Senin, 20 Desember 2010

makalah filsafat tentang filsafat modern barat

I. PENDAHULUAN
Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani filosofia, yang diturunkan dari kata kerja filosofoin, yang berarti: mencintai kebijaksanaan. Akan tetapi kata ini belum menampakkan hakekat filsafat yang sebenarnya.Sebab mencintai masih dapat dilakukan secara pasif saja. Padahal dalam pengertian filosofein itu terkandung gagasan, bahwa orang yang mencintai kebijaksanaan tadi, yaitu seoarang filusuf, dengan aktif berusaha mempeeroleh kebijaksanaa.
Sejak periode awal, orang-oramg sufi berusaha menyingkapkan kondisi-kondisi psikologis: rasa takut dan harapan. Rasa cinta dan emos, juga baqo’ dan fana’. Mereka menganalisa tingkah laku (al-suluk) dan makrifat, dengan bertumpu pada pengalaman langsung dan pengetahuan (al-irfan).
Tidak ada garis batas antara zaman modern dengan zaman Renaisans karena zaman modrn adalah perluasan dari zaman Ranaisans. Manusia maju dari zaman uap ke zaman listrik, zaman atom, electron, radio televise, roket, dan zaman luar angkasa.
II. PEMBAHASAN
Memasuli abad modrn, filsafat mengalami perubahan yang cukup segnifikan bagai perkembangan peradaban mausia. Para filosof zaman modrn menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci ataupun ajaran agama, tidak juga dari penguasa namun dari diri manusia itu sendiri.
1. Renesaissance
Zaman renesaissance adalah jembatan antara zaman pertengahan dengan zaman modrn, Periode antara sekitar 1400 dan 1600, disebut quot; renesaissance (zaman kelahiran kembali). Dalam zaman renesaiasance kebudayaan klasik dihidupkan kembali, kesusastraan, seni dan filsafat mencapai inspirasi mereka dalam warisan Yunani Romawi filosof terpenting dalam Renessain adalah NIcollo Macchivelli (1469-1527), Thomas Hobbes (158-1679), Thomas More (1478-1535) dan Francis Bacon (1561-1626).
Secarais zaman modern dimulai sejak adanya krisis zaman pertengahan selama dua abad (abad ke-14 dan ke-15), yang dimulai dengan munculnya gerakan renaissance.
2. Rene Descartes
Orang yang dapat digelari “bapak filsafat modern” adalah Rene Descrates (1596-1650). Ia dilahirkan di Prancis dan belajar filsafat pada Kolese yang dipimpin Peter-peter Yesuit di desa La Fleche. Dalam buku Discours de la methode (1637) (uraian tentang metode) ia melukiskan perkembangan intelektualnya.
Metode Rene Descartes adalah agar filafat dan ilmu pengetahuan dapat diperbarui, kita terutama memerlukan satu metode yang baik yaitu dengan menyangsikan segala-galanya. IA bermaksud bahwa kesangsian ini dijalakan seradikal mungkin, oleh karenanya karenanay kesangsian ini harus meliputi seluruh pengetahuan yang kita miliki, termasuk juga kebenaran-kebenaran yang kita anggap pasti ( Misalnya ada suatu dunia material, bahwa saya mempunyai tubuh , bahwa Allah ada.) Kalau terdapat suat kebenaran yang tahan dalam kesangsian yang radikal itu, maka itulah kebenaran yang sama sekali pasti dan harus dijadikan fondamen bagi seluruh ilmu pengetahuan.
3. Rasionalisme
Aliran filsafat yang berasal dari Descartes biasanya disebut dengan rasionalisme karena aliran ini sanggat mementingkan rasio. Dalam rasio terdapat ide-ide dan dengan itu orang dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan realitas dluar rasio. Sebenarnya Sescartes sendiri sudah termasuk rasionalisme itu.
Dalam aliran rasionalisme terutama ada dua masalah ang dua-duanya diwariskan oleh Descartes; masalah subtabsi dan masalah hubungan antara jiwa dantubuh.
4. Blaise Pascal
Blaise Pascal (1679-1754) menduduki tempat tersendiri dalam pemikiran Prancis abad ke-17, sebagaiman Descartes, Pascal pun mengutamakan baik matematika maupun ilmu alam maupun juga filsafat. Ia tidak boleh terhitung dalam aliran rasionalisme , sebaliknya ia sangat mengkritik aliran tersebut. SEkalipun ia sepakat dengan Descartes dalam mementingkan matematika namun ia tidak setuju dalam dia menerima matematika sebagai model contoh istemewa untuk model filsafat. Filsafal Descartes harus meniru metode matematika. Dalam filsafat Pascaaal manusia dianggap sebagai “misteri”, yang tidak dapat diselami sampai dasarnya. Lebih penting dari rasio adalah hati, demikian kata Pascal. Rasio hanya menghasilkan pengetahuan yang dinggin, sedangkan hati memberikan pengetahuan diman cinta juga mempunyai peranan, dengan rasio kita mempelajari matematika dan ilmu alam, tetapi dengan hati kita mencapai kebenaran-kebenaran yang lebih tinngi, terutama tuhan Allah. Dengan kalimat yang kemudian menjadi mashur Pascal ,engatakan: “Le coeurta a ses raison que la raison ne connait point’ JIka boleh dipaksakan sedikit, dalam bahasa Indonesia Dapat diterjemahkan:”Hati mempunyai akal-akalyang tidak dipahami oleh akal”.
5. Empirisme Inngris
Bertentangan dengan rasionalisme yang mengindahkan rasio sebagai sumber utama pengenalan, maka pada masa sesudah Descertes di Inggris timbul suatu aliran lain yang dinamakan empirisme. Istilah ini berasal dari kata Yunani empiria yang berarti “pengalaman indrawi”. Empirisme memilih pengalaman sbagai sumber utama pengenalan yang dimaksudkan denganya ialah baik pengalan lahiriyah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniyah yang menyangkut pengalaman pribadi manusia saja. Tidak mengherankan bahwa rasionalisme dan impirisme masing-masing mempunyai pendirian yang sangat berlainan tentang sifat pengenalan manusiawi. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari rasio, sehingga pengenalan indrawi merupakan satu bentuk pengenalan yang kabur saja. Sebaliknya, empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman, sehingga pengenalan indrawi merupakan bentuk pengggenalan yang paling jelas dan sempurna. Seperti telah kita lihat pada rasionalisme di daratan Eropa, pada empirisme Iggris pun masalah subtansi ramai dibicarakan.
6. Aufklarung
Pada abad ke-18 dimulaikah suatu zaman baru Roma yang memang telah berakar pada renessaicence sesrta yang mewujudkan buah pahid dari rasionalisme dan imperialisme abad ke-18 disebut zaman pencerahan Aufklarung.
Menurut Imanuel Khan zaman pencerahan adalah zaman manusia keluar dari keadaan tidak akil balik, yang disebabkan karena kesalahan manusia itu sendiri. Kesalahan itu terletak di disini, bahwa manusia tidak mau memanfaatkan akalnya. Sekarang semboyan orang adalah: “Jaman akal” Pikir!” Volltaire menyebut zaman pencerahan adalah zaman akal”. Sekarang orang merasa, bahwa zaman perwalian pemikiran manusia telah tiada lagi. Umat manusia telah merasa bebas. merdeka dan tidak memerlukan lagi tiap kuasa yang dating dari luar dirinya, dibidang apa pun. Sekarang orang dapat tanpa gangguan hidup demi keadapanya yang tanpa batas.
Memang ada perbedaaan yang cukup menyolok antara abad ke-17 dan ke-18. Abad ke-17 membatasi diri pada usaha memberikan tafsiran baru terhadap kennyataan bendawi dan ruhani, yaitu kennyataan yang mengenai manusia dunia dan Allah. Akan tetapi abad ke-18 menganggap dirinya sebagai mendapat tugas untuk meneliti secara kritis (sesuai dengan kaidah-kaidah yang diberikan akal), disegala yang ada baik dalam Negara maupun masyarakat, dibnidang ekonomi, hokum, agama, pengajaran, pengajaran dan lain sebagainya. Juga orang tidak takut menggemukakan pendapatnya dalam bentuk celaan yang kurang atau yang lebih tajam.
Bersamaan dengan rencana kerja yang berisi penghargaan dan kritik timbulah usaha untuk memperluas pengaruh filsafat. Dahulu filsafat mewujudkan suatu pemikiran yang hannya menjadi hal yang istimewa beberapa ahli saja, tetapi sekarang orang berpendapat, bahwa seluruh umat manusia berhak turut menikmati hasil-hasil ppemikiraan filsafat dan bahwa juga menjadi tugas filsafat untuk membebaskan khalayak ramai dari kuasa gereja dan iman kepercayaan yang berdasarkan wahyu, agar supaya mereka dapat mendapat bagian dari berkat-berkat zaman pencerahan.
7. Imanuel Kant
Tidakboleh disangsikan bahwa Imanuel Kant (1724-1804) termasuk filsuf terbesar dalam sejarah filsafat modern. Tentang riwayat hidupnya tidak dapat dikisahkan hal-hal yang mencolok mata. Ia lahir di Konigsberg, sebuah kota kecil di Prusia Timur. Dalam universitas di asalnya ia menekuni hampir semua mata pelajaran yang diberikan dan akhirnya menjadi professor di sana. Dalam bidaaang filsafat, Kant dididik dalam suasana arasionalisme yang pada waktu iti merajalela di universitas-univrtsitas di Jerman. Kant tidak kawin dan selalu hidup tertib, sehingga mdapat mencurahkan seluruh waktu dan tenaga kepada karya-karya filosofnya.
Kehidupan Kant sebagai filsuf dapat dibagi menjadi dua periode: jaman pra kritis dan jaman kritis. Dalam jaman pra kritis ia ia menganut pendirian rasionalisme yang dilancarkan oleh Wolf dan kawan-kawanya, tetapi karena telah dipengaruhi oleh Hume, Berangsur-angsur Kant meninggalkan rasionalisme. Ia sendiri mengatakan bahwa Hume-lah yang telah membangunkan dia dari tidur dogmatisnya. Ynag menyusul adalah jaman kritis. Dan justru dalam jaman ke dua inilah Kant mengubah wajahg filsafat secara radikal. Kant sendiri menamakan filsafatnya sebagai kritisisme dan ia menentangkan kritisisme dengan dogmatisme. Menurut dia kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalananya dengan terlebih dulu mennyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio. Kant mendahukuinya dengan tergolong dogmatisme, karena mereka percaya mentah-mentah kepaa kemapuan rasio tanpa menyelidiki terlebih dulu.
8. Idealisme Jerman
Tugas ahli sejarah filsafat menjadi semakin berat, jika ingin meluliskan perkembangan filsafat setelah Kant, banyak aliran dan system muncul. Yang masing-masing mempunyai beraneka ragam nuansa pada filosuf-filosuf di dalamnya. Maka dari itu dengan lebih ketat kita harus membatasi dari pada garis besarnya saja
Revolusi Kopernikan yang telah diadakan oleh Kant memusatkan subyek dalam proses pengenalan, tetapi ia menerima juga adalah obyek belaka yaitu “das Ding-an –sicch” (realitas pada dirinya). Pada idealis dalam hal ini tidak sepakat dengan Kant dan mereka menyangkal adanya “das Ding-an –sicch”. Menurut pendapat mereka, Kant datuh pada kontradiksi dengan mempertahankan “das Ding-an –sicch”. Apa sebabnya? Karena rupa-rupanya buat Kant “das Ding-an –sicch” menyebabkan dalam diri kita Pengindraan-pengindraan dan akibatnya berfungsi sebagai pennyebab. Dan menurut Kant sendiri penyebab merupakan salah satu katagori akal budi dan akibatnya tidak boleh disifatkan pada “das Ding-an –sicch”. Karena alas an-alasan serupa para idealis mengesampingkan “das Ding-an –sicch”. Menurut pendapt mereka tidak ada suatu realitas yang obyektif belaka. Realitas seutuhnya bersifatsubyektif. Realitas seluruhnya merupakan buah hasil suatu subyek. Yang dimaksud di sini dengan subyek bukanlah subyek peroarangan tertentu (anda atau aku) melainkan subyek absolut atau, dipandang dari sudut agama, Allah.
9. Positivisme
Nama positivisme diintroduksikan A.Comte dalam perbendaharan kata filosofis. Barang tentu, nama ini berasal dari kata “Positif “. Di sini “Positif” sama artinya dengan factual (apa yang berdasarkan fakta-fakta). Menurut positivisme pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta-fakta. Sudah nyata kiranya dengan demikian ilmu pengetahan empiris diangkat menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan pada umumnya. Filsafat juga harus menteladan contoh itu. Oleh karenanya tidak mengherankan, bila positifisme menolak cabang filsafat yang biasanya disebut merafisika. Menanyakan “Hakikat” benda-benda atau “Pennyebab yang sebenarnya”, bagi positivisme tidak mempunyai arti apa pun juga. Ilmu pengetahuan, termasuk juga filsafat, hannya mennyelidiki fakta-fakta. Tugas khusus filsafat adalah mengkoordinasikan ilmu-ilmu lain dan memperlihatkan kesatuan antara begitu banyak ilmudan beraneka ragam coraknya. Tentu saja maksud dari positivisme bersangkut aput deengan apa yang telah dicita-citakan oleh empirisme. Positifvisme jugamengutamakan pengalaman. Tetapi harus ditambah bahwa positivisme membatasi pada pengalaman obyektif saja, sedangkan empirisme Inggris, seperti telah diuraikan di atas, menerima juga pengalaman batiniyah atau subyektif sebagai sumber pengetahuan.
10. Matrialisme
Perbedaan marerialisme dengan positivme dapat diterangkan sebagai berikut. Di atas sudah diuraikan bahwa positivisme membatasi dari pada fakta-fakta. Yang ditolaknya ialah tiap-tiap keterangan yang melampaui fakta-fakta. Karena alas an itulah salam rangka positivisme tidak ada tempat untuk metafisika. Materialisme mengatakan bahwa realitas seluruhnya terdiri dari materi. Itu berarti bahwa tiap-tiap benda atau kejadian dapat dijabarkan kepada materiatau salah satu proses materiil. Kiranya sudah jelas bahwa materialisme mengakui kemungkinan metafisika, karena materialisme sendiri brerdasarkan metafisika.
11. Soren Kierkegaard
Suatu reaksi atas idealisme yang sama sekali berlainan dengan reaksi materialisme berasal dari pemikir Denmarkk yang bernama Soren Kierkegaasd (1813-1855). Riwayat hidupnya bersifat dramatis, bukan karena banyak peristiwa yang mencolok mata, melainkan tekanan psikologis yang disebabkan oleh hubugannya dengan ayanhnya dan pergumpulanya dengan imam kepercayaan kristiani. Agar diperoleh suatu pengetahuan lebih mendalam tentan pemikran Kierkegaard, pasti diperlukan juga suatu penelitian yang lebih teliti mengenai hidupnya, sebab dia adalah seorang pemikir yang hidupnya mempunyai hubungan erat dengan pikiranya. Menurut pendapat Kierkegaard filsafat tidak merupakan suatu sistem, melainkan pengekpresian suatu eksistensi individual, karerna ia menentang filsafat yang bersifat sistematis, dapat dimengerti sedikit tentang ia menulis karya-karyanya dengan berbagai nama samaran. Dengan berbuat demikian ia coba menghindari bahwa buku-bukunya dianggap sebagai fase-fase perkembanggan yang menganut pemikiran yang sama. Karena ia menggunakan nama-nam samaran, menjadi mungkin di dalam buku yang satu ia menyerang pendapat-pendapat yang lebih dahulu diuraikan dalam buku-buku terdahulu. Tentu saja prosedur ini mengakibatkan banyak kesulitan bagi setiap orang yang ingin mempelajari pemikiran Kierkegaard dengan cara yang lebih sistematis.
12. Friedrich Nietzsche
Seorang filusuf Jerman yang mempunyai kedudukan tersendiri dalam sejarah filsafat abad 19 adalah Friedrich Nietzsche (1844-1900). Ia tidak dapat digolongkan daalm salah satu aliran yang memainkan peranan pada waktu itu. Ia dilahirkan di Rocken kota Laipzig. Karena ia lahir sebagai anak seorang pendeta Protestan, dapat dimengerti bahwa ia dididik secarareligius. Pada tahun 1864 ia masuk universitas Bonn dengan maksud mempelajari teologi dan kesustraan klasik (Yunani dan Romawi). Tidak lama kemudian ia pindah ke Leipzig untuk meneruskan setudinya mengenai filosofis klasik. Karena itu dia sudah meninggalkan iman kristiani. Suatu peristiwa yang sangat penting suatu ia menjadi mahasiswa adalah perkenalan dengan karya-karya Schopenheauer, yang kebetulan ditemi\ui dalam satu tempat penjualan buku bekas. Nierzche juga sangat mengagumi juga sangat mengagumi komponis Jerman yang bernama Richard Wagner (1813-1883) dan beberapa waktu lamanya ia bersahabat akrab dengan dia. Tidak dapat disangkal bahwa ia sendiri juga mempunyai bakat besar dalam bidang musik. Pada nierzche berumur 24 tahun, ia sudah diangkat menjadi professor dalam bidang Filologi klasik pada universitas di Basel (swis).
Sulit sekali untuk menyingkatkan pemikiran Nietzsche. Ia tidak pernah menguraikan filsafatnya secara sistematis. Satu-satunya cara yang direncanakan oleh Nietzsche untuk membentangkan filsafatnya dalam bentuk sistematis, tidak pernah diselesaikan. Menurut Nietzsche karyanya akan terdiri dari empat jilid dan berjudul Die Wille Zur Macht. Eine Umwertung Aller Werte (Kehendak untuk berkuasa. Suatu transvaluasi semua nilai). Tetapi yang ditemukan sesudah Nietzsche meninggal hanyalah catatan-catatan yang tidak mudah kirangkai menjadi uraian sistematis. Diantara banyak buku yang dikarang Nietzsche ada yang berbentuk puitis juga ada yang berupa pepatah.
III. PENUTUP
Demikaianlajh makalah yang dapat saya sampaikan. Semoga dapat menambah pengetahuan mengenai sejarah filsafat, saya manusia biasa yang tak bias terhindar dari salah, maka saya harapkansaran dan kritik serta masukan demi kemajuan kita bersana.
Daftar Pustaka
 Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat ,(Yogjakarta: Kanisius 1980).
 Bertens, K, Ringkasan Sejarah Filsafat,( Yogyakarta:Kanisius, 1998).
 Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat1, (Yogjakarta: Kanisius 1980).
 Madkour, Ibrahim, Aliran Dan Teori Filsafat Islam, (Jakarta: Bumi Aksara 2004).
 Bakhtiar Amsal, filsafat ilmu, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005).
 Solihin, M, Filsafat dari Klasik Hingga Modern, (Bandung: Pustaka Setia, 2006).
Harun Hadi Wijono, Sari Sejarah Filsafat Barat1, Yogjakarta: Kanisius 1980, hlm 7
Ibrahim Madkour, Aliran Dan Teori Filsafat Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2004, hlm 2
Amsal Bakhtiar, filsafat ilmu, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005, hlm39
M Solihin, Filsafat dari Klasik Hingga Modern, Bandng: Pustaka Setia, 2006, hlm 27
K Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta:Kanisius, 1998, hlm 45-50
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat t,Yogjakarta: Kanisius 1980, hlm 47
Op. cit. hlm 59-86
Diposkan oleh Filsafat ; Artikel, Makalah, Syair & Puisi di 12.04 0 komentar Link ke posting ini
PRAGMATISME
PENDAHULUAN
Pragmatisme merupakan gerakan filsafat Amerika yang mulai terkenal selama satu abad terakhir. Aliran filsafat ini merupakan suatu sikap, metode dan filsafat yang memakai akibat-akibat praktis dari pikiran dan kepercayaan sebagai ukuran untuk menetapkan nilai kebenaran. Filsafat ini berusaha bersikap kritis terhadap sistem-sistem filsafat sebelumnya.
Pragmatisme merupakan salah satu dari sekian munculnya aliran filsafat yang berkembang pada abad kontemporer. Pragmatisme ini berasal dari kata ‘practic’ dan ‘practical’. Istilah ini berasal bahasa Yunani yakni dari kata pragma yang berarti action. Pengertian Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Filsafat pragmatis ini pertama kali dikenalkan oleh Charles Pierce pada tahun 1878 melalui artikelnya yang berjudul, ‘How to make our ideas clears’. Namun nama yang melekat dalam filsafat pragmatisme adalah William James. Hal ini mungkin gagasan-gagasan yang dilontarkan James mampu memberikan pengaruh yang lebih besar pada masyarakat dunia sekaligus yang memopulerkan filsafat pragmatis di Amerika Serikat.
Melihat definisi di atas tampaknya pegangan filsafat pragmatis adalah logika pengamatan. Di mana aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, dengan syarat dapat membawa akibat yang praktis. Termasuk pengalaman-pengalaman pribadi diterima asal bermanfaat, bahkan kebenaran mistis dipandang juga. Dengan demikian landasan pragmatisme adalah manfaat bagi hidup praktis.
Dalam perkembangan selanjutnya filsafat ini ternyata berjalan dalam tiga jurusan yang berbeda, maksudnya sekalipun semuanya berpangkal dari satu gagasan asal, namun bermuara dalam kesimpulan-kesimpulan yang berbeda. Tetapi pada dasarnya ketiganya itu adalah sama, yaitu menolak segala intelektualitas, absolutisme dan meremehkan logika formal. Ketiga dasar tersebut nantinya akan diuraikan dalam bagian pokok-pokok ajaran dalam filsafat pragmatis.
Dalam pembahasan ini akan diuraikan mengenai; pertama, pokok-pokok ajaran pragmatisme. kedua, yaitu dua tokoh yang memopulerkan filsafat ini yaitu William James dan John Dewey dengan konsep kepercayaan atau agama. Ketiga kolaborasi pemikiran kedua tokoh tersebut serta kesimpulan.
PEMBAHASAN
Pokok-Pokok Ajaran Filsafat Pragmatisme
Sesuatu yang penting dalam filsafat pragmatis dan menjadi pegangan adalah logika pengamatan. Oleh karena itu aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat praktis. Meskipun itu pengalaman-pengalaman yang bersifat pribadi, kebenaran mistis, semuanya dapat diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan, dengan syarat membawa akibat praktis yang bermanfaat. Atas dasar inilah maka patokan bagi pragmatisme adalah manfaat bagi hidup praktis.Dasar-dasar yang digunakan dalam filsafat pragmatis adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut ; pertama menolak segala intelektualisme, kedua, absolutisme dan ketiga meremehkan logika formal. Aliran pragmatis menolak intelektualisme, ini berarti juga menentang rasionalisme sebagai sebuah pretensi dan metode. Dengan demikian tidak mempunyai aturan-aturan dan doktrin-doktrin yang menerima metode. Seorang ahli pragmatis Italia bernama Papini mengatakan ; pragmatis adalah ketiadaan dalam teori pragmatis, ibarat seperti sebuah koridor dalam sebuah hotel.
Dasar kedua adalah absolutisme. Pragmatisme tidak mengenal kebenaran yang bersifat mutlak, yang berlaku umum ataupun bersifat tetap bahkan yang berdiri sendiri pun tidak ada. Alasan ini disebabkan adanya pengalaman yang berjalan terus dan segala yang dianggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa akan berubah, karena di dalam prakteknya apa yang dianggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutlak, kecuali yang ada adalah kebenaran-kebenaran ( dalam bentuk jamak), artinya apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman yang khusus, yang setiap kali dapat diubah oleh pengalaman berikutnya.
Pokok ajaran yang terakhir adalah meremehkan logika formal. Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan, hal ini dapat berupa pengalaman-pengalaman pribadi ataupun pengalaman mistis. Dengan demikian ini berarti bahwa pragmatisme dalam membuat suatu kesimpulan-kesimpulan tidak memiliki aturan-aturan yang tetap yang dapat dijadikan Standard atau ukuran dalam merumuskan suatu kesimpulan. Hukum kebenaran yang terus berjalan ini, maka nilai pertimbangannya adalah akal dan pemikirannya, sementara yang dijadikan sebagai tujuan adalah dalam perbuatannya atau aplikasinya. Proses yang terjadi pada akal dan pemikiran itu harus mampu menyesuaikan dengan kondisi dan situasinya. Sesungguhnya akal dan pemikiran itu menyesuaikan diri dengan tuntutan kehendak dan tuntutan perbuatan.
William James (1842-1910)
William James dilahirkan di New York, anak dari Henry James, William James belajar ilmu kedokteran di Havard Medical School pada tahun 1864 dan mendapat M.D-nya tahun 1869, tetapi William tidak tertarik ilmu pengobatan dan menyenangi fungsi alat-alat tubuh kemudian belajar psikologi di Jerman dan Prancis pada tahun 1870. Setelah lulus James mengajar di Universitas Havard, secara berturut-turut mengajar mata kuliah Anatomi, fisiologi, psikologi dan filsafat sampai tahun 1907. Tiga tahun kemudian 1910 James meninggal dunia. Karya-karya James yang terpenting adalah the principles of psychology (1890), the will to believe (1897), Human Immortality (1898), the varietes of religious experience (1902), dan pragmatism (1907).
William James seorang ahli psikologi, namun James tertarik untuk mempelajari filsafat. Ketertarikannya ini didasarkan kepada dua hal yaitu ilmu pengetahuan dan agama. Seorang ilmuwan mempelajari tentang pengobatan akan memikirkannya bagaimana akibat dari hasil pengobatan itu, selanjutnya berusaha menyeleksi dengan kemampuan emosi agamanya.
Pada bidang agama William James menunjukkan karyanya yang berjudul the varieties of religious experience, James mengemukakan bahwa gejala-gejala keagamaan itu berasal dari kebutuhan-kebutuhan perorangan yang tidak disadari. Pengungkapan yang dilakukan seseorang itu berlain-lainan, mungkin pada alam di bawah sadar yang dijumpai pada realitas kosmis yang lebih tinggi. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang dapat meneguhkan hal tersebut secara mutlak. Bagi seseorang yang memiliki kepercayaan hal itu merupakan realitas kosmis yang tinggi, atau merupakan nilai kebenaran subyektif dan relatif. Ini berarti sepanjang kepercayaan itu memberikan kepada seseorang akan nilai hiburan rohani, penguatan keberanian hidup, perasaan damai, keamanan kasih sesama dan lain-lain. Sesungguhnya nilai agama/pengalaman keagamaan mempunyai nilai yang sama, apabila akibatnya sama-sama memberi kepuasan kepada kebutuhan keagamaan.
Dalam mempelajari filsafat pragmatisme yang dikenalkan oleh Charles Pierce; James berusaha menginterpretasikan dengan sebutan pragmatism: A new name for some old ways of thinking 1907. Kemudian James menulisnya dalam sebuah kritikan yang ditampakkan dalam karyanya the meaning of truth (1909). Dalam memahami kebenaran James mendasarkan pemikirannya pada radical empiricism. Fakta ini dibuat karena adanya pengalaman manusia yang dilakukan terus menerus. Menurut James tidak ada kebenaran mutlak yang berlaku umum ataupun yang bersifat tetap bahkan yang berdiri sendiri lepas dari akal yang mengenal, Karena pengalaman manusia akan terus berjalan dan segala sesuatu yang dianggap benar, namun dalam tahap perkembangannya akan berubah. Ini disebabkan adanya koreksi dari pengalaman-pengalaman berikutnya. Kebenaran yang ada hanyalah kebenaran-kebenaran yang bersifat jamak, artinya benar pada pengalaman-pengalaman khusus akan diubah pada pengalaman berikutnya.
Nilai pertimbangan dalam pragmatisme tergantung pada akibatnya yaitu kepada kerjanya, didasarkan pada keberhasilan dari perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan tersebut. Apabila pertimbangan itu benar, maka akan bermanfaat bagi pelakunya. Oleh karena itu dalam melakukan pertimbangan harus benar-benar terseleksi agar memperoleh manfaat yang diharapkan.
Antara agama dengan filsafat pragmatis diharapkan memberikan rasa ketenangan dan kedamaian. Akibatnya ketika James tertarik kepada ilmu pengetahuan dan agama ini dimaksudkan, bahwa ketika James mempelajari studi pengobatan dengan tendensi materialisme maka berusaha mengecek dengan emosi agama (perasaan agama).
Oleh karena itu James dalam mempelajari agama atau kepercayaan memberikan tiga opsi yang menjadi pilihan, yaitu : pertama ; living or died. Kedua, forced or avoidable dan ketiga momentous or trivial. Opsi yang ditawarkan ini mencoba memberikan sebuah makna kehidupan ini bahwa menjalankan atau mengerjakan sesuatu harus senantiasa memberikan rasa ketenangan. Kenyataan hidup harus dijalani dan dihadapi dengan gigih serta dapat mengambil manfaat terutama bagi dirinya. Karena manusia selamanya tidak akan hidup terus tetapi suatu saat akan menghadapi kematian.
John Dewey (1859-1952)
John Dewey lahir di Baltimor, ia salah satu dari generasi pragmatisme yang menghasilkan pemikiran yang hebat setelah James. Dewey menjadi guru besar dalam bidang filsafat dan bidang pendidikan di Chicago (1894-1904) dan akhirnya di Universitas Colombia (1904- 1929).
Bagi John Dewey filsafat bertujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia serta lingkungannya atau untuk mengatur kehidupan manusia serta aktivitasnya dalam memenuhi kebutuhan manusiawi. Oleh karena itu tidak heran jika John Dewey disebut sebagai tokoh filsafat yang mempunyai karakter yang dinamis yang diwarisi oleh Hegel, yaitu faham dualisme yang berlebih-lebihan seperti antara between mind and body : between necessary and contingent propositions, between cause and effect, between secular and transcendent, namun Dewey lebih suka membuat pandangan baru dengan memperkaya teori-teori dan memahami sebuah fungsi teori itu, dengan demikian Dewey adalah seorang yang anti reduksionis.
Meskipun Dewey seorang pragmatis, tetapi Dewey lebih suka menyebut sistemnya dengan istilah Instrumentalisme. Yang dimaksud Instrumentalisme adalah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan, penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam. Cara yang dilakukan adalah dengan menyelidiki bagaimana pikiran fungsi dalam penentuan-penentuan yang berdasarkan pengalaman, mengenai konsekuensi - konsekuensi di masa depan. Salah satu kunci filsafat instrumentalia adalah pengalaman (experience). Filsafat harus berpijak pada pengalaman itu secara aktif dan kritis, agar filsafat dapat menyusun sistem norma-norma dan nilai-nilai.
Filsafat Dewey yang dinamakan dengan Instrumentalisme ini memiliki tiga aspek sebagai alat dalam melahirkan penyelidikan. Di antaranya, pertama “temporalisme” yaitu terdapat gerak kemajuan nyata dalam waktu. Pemikiran kebenaran terus berjalan maju dengan melihat pengalaman yang terus berlangsung. Kedua “futuristic” yaitu mendorong untuk melihat masa depan tidak hari kemarin. Ketiga “milionarisme” bahwa kehidupan dunia ini dapat dibuat lebih baik dengan kemampuan diri manusia, barangkali pandangan yang demikian juga dianut oleh William James.
Instrumentalisme yang dimaksud Dewey adalah ide besar sebagai alat dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang bersifat praktis. Dewey berusaha mengembangkan teori-teori baru tanpa melakukan reduksi dari tokoh-tokoh pragmatis sebelumnya. Ini dilakukan untuk memperoleh bentuk baru dalam kajian filsafat pragmatis.
Oleh karena itu ketika membahas masalah agama atau kepercayaan, Dewey mengakui bahwa semua agama termasuk kepercayaan merupakan sebuah doktrin kebenaran yang tersirat makna intelektual. Ini disebabkan bahwa kepercayaan merupakan pengakuan yang paling hakiki dan sebagai doktrin yang tidak dapat diubah. Di samping itu pengalaman agama seseorang merupakan petunjuk yang diyakini setiap individu.
Meskipun kajian agama menjadi masalah ketika dihadapkan pada sistemnya yaitu instrumentalia, namun bukan menjadi hambatan dalam menghadapi problem ini. Bagaimanapun juga dasar yang digunakan oleh instrumentalia adalah pengalaman. Ini jelas bahwa Dewey mengakui pengalaman seseorang meski itu bersifat mistik atau tidak dapat dibuktikan dengan logika, yang penting akibat dari pengalaman itu dapat memberikan nilai manfaat baginya yaitu ketenangan dan kedamaian.
Kolaborasi Pemikiran Tokoh Pragmatis
Filsafat pragmatis yang telah dipopulerkan oleh William James dan dikembangkan John Dewey mendapat sambutan hangat dari masyarakat Amerika. Pragmatisme mencoba mencari format baru yang mungkin berbeda dengan filsafat yang berkembang di Yunani maupun di Eropa, meskipun pada dasarnya filsafat ini juga melakukan reduksi terhadap filsafat Yunani, yang dari zaman ke zaman menampakkan gaungnya.
Fakta menunjukkan sumber dasar yang digunakan oleh William James dengan “radikal empirision”. merupakan hasil reduksi dari pemikiran bangsa Yunani yaitu Aristoteles dengan filsafat empirismenya, yang tidak jauh berbeda dengan pegangan utama pragmatis yaitu logika pengamatan. Keduanya meneguhkan dengan fakta-fakta yang dapat dilihat. Tetapi pragmatis lebih mengutamakan akibat praktis yaitu manfaat bagi hidup praktis. Sedang empirisme (Aristoteles) tidak harus berakibat pada praktis.
Antara William James dan John Dewey, pada dasarnya berpangkal pada gagasan asal dengan tiga doktrin pragmatis, namun pada akhirnya bermuara pada kesimpulan-kesimpulan yang berbeda, misalnya James dalam menilai kebebasan, tidak ada kebenaran mutlak atau berdiri sendiri, sebab pengalaman akan berjalan terus dan benar akan selalu berubah, yang ada adalah benar-benar. Semantara Dewey menilai kebenaran adalah dengan penyelidikan, dan yang benar adalah apa yang ada pada akhirnya disetujui oleh semua orang yang menyelidiki. Karena kebenaran memiliki nilai fungsional yang tetap, tetapi pernyataan-pernyataan yang dianggap benar senantiasa dapat berubah. Kemiripan di antara keduanya tersebut terkadang tidak diakui, barangkali keduanya ingin menunjukkan karyanya yang harus dibedakan dan dihargai.
Pragmatis apabila dilihat dari sisi kelebihan atau keuntungan mempelajarinya adalah kemudahan hidup yang tidak perlu berangan-angan atau berpikir yang muluk-muluk, namun cukup berpikir yang praktis dengan mempelajari pengalaman-pengalaman sendiri yang telah dilalui. Pengalaman-pengalaman itu termasuk hal-hal yang bersifat pribadi berkaitan dengan mistis atau agama, yang penting memberikan manfaat kedamaian hati, keberanian hidup. Demikian William James mengungkapkan sebagai seorang yang beragama Protestan. Nampaknya James dan Dewey dalam memandang agama mempunyai pikiran yang sama yaitu mengakui adanya pengalaman mistik seseorang yang tidak dapat dibuktikan dengan fakta, tetapi yang penting pada kehidupan selanjutnya menjadi lebih baik. Karena mampu mengambil nilai manfaat praktis dari pengalaman mistis tersebut. Sebaliknya cara-cara James dan Dewey ini berbeda ketika mencari epistemologinya dalam kajian agama sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Sementara kelemahan yang terdapat pada filsafat pragmatisme adalah pada ketiga doktrin pragmatis yang perlu ditinjau lagi. Misalnya menolak intelektualitas yaitu rasionalitas sebagai sebuah metode. Persepsinya tidak ada planning atau rencana dalam pemikiran untuk melakukan atau mengerjakan sesuatu, karena semuanya berjalan tanpa dikendalikan oleh akal. Pengalaman-pengalaman adalah yang terpenting yang dapat memberikan nilai praktis hidup. Namun apa yang terjadi jika pengalaman-pengalaman yang muncul adalah pengalaman-pengalaman yang mengerikan (pembunuhan, perkosaan, kecelakaan, dan lain-lain), yang menimbulkan akibat trauma. Barangkali pengalaman-pengalaman inilah yang harus ditinggalkan karena berakibat pada kecemasan dan keragu-raguan dalam dirinya.
Ditolaknya rasionalisme ini didasari oleh background William sebagai seorang psikolog yang berusaha mengombinasikan antara psikologi dan filsafat. Usaha ini nampak pada karyanya the sentiment of rationality yang ditulis pada tahun 1879 memperlihatkan psikologi memasuki filsafat. Masalah utama yang dihadapi filosof adalah rasio atau pengertian sesuatu, maka tahun 1884 James menulis the dilemma of determinism yang memperlihatkan sensitivitasnya terhadap aspek moral dan metafisika Kemauan bebas manusia. Filsafat membutuhkan penjelasan dari psikologi bila menyangkut masalah agama sementara filsafat memerlukan tindakan nyata dalam masalah kehidupan, yaitu filsafat tentang sesuatu yang khusus dan kongkrit yang disebut dengan pragmatisme.
Masalah agama atau kepercayaan bagi James merupakan pilihan yang ditawarkan dengan opsinya yaitu living or died, forced or avoidable dan momentous or trivial. Ini berbeda dengan Dewey bahwa baginya semua agama atau kepercayaan itu merupakan sebuah pengakuan kepercayaan yang diyakini kebenarannya. Doktrin ini mampu membangkitkan keyakinan pada dirinya dalam menghadapi kehidupan. Makna agama bagi kedua tokoh ini dihayati untuk memperoleh ketenangan dan kedamaian hidup.
KESIMPULAN
Pragmatisme merupakan simbol perkembangan filsafat diabad kontemporer yang mendapat tempat tersendiri khususnya masyarakat Amerika Serikat. Diakui atau tidak pragmatisme adalah bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan yang dihargai oleh dunia intelektual, terbukti ilmu pragmatis ini mendapat tempat dan dipelajari di Perguruan Tinggi, sebagai bagian bahan kajian filsafat.
William James dan John Dewey adalah dua tokoh pragmatis yang mampu menunjukkan pada dunia intelektual tentang bentuk filsafat barunya, sebagaimana telah dijelaskan bahwa format baru itu adalah kombinasi dari ilmu psikologi dengan filsafat terutama yang dipromotori oleh William James dengan membentuk ilmu praktis yang disebut dengan Pragmatisme. Di sisi lain John Dewey berusaha mengembangkan pragmatisme dengan metode barunya yang disebut Instrumentalisme, meskipun keduanya menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang berbeda, tetapi pada dasarnya keduanya bermuara dari satu asal yaitu dengan menggunakan logika pengamatan yang terformulasikan pada penolakan segala intelektual, absolutisme dan meremehkan logika formal.
Mempelajari filsafat tidak harus meninggalkan keyakinan agama, namun sebaliknya justru merupakan alat utama dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Agama bukan penghalang untuk mencapai sukses tapi lebih dari itu yakni sebagai motivasi untuk mencari kebenaran. Pengalaman agama merupakan keyakinan yang dimiliki seseorang yang terkadang sulit dipercayai dengan logika. Oleh karena itu kedua tokoh pragmatisme ini mengakui adanya agama atau kepercayaan, meskipun sejarah pragmatis pada awalnya sangat anti metafisik spiritual tetapi akhirnya pada generasi kedua yaitu Hegelian telah mewarisi metafisik dari Jerman. Refleksi pemikiran agama James dan John Dewey berusaha memberikan sebuah nilai yang menarik dan patut dikaji pada kehidupan umat beragama saat ini. Paling tidak hasil kolaborasinya itu dapat diambil, yaitu sebagai pengalaman mistik yang dapat memberikan ketenangan dan kedamaian hidup bagi penganut agama.
Penilaian terhadap pragmatisme bukan berarti mengkaburkan pemahaman makna praktis yang telah dipopulerkan oleh William James maupun John Dewey, tetapi karena rasa interest terhadap kajian ini, sekalipun penilaian sisi kelebihan dan kekurangan tersebut adalah masih sangat terbatas untuk didiskusikan, karena yang demikian itulah adalah bentuk kesempurnaan pemikiran yang dihasilkan manusia.
PENUTUP
Demikian yang dapat kami sampaikan. Kritik dan saran kami harapkan dari semua pihak demi pembenahan makalah kami.
Wallahulmuwaffiq ila aqwamitthoriq
Daftar Pustaka
Bronstein J. Daniel dkk, Basic Problems Of Philosophy, America : The United States Of America, 1964
Encyclopedia Britanica, The university of Chicago, 1952
Hadiwijono Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat- 2 Yogyakarta : Kanisius, 1980
James William, Pragmatism, Amerika : New American Library, 19740
Praja Juhaya S., Aliran-Aliran Filsafat dan Etika Bandung : Yayasan Piara, 1997
Popper R. Karl, The Logic Of Scientific Discovery, London : Routladge, 1980
Russel, Betrand History Of Western Philosophy , tt, 1945
Solomon Robert C., Kathleen M. Higgins, A short History Of Philosophy, New York : Oxford University Press, 1996
Tafsir Ahmad, Filsafat Umum Bandung : Remaja Rosdakarya, 1990
Wibisono Koento, Misnal Munir, Makalah, Pemikiran Filsafat Barat : Sejarah Dan Peranannya Dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Koento Wibisono, Misnal Munir, Makalah, Pemikiran Filsafat Barat : Sejarah Dan Peranannya Dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan, hlm 24
William James, Pragmatism ( Amerika : New American Library, 19740), hlm 438
Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika (Bandung : Yayasan Piara, 1997), hlm 115
William James, Ibid, hlm 43
Harun Hadiwijono, Ibid, hlm 130
Ibid, hlm 131
Juhaya S. Praja,Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, Ibid, hlm 115
Harun Hadiwijono, Ibid, hlm 131
William James, Ibid, hlm 47
Harun Hadiwijono, Sari Filsafat Barat-2, Yogyakarta, Kanisius, 1980, hlm 132
Ibid, hlm 132
Ayah William James yaitu Henry James adalah seorang yang terkenal dan berkebudayaan tinggi dan pemikir kreatif. lihat Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1990), 190. Harun Hadiwijono, Ibid, hlm 131
Psikologi menurut James adalah suatu ilmu pengetahuan tentang gejala-gejala yang sejajar dengan ilmu pengetahuan alam, dimana psikologi mempunyai hukum-hukum dan metode sendiri.lihat Harun Hadiwijono, Ibid, hlm 131
Betrand Russel, History Of Western Philosophy (tt, 1945), hlm 766
Juhaya S. Praja, Ibid, hlm 116
Lihat Encyclopedia Britanica ( The University Of Chiago, 1952), vi
Robert C.Solomon, Kathleen M. Higgins, A short History Of Philosophy ( New York : Oxford University Press, 1996), hlm 259
Harun Hadiwijono, Ibid, hlm 132
Juhaya S. Praja, Ibid, hlm 116
Karl R. Popper, The Logic Of Scientific Discovery (London : Routladge, 1980), hlm 137
Daniel J. Bronstein dkk, Basic Problems Of Philosophy (America : The United States Of America, 1964), 488
Juhaya, Opcit, hlm 116
Robert C. Salomon, A Short History philosophy, Ibid, hlm 262
Harun Hadiwiyono, Ibid, hlm 134
Juhaya S. Praja, Ibid, hlm 117
Daniel J. Bronstein, Basic Problems Of Philosophy (America : The United States Of America, 1964), hlm 496
Sebuah doktrin dari teori pragmatismenya dengan tiga syarat yang menjadi pegangan antara filsafat pragmatisme yaitu menolak intlektualisme, absolutisme dan meremehkan logika formal, lihat Betrand Russel History of Western Philosophy, Ibid 766. Radical empiristion dipublikasikan pada tahun 1904 dalam sebuah Essay yang disebut “Conscousness” tujuan utama menolak tentang hubungan subjek objek fundamental, Ibid, hlm 767
Apa pengalaman itu? Cara terbaik menemukan jawabannya adalah dengan membedakan antara peristiwa (event) yang tidak dialami dan peristiwa yang dialami, kehujanan adalah pengalaman, tetapi hujan dimana berada adalah tidak meninggalkan sesuatu yang bukan pengalaman. Kerena ada adalah bukan pengalaman kecuali dimana ada itu tinggal.lihat Betrand Russel, History Of Western Philosophy, Ibid, 768
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1990), hlm 192
Robert C. Solomon, Kathleen M. Higgins, A Short History Of Philosophy ( New York : Oxford University Press, 1966), hlm 261

Tidak ada komentar:

Posting Komentar