahuan kealaman seperti fisika, ilmu kimia, kedokteran dan itu berkembang hingga ke Abad Aufklaerung (Abad Pencerahan), abad XVIII. Perintis ilmu fisika adalah Sir Isaac Newton yang mendasarkan fisika klasik dengan bukunya "Philosophiae Naturalis Principia Mathematica" - “Ilmu Pengetahuan Alam berdasarkan prinsip-prinsip matematis”. Sejak itulah ilmu pengetahuan berkembang pesat dengan pendekatan matematis yang diterapkan dalam kajiannya.
Cara berpikir matematis mekanistis dalam revolusi ilmu pengetahuan yang dipelopori oleh Newton menjadi semacam "gaya" para intelektual untuk membuat analisis dalam penelitiannya. Pengamatan terhadap alam disekeliling para ilmuwan dilihat sebagai sesuatu yang dapat diukur, benda dianggap memiliki kriteria tertentu (berat, luas, isi dan sebagainya.). Dengan pengamatan semacam itulah, maka berbagai pendekatan terhadap cara kerja ilmu pengetahuan dikembangkan. Pendekatan yang bersifat kausalitas (hukum sebab akibat) sangat mewamai cara kerja ilmu pengetahuan. Benda atau sesuatu memiliki sifat seperti alam semesta, terstruktur, sehingga keteraturan hukum alam, atau sifat mekanistis itu menjadi fokus dalam cara kerja ilmu. Cara kerja ilmiah didukung dengan percobaan atau eksperimen yang selalu berusaha menyempurnakan hasil percobaannya itu melalui usaha trial and error – uji coba. Dalam laboratorium percobaan itu didukung juga dengan sebuah “model”, suatu tiruan dari objek yang sesungguhnya, yang kemudian dijadikan sebagai objek penelitian. Dengan model itu para peneliti dapat menganalisis dan mengembangkan penelitiannya dengan lebih sempurna.
Akibat dari "perjalanan" dan proses revolusi ilmu pengeta-huan, memunculkan adanya nilai-nilai dasar yang tampil pada perubahan cara berpikir manusianya. Nilai-nilai dasar itu, pertama nilai alam. Alam semesta memiliki tata susunan yang berada pada hukum alam dan kosmos adalah sesuatu yang dianggap memiliki struktur tertentu. Kedua, nilai budaya. Kemajuan manusia ditandai dengan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang dapat digunakan untuk memajukan kebudayaan manusia. Dengan kemajuan manusia terutama dalam cara berpikir yang antroposentris, manusia mampu mengubah kebudayaannya dan teknologinya menjadi sesuatu yang sangat berarti dan bermakna bagi kehidupan manusia melalui proses belajar. Ketiga, nilai ekonomi. Nilai ini tercipta karena para pelaku revolusi ilmu pengetahuan memiliki semangat kerja yang tinggi. Para ilmuwan mulai menciptakan teknologi yang tepat guna bagi kebutuhan masyarakat, sehingga diciptakan mesin untuk mengisi kebutuhan kehidupan manusia dalam berbagai sektor industri. Pada awalnya industri mula-mula berasal dari kerja rumahan (industri rumahan) hingga ke industri pabrikasi. Hasil atau barang yang diciptakan berkat adanya mesin-mesin (industri pabrikasi) tersebut dan mampu menembus pasaran dengan daya jual yang tinggi. Dengan demikian tercipta adanya nilai ekonomis yang menuntut kemandirian, tanggung jawab serta kerjasama diantara para pelaku tersebut agar nilai ekonomis dapat dimanfaatkan tidak hanya bagi sekelompok orang saja tapi seluruh masyarakat.
3.3 PENGERTIAN FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
3.3.1 Kedudukan Filsafat Ilmu
Filsafat Ilmu atau Filsafat Ilmu Pengetahuan berasal dari tradisi Filsafat Barat. Sejak sekitar abad XIX dan diper-kenalkan oleh sekelompok ahli ilmu pengetahuan kealaman yang berasal dari universitas Wina, maka Filsafat Ilmu menjadi mata ajaran dari universitas tersebut. Para ahli ilmu pengetahuan kealaman yang berasal dari berbagai disiplin ilmu (ilmu kimia, fisika, matematika) antara lain Morits Schlick, Hans Hahn, Hans Reichenbach memberikan sumbangan yang besar dalam awal perkembangan filsafat ilmu. Mereka itu, dan dipelopori oleh Moritz Schlick tergabung dalam kelompok diskusi ilmiah, yang kemudian dikenal sebagai "Lingkaran Wina" (Viena Circle). Kelompok atau lingkaran Wina menginginkan bahwa di dalam ilmu pengetahuan terdapat unsur pemersatu. Unsur pemersatu haruslah bertitik tolak pada bahasa ilmiah dan cara kerja ilmiah yang pasti dan logis. Kelompok Wina menyebutnya unsur pemersatu sebagai ilmu yang terpadu (unified sciences).
Pada saat ini, filsafat ilmu menjadi sangat berkembang, menjadi kajian filsafat ilmu yang lebih modern. Beberapa bidang keilmuan sangat membutuhkan tentang proses kerja ilmiah yang relevan dengan pokok perhatian atau fokus yang lebih spesifik. Salah satu contoh, adalah munculnya kajian tentang filsafat ilmu kedokteran, filsafat ilmu sosial. Dalam kajian tersebut fokus filsafat ilmu diarahkan pada bagaimana ciri dan cara kerja kegiatan ilmiah diterapkan pada persoalan manusia dan kesehatan atau kehidupan manusia dalam kehidupan sosial serta interaksi dengan masyarakat. Secara historis, filsafat ilmu telah diperkenalkan oleh bangsa Yunani, diawali oleh filsuf Aristoteles (abad VI seb.M). Dan dalam tradisi filsafat Barat telah dikenal pula adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema-tema tertentu. Tema-tema besar itu berupa ontologi, epistemologi dan aksiologi. Tema ontologi berbicara tentang problem "Ada", yaitu tema yang membahas masalah keberadaan tentang sesuatu, misalnya keberadaan mahluk hidup, alam semesta, yang semuanya itu merupakan keberadaan yang dapat ditangkap dan dibedakan secara empiris. Sisi lain terdapat keberadaan sesuatu yang tidak dapat ditangkap dan hadir secara empiris, atau konkret, yaitu metafisika. Metafisika (meta: di belakang, fisika: sesuatu yang konkret) adalah sebagai sesuatu yang mengkaji tentang berbagai hal seperti gagasan, idea, ataupun konsep. Gagasan ataupun konsep itu sebagai semacam prinsip yang muncul atas dasar penalaran manusia. Prinsip itu sendiri memang tidak dapat dibuktikan secara empiris, tetapi orang akan mengenal prinsip tersebut apabila diaktualisasikan melalui sebuah tulisan. Sebagai contoh, gagasan Einstein tidak akan dikenal luas oleh masyarakat ilmuwan, apabila Einstein tidak membuktikan gagasannya tanpa menuliskan gagasannya itu melalui berbagai penelitiannya yang tidak kenal lelah secara trial error (uji coba) yang kemudian dikenal sebagai teori relativitas.
Tema kedua, epistemologi yaitu tema yang mengkaji tentang pengetahuan (episteme adalah pengetahuan). Dalam pembahasan tentang epistemologi (pengetahuan) dibahas berbagai hal seperti batas pengetahuan, sumber pengetahuan, serta kriteria tentang kebenaran. Batas pengetahuan adalah pengalaman manusia dalam mengkaji sesuatu yang menjadi minat penelitiannya. Oleh karena itulah setiap ilmu pengetahuan, misalnya ilmu kedokteran dengan psikologi sangat berbeda, karena masing-masing ilmu memiliki ruang lingkup tersendiri (objek forma yang berbeda). llmu kedokteran membahas tentang masalah kesehatan manusia yang berkaitan dengan penyakit tertentu sedang psikologi membahas perilaku manusia dari aspek kejiwaannya. Sumber pengetahuan manusia adalah akal budinya. Dengan akal budinya manusia mampu untuk berpikir tentang sesuatu, memikirkan gagasan untuk menciptakan karya-karya seni ataupun teknologi, dengan akal budinya pula manusia dapat belajar, berhubungan dengan orang lain, mampu berdialog tentang apa saja dengan siapa saja. Sedang kriteria kebenaran sebagai upaya pencarian objektivitas terhadap pengenalan manusia yang bersifat empiris. Apa yang dilihat, misalnya sebuah kursi, maka kursi itu haruslah sesuai dengan kriteria kursi: memiliki kaki empat, sandaran, alas duduk, terbuat dari kayu. Atas dasar itulah maka objektivitas sebuah benda yang diamati memiliki kebenaran.
Tema ketiga, aksiologi, yaitu tema yang membahas tentang masalah nilai atau norma yang berlaku pada kehidupan manusia. Nilai diartikan sebagai sebuah penilaian tentang apa yang telah dilakukan oleh manusia dalam kaitannya dengan relasi manusia, baik atau buruknya tindakan manusia. Nilai (value) muncul dalam kehidupan manusia dalam bentuk sebagai nilai yang berada dalam sistem kemanusiaan seseorang, misalnya nilai moral/nilai etis, nilai budaya, nilai keagamaan / religius, nilai keindahan. Sebagai contoh, Tedy memiliki nilai moral yang tinggi, karena ia bekerja sebagai seorang arsitek di sebuah perusahaan kontraktor bangunan “Indah Selalu” dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi yang tinggi terhadap tugasnya. Ia tidak suka memfitnah ataupun menjelek-jelek teman sejawatnya dihadapan atasannya, agar supaya ia dapat menjadi orang kepercayaannya.
Dari uraian yang telah dijelaskan di atas, maka sampailah kita pada pemetaan atau kedudukan filsafat ilmu apabila ia diletakkan pada lingkup ilmu filsafat. Agaknya lingkup epistemologi menjadi tempat yang tepat bagi filsafat ilmu.
Filsafat ilmu membahas tentang persoalan ilmu pengetahuan dengan berbagai problematisnya, terutama yang berkaitan dengan metodologis atau pembenaran ilmiah. Dengan kata lain, ciri keilmiahan suatu ilmu pengetahuan dengan cara kerja ilmiah menjadi bahan yang dikaji dalam filsafat ilmu. Sedang epistemologi membahas tentang batas, sumber dan kebenaran pengetahuan, yang semuanya itu memerlukan kajian yang bersifat rasional. Demikian juga filsafat ilmu mengkaji ciri dan cara kerja ilmu pengetahuan berlandaskan rasionalitas atau akal budi manusia. Ini berarti bahwa jembatan rasionalitas menjadi media bagi filsafat ilmu dengan aspek epistemologi untuk menemukan kebenaran ilmiah atau validitas ilmu pengetahuan.
3.3.2 Tujuan dan Kegunaan Mempelajari Filsafat Ilmu
Tujuan mempelajari filsafat ilmu adalah (1) seseorang (peneliti, mahasiswa) dapat memahami persoalan ilmiah dengan melihat ciri dan cara kerja setiap ilmu atau penelitian ilmiah dengan cermat dan kritis. (2) seseorang (peneliti, mahasiswa) dapat melakukan pencarian kebenaran ilmiah dengan tepat dan benar dalam persoalan yang berkaitan dengan ilmunya (ilmu budaya, ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu keperawatan, ilmu hukum, ilmu sosial, ilmu ekonomi dan sebagainya) tetapi juga persoalan yang menyangkut seluruh kehidupan manusia, seperti: lingkungan hidup, peristiwa sejarah, kehidupan sosial politik dan sebagainya. (3) Seseorang (peneliti, mahasiswa) dapat memahami bahwa terdapat dampak kegiatan ilmiah (penelitian) yang berupa teknologi ilmu (misalnya alat yang digunakan oleh bidang medis, teknik, komputer) dengan masyarakat yaitu berupa tanggung jawab dan implikasi etis. Contoh dampak tersebut misalnya masalah euthanasia dalam dunia kedokteran masih sangat dilematis dan problematik, penjebolan terhadap sistem sekuriti komputer, pemalsuan terhadap hak atas kekayaaan intelektual (HAKI) , plagiarisme dalam karya ilmiah.
3.3.3 Cara Kerja dan Problema Filsafat Ilmu
Cara kerja filsafat ilmu haruslah dimulai dengan suatu anggapan bahwa setiap ilmu pengetahuan dianggap sebagai ilmu yang bersifat sistematis (sistem dalam susunan penge-tahuan dan cara memperolehnya karena adanya berbagai hubungan gejala yang teratur sehingga merupakan suatu keseluruhan yang utuh), logis (gejala pengetahuan diamati dan dianalis secara rasional), intersubjektif (kepastian ilmu pengetahuan tidak melulu didasarkan pada emosi maupun pemahaman si ilmuwan tetapi didasarkan dan dijamin oleh sistem pengetahuan itu sendiri), rasional serta memiliki cara kerja ilmu pengetahuan yang diupayakan pembenaran secara metodologis.
Dengan demikan filsafat ilmu dapat melihat bahwa refleksi kritis terhadap ciri dan cara kerja ilmu pengetahuan dapat menunjukkan adanya dua aspek, yaitu aspek internal dan aspek eksternal. Aspek internal lebih diarahkan pada kegiatan ilmiah yang bersifat metodologis. Aspek internal atau context of justification sangat berkaitan dengan pembenaran suatu pengetahuan. Sebagai contoh ilmu kedokteran, dan teknik akan menjadi sangat kokoh apabila secara de jure memiliki landasan filosofis yaitu kebenaran epistemologis (teori kebenaran atau teori pengetahuan). Aspek eksternal atau context of discovery lebih mengarah pada hasil dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan oleh para ilmuwan di masa lalu hingga kini. Untuk itulah timbulnya ilmu pengetahuan dan pelaksanaan aplikatifnya serta kegunaan ilmu itu dapat dtelusuri secara historis atau melalui sejarah ilmu pengetahuan. Dalam rangka penelusuran secara historis, secara de facto hasil maupun teknologi ilmu diterima dan digunakan oleh manusia sesuai dengan kebutuhannya. Perkembangan teknologi akan menjadi berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dan perkembangan setiap ilmu itu sendiri.
3.4 TEORI KEBENARAN
Di dalam bagian ini akan dijelaskan bahwa kebenaran dalam kegiatan ilmiah dan filsafat ilmu bersumber pada. kebenaran epistemologi. Kebenaran filsafat ilmu itu mengacu pada teori pengetahuan. atau teori kebenaran klasik yang terkait dalam tradisi filsafat Barat. Teori pengetahuan dipandang sebagai teori kebenaran yang sifatnya universal dan berlaku umum untuk berbagai bidang keilmuan (misalnya ilmu kedokteran, teknik, ilmu ekonomi, ilmu budaya dan sebagainya) yang bertujuan mencari objektivitas dan kebenaran ilmiah.
Teori pengetahuan atau teori kebenaran dalam epistemologi mengenal tiga teori kebenaran, yaitu teori korespondensi, teori koherensi dan teori pragmatik. Teori korespondensi adalah teori kebenaran yang bersumber dari persesuaian antara seorang subjek dengan objek yang dilihatnya. Sebagai contoh, seseorang akan mengatakan bahwa yang dilihatnya adalah sebuah meja besi apabila kriteria akan meja besi (berkaki empat, terbuat dari besi) itu sesuai benar dengan meja itu. Ini berarti bahwa ada teori korespondensi dalam kasus itu. Teori koherensi akan terjadi apabila ada persesuaian di antara beberapa subjek dengan objek yang diamatinya. Sebagai contoh, semua orang di rumah bapak Santoso setuju dan sepakat bahwa televisi itu memiliki antena yang berwarna merah. Hal itu menunjukkan bahwa ada kebenaran koherensi di antara semua orang di rumah bapak Santoso. Sedang teori pragmatik adalah teori kebenaran yang terjadi karena ada manfaat serta kegunaan dari sebuah ilmu pengetahuan. Contoh, Tuti akan belajar dengan tekun di Fakultas Teknik Arsitektur agar ia cepat lulus menjadi seorang arsitek dan dapat segera bekerja.
Teori kebenaran (teori korespondensi, koherensi dan pragmatik) yang ada pada filsafat ilmu adalah sebagai dasar mencari kebenaran dalam setiap kegiatan ilmu pengetahuan. Dalam pencarian kebenaran itu, terjadi berbagai perubahan-perubahan gejala, peningkatan ataupun kemajuan-kemajuan bagi ilmu itu sendiri Tiga teori kebenaran itupun mendukung pelaksanaan kegiatan ilmu secara konkret, yaitu sebagai penerapan antara sisi teoritis dengan sisi praktis, praktek dan kegunaannya.
Di sisi lain, batas pengetahuan juga menjadi landasan dalam teori kebenaran. Apakah yang disebut sebagai batas pengetahuan itu? Batas pengetahuan adalah pengetahuan yang memiliki keluasan wilayah secara tertentu. Melalui keluasannya yang terukur itu, pengetahuan dibatasi oleh panca indera manusia. Dengan demikian sejauh mata memandang terhadap apa yang dilihat kita, maka hal menjadi pengetahuan manusia. Ini berarti bahwa pengetahuan manusia bersumber pada indera manusia dan hasil pengetahuan itu disebut sebagai pengetahuan indrawi atau pengetahuan empiris (empiris dari kata empêria yang artinya pengalaman manusia muncul karena diperoleh oleh sentuhan indrawi). Selain pengetahuan indrawi, maka terdapat pengetahuan non indrawi yang menjadi sumber pengetahuan manusia. Pengetahuan non indrawi adalah pengetahuan yang berasal dari akal budi manusia atau rasio manusia. Melalui akal budi atau rasio, manusia dapat berpikir, dapat memiliki gagasan atau ide dan hasil dari kemampuan berpikir itu adalah pengetahuan non indrawi atau pengetahuan rasional.
Bagaimana dengan struktur pengetahuan? Struktur pengetahuan juga menjadi landasan bagi teori kebenaran. Struktur pengetahuan adalah susunan dari berbagai elemen pengetahuan yang dilandasi dengan suatu konsep tertentu. Berbagai elemen pengetahuan seperti fenomena atau gejala atau sesuatu yang berada di depan kita (gunung, pasien, rumah, mobil ambulans) atau ide tentang masa depan sebuah negara, teori Newton, semua itu dapat menjadi elemen dari "bangunan" pengetahuan kita. Sebenarnya, bangunan pengetahuan itu merupakan kumpulan berbagai elemen yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk bangunan pengetahuan yang kokoh. Dalam proses kegiatan itu terdapat pelaku yang sangat berperan, yaitu subjek. Subjek diartikan sebagai seseorang yang tertarik mencari pengetahuan dan pencarian tentang pengetahuan itu atas dasar minat serta keterarahan (intensionalitas). Dan yang dicari dalam pengetahuan adalah objek.
Dengan demikian terdapat interaksi antara subjek dengan objek dalam pencarian pengetahuan. Struktur pengetahuan akan terjadi apabila ada hubungan atau interaksi antara subjek dengan objek
3.5 PARADIGMA ILMU PENGETAHUAN
Paradigma ilmu haruslah dilihat sebagai sebuah model penyelidikan ilmiah yang digunakan sebagai pola dasar untuk berpikir, merencanakan usulan penelitian, atau berbagai kasus penelitian seperti studi kasus pada ilmu-ilmu empiris, ilmu filsafat, dan ilmu pengetahuan alam. Tujuan paradigma ilmu adalah menemukan kebenaran. Kebenaran ilmu pengetahuan pada hakikatnya tidak memiliki kemutlakan, tidak absolut. Setiap kebenaran yang dimunculkan oleh paradigma tertentu terbuka untuk difalsifikasi atau dikaji apabila kebenaran itu mulai digoyahkan oleh pendapat-pendapat baru.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, paradigma yang dianggap sebagai model atau pola berpikir bagi seorang peneliti memiliki kriteria dasar, seperti nilai kualitas, nilai kuantitas, dan nilai kebenaran. Nilai-nilai yang dimiliki paradigma akan membentuk sebuah model paradigma. Atas dasar itulah, penulis meletakkan model dasar pada paradigma. Paradigma ilmu mengenal enam paradigma dasar, yaitu (1) paradigma kuantitatif, (2) paradigma kualitatif, (3) paradigma induktif-deduksi, (4) paradigma piramida atau limas ilmu, (5) paradigma siklus empiris, dan (6) paradigma "rekonstruksi teori".
Paradigma kuantitatif adalah model penyelidikan ilmiah yang bertitik tolak pada perhitungan matematis. Objek penelitian yang menampilkan berbagai gejala atau fenomena empiris harus dilihat sebagai "elemen" yang dapat dihitung dengan perhitungan (besaran) tertentu dan untuk itu digunakan "alat" bantu perhitungan matematis. Gejala-gejala medis pada si pasien seperti suhu tubuh dapat diukur dengan alat pengukur. Gejala gempa dapat diukur besar tekanannya dengan skala Richter. Paradigma kualitatif adalah model penyelidikan ilmiah yang melihat kualitas-kualitas objek penelitiannya seperti perasaan (emosi) manusia, pengalaman menghayati hal-hal religius (sakral), keindahan suatu karya seni, peristiwa sejarah, dan simbol-simbol ritual atau artefak tertentu. Kualitas-kualitas itu haruslah dinilai atau "diukur" berdasarkan pendekatan tertentu (rmsalnya menggunakan metode semiotik, metode hermeneutik, teori sistem) yang sesuai dengan objek kajiannya. Paradigma kualitatif menghindari perhitungan matematis, karena yang dicari adalah value 'nilai' yang muncul dari objek kajian yang bersifat khusus, bahkan sangat spesifik, unik, dan selalu mengandung meaning full action.
Paradigma induktif-deduksi adalah model penyelidikan ilmiah yang digunakan sebagai pola berpikir seorang peneliti untuk memiliki penalaran yang induktif (mengambil kesimpulan dari hal-hal yang khusus untuk sampai pada hal yang umum) dan deduktif (mengambil kesimpulan dari penalaran yang bersifat umum untuk sampai pada hal-hal yang khusus). Paradigma induktif-deduktif dapat digunakan seseorang sccara bersamaan, artinya ia dapar berpikir induktif dahulu untuk kemudian berpikir secara deduktif, tetapi seseorang dalam proses kerja ilmiah dapat pula menggunakan penalaran induktif atau deduktif saja. Tujuan paradigma induktif-deduktif lebih bersifat aplikatif dalam penalaran dan digunakan dalam suatu penelitian ilmiah agar seseorang dapat memiliki penalaran yang logis dan konsep berpikir yang runtut. Sebagai contoh, penalaran induktif-deduktif dapat diterapkan ketika mencari data, mengkategorisasi data, perumusan masalah, dan sebagainya.
Paradigma piramida atau Limas Ilmu adalah model penyelidikan ilmiah dengan menggunakan konsep yang bertujuan mengkonstruksi tahapan-tahapan kegiatan ilmiah secara berlapis-lapis seperti bentuk piramida. Bagian bawah piramida merupakan bagian yang paling dasar dan paling luas, sedangkan makin ke atas luas lapisan piramida makin berkurang. Lapisan teratas merupakan kerucut piramida. Lapisan-lapisan itu dimaksudkan sebagai gambaran proses penelitian yang mengacu tahapan-tahapan observasi, data, hipotesis, pengujian hipotesis, dan hasil penelitian yang berupa teori baru. Pola pikir seorang ilmuwan dibentuk seperti model piramida berlapis: semakin ke atas tujuan penelitian makin tercapai, dan pada puncak kerucut merupakan gambaran ditemukannya sebuah teori baru. Bentuk atau model piramida lain adalah piramida ganda. Piramida ganda atau bahkan menjadi piramida-piramida lain akan muncul apabila seseorang mampu membuat piramida lain atas dasar landasan piramida yang telah ada.

Bagan. Model Piramida Ilmu

Piramida ganda

Piramida terbalik


Piramida terbalik adalah suatu kerangka berpikir atau model piramida yang berlandaskan sebuah teori. Kegiatan penelitian yang menggunakan model piramida terbalik memulai proses kerjanya dari sebuah teori (teori yang telah dianggap baku). Melalui teori, seorang peneliti akan memulai kegiatannya dengan observasi terhadap teori tersebut. Observasi menentukan langkah berikutnya, yahu tahap-tahap penelitian atau lapisan piramida seperti data, permasalahan (hipotesis), pembuktian-pengujian hipotesis, dan hasil penelitian yang berupa teori baru.
Paradigma siklus empiris sangat diakrabi ilmu-ilmu empiris. Paradigma tersebut membutuhkan langkah awal, yaitu observasi yang bersifat induktif Beberapa tokoh seperti de Groot dan Walter Wallace menampilkan siklus empiris yang beranjak pada pengamatan faktual. Pada umumnya, paradigma siklus empiris memiliki komponen-komponen yang saling berkaitan dan hubungan-hubungan yang sedemikian rupa tersebut dapat dievaluasi secara siklus (periodik, berkala). Tahapan-tahapan dalam siklus empiris akan membentuk pola berpikir bagi subjek (Ilmuwan/peneliti) dalam melakukan kegiatan ilmiahnya. Walter Wallace mencoba menjelaskan paradigma siklus empiris secara rinci dengan memperhatikan unsur metodologis. Paradigma siklus empiris adalah model penyelidikan ilmiah yang sifatnya berkala, memiliki beberapa elemen yang terdiri dari komponen informasi (data, konsep, kategori) dan komponen kontrol metodologis (evaluasi, pengujian, teori). Setiap komponen dapat terdiri dari beberapa komponen dan disusun sedemikan rupa sehingga membentuk hubungan yang nantinya digunakan dalam proses kegiatan ilmiah. Kemampuan seseorang dalam mengolah data dan pengujian hipotesis sangat menentukan hasil penelitiannya.
Paradigma "rekonstruksi teori" adalah model penyelidikan ilmiah yang berusaha membangun (rekonstruksi) beberapa teori atau metode yang digunakan dalam sebuah penelitian. Tujuan digunakannya paradigma rekonstruksi teori adalah untuk me¬nunjang proses penelitian agar berjalan lebih sempurna sehingga kebenaran ilmiahnya pun dapat terjaga sesuai dengan proses metodologis yang berlaku. Untuk itu, apabila seseorang ingin menggunakan paradigma "rekonstruksi teori" harus memahami dengan benar teori-teori yang akan digunakannya dan memastikan de¬ngan benar bahwa teori-teori itu saling menunjang dan berguna (dapat diterapkan) dalam penelitiannya. Berbagai pertimbangan yang sifatnya rasional, misalnya penguasaan teori dan kemampuan menerjemahkannya secara aplikatif, harus menjadi pertimbangan utama apabila seseorang akan menggunakan paradigma "rekonstruksi teori".
Semua paradigma yang ada dapat digunakan oleh seorang peneliti dalam penelitiannya. Sebagai konsep berpikir, model penyelidikan ilmiah sangatlah abstrak. Paradigma digunakan untuk tujuan menuntun pola pikir seseorang ke arah norma metodologis sehingga secara dejure dapat dipertahankan secara benar dan sahih. Paradigma ilmu dapat diperkaya apabila si ilmuwan mampu merekonstruksikan berbagai teori yang telah ada. Rekonstruksi tersebut harus disertai dengan sebuah "catatan" bahwa berbagai teori yang akan direkonstruksi harus saling menunjang dan sesuai dengan tujuan penelitian. Kemampuan ilmuwan mengabstraksi sangat diperlukan agar rekonstruksi terhadap sebuah paradigma menjadi lebih sahih dan menunjang kebenaran ilmiah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar