Selasa, 22 Maret 2011

makalah ilmu kalam

DASAR-DASAR QURANI DAN SEJARAH KEMUNCULAN PERSOALAN-PERSOALAN ILMU KALAM

A.Nama dan Pengertian Ilmu Kalam
Ilmu kalam sering juga disebut Ilmu Ushuluddin
Menurut beberapa tokoh,pengertian ilmu kalam adalah sebagai berikut;
1. Musthafa Abdul Raziq
“Ilmu Kalam yang berkaitan dengan akidah imam ini sesungguhnya dibangun diatas argumentasi –argumentasi rasional atau ilmu yang berkaitan dengan akidah imam ini bertolak atas bantuan nalar.”
2. Al Farabi
“Ilmu Kalam adalah disiplin ilmu yang membahas tentang dzat dan sifat Allah beserta eksistensi semua yang mungkin, mulai yang berkenaan dengan masalah dunia sampai masalah sesudah mati yang berdasarkan doktrin Islam. Stressing akhirnya adalah memproduksi ilmu Ketuhanan secara filosofis.”
3. Ibnu Khaldun
“Ilmu Kalam adalah disiplin ilmu yang mengandung berbagai argumentasi tentang akidah imami yang diperkuat dalil-dalil nasional.”
Dari bebepa keterangan diatas bisa disimpulkan bahwa ilmu kalam yaitu ilmu yang membahas berbagai masalah ketuhanan dengan menggunakan argumentasi logika serta filsafat.
A. Sumber-Sumber Ilmu Kalam
• Al-Qur'an
• Al- Hadist
• Pemikiran manusia
• Insting
B. Sejarah Kemunculan Persoalan-Persoalan Kalam
Menurut Harun Nasution, kemunculan persoalan kalam dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan Ustman bin Affan yang beruntut pada persoalan Muawiyah atas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib yang mengkristal menjadi perang Siffin yang kemudian menghasilkan keputusan tahkim.
persoalan kalam yang pertama kali muncul adalah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir, dalam arti siapa yang keluar dari Islam dan siapa yang tetap Islam. Sehingga persoalan ini menimbulkan beberapa aliran antara lain;
• Aliran Khawarij
• Aliran Murjiah
• Aliran Mu’tazilah
• Airan Qodariyah
• Aliran Jabariyah
• Aliran Asy’ariyah(Abu Al Hasan Al Asy’ari)
• Aliran Maturidiyah (Abu Mansur M. Al Maturidi)
Aliran Asy'ariyah dan Maturidiyah keduanya sering disebut Ahlussunah wal jamaah.
KERANGKA BERPIKIR
ALIRAN-ALIRAN ILMU KALAM
Perbedaan metode berfikir secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua macam, yaitu kerangka berfikir rasional dan kerangka berfikir tradisional.
Metode berpikir rasional memiliki prinsip-prinsip, sebagai berikut:
• Hanya terikat pada dogma-dogma yang dengan tegas dan jelas disebut dalam Al Quran dan Hadist, yaitu ayat yang Qoth’i.
• Memberikan kebebasan pada manusia dalam berbuat dan berkehendak serta mendirikan daya yang kuat kepada akal Mu’tazilah.
Metode berpikir tradisional memiliki prinsip-prinsip, sebagi berikut:
• Terikat pada dogma-dogma dan ayat-ayat yang mengandung arti dzanni.
• Tidak memberikan kebebasan kepada manusia dalam berkehendak dan berbuat.
• Memberikan daya yang kecil kepada akal.
Asy’ariyah
perbedaan kerangka berpikir dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kalam.
1. Aliran Antroposentris
Menganggap bahwa hakikat realitas transenden bersifat intrakosmos dan personal.
2. Teolog Teosentris
Hakikat realitas transenden bersifat suprakosmos personal dan ketuhanan.
3. Aliran Konvergensi / Sintesis
Hakikat realitas transenden bersifat supra sekaligus intrakosmos, personal dan impersonal.
4. Aliran Nihilis
Hakikat realitas transendental hanyalah ilusi.
HUBUNGAN ILMU KALAM,
FILSAFAT DAN TASAWUF
A. Titik Persamaan
• Ketiga ilmu tersebut membahas masalah yang berkaitan dengan ketuhanan.
• Baik ilmu kalam, filsafat maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama, yaitu kebenaran.
B. Titik Perbedaan
Perbedaan diantara ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya.
• Ilmu kalam
- Sebagai ilmu yang menggunakan logika (disamping argumentasi-argumentasi maqliyah).
- Berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama yang sangat tampak nilai-nilai apologinya.
- Berisi keyakinan keyakinan agama yang dipertahankan melalui argumen-argumen rasional.
- Bermanfaat sebagai ilmu yang mengajak orang yang baru untuk megenal rasio sebagai upaya untuk mengenal Tuhan secara rasional.
- Ilmu ini menggunakan metode dialektika (jadaliyah/ dialog keagamaan).
- Berkembang menjadi teologi rasional dan tradisional.
• Filsafat
- Sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional.
- Menggunakan metode rasional.
- Berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep.
- Berperan sebagai ilmu yang mengajak kepada orang yang mempunyai rasio secara prima untuk mengenal Tuhan secara lebih bebas melalui pengamatan dan kajian alam dan ekosistemnya secara langsung.
- Berkembang menjadi sains dan filsafat sendiri.
- Kebenaran yang dihasilkan ilmu filsafat : kebenaran korespomdensi, koherensi, dan fragmatik.
• Tasawuf
- Lebih menekankan rasa daripada rasio.
- Bersifat subyektif, yakni berkaitan dengan pengalaman.
- Kebenaran yang dihasilkan adalah kebenaran Hudhuri.
- Berperan sebagai ilmu yang memberi kepuasan kepada orang yang telah melepaskan rasionya secara bebas karena tidak memperoleh apa yang ingin dicarinya.
- Berkembang menjadi tasawuf praktis dan teoritis.
C. Titik Singgung Antara Ilmu Kalam dan Ilmu Tasawuf
• Ilmu Kalam
- Dalam ilmu kalam di temukan pembahasan iman yang definisinya, kekufuran dan menifestasinya serta kemunafikan dan batasannya.
- Ilmu kalam berfungsi sebagai pengendali ilmu tasawuf.
- Ilmu kalam dapat memberikan kontribusi kepada ilmu tasawuf.
• Ilmu Tasawuf
- Ilmu tasawuf merupakan penyempurnaan ilmu tauhid (ilmu kalam).
- Ilmu tasawuf berfungsi sebagai wawasan spiritual dalam pemahaman kalam.
- Ilmu tasawuf mempunyai fungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan–perdebatan kalam.
- Amalan-amalan tasawuf mempunyai pengaruh yang besar dalam ketauhidan.
- Dengan ilmu tasawuf, semua persoalan yang berada dalam kajian ilmu tauhid (ilmu kalam) terasa lebih bermakna, tidak kaku, tetapi lebih dinamis dan aplikati
KHAWARIJ DAN MURJI’AH
A. Khawarij
1. Latar Belakang Kemunculan
Khawarij merupakan aliran / kelompok pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim) dalam perrang shiffin dengan kelompok Bughat (pemberontak) Muawiyah bin Abi Sufyan perihal persengketaan khalifah.
2. Khawarij dan Doktri-Doktrin Pokoknya
Diantara doktrin-doktrin pokok khawarij adalah sebagai berikut :
• Doktrin politik
a. Khalifah atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam.
b. Khalifah tidak harus dari keturunan Arab.
c. Khalifah dipilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan Syariat Islam.
d. Khalifah sebelum Ali adalah sah. Tetapi setelah than ke tujuh dari kekhalifahannya, Ustman telah dianggap menyeleweng.
e. Khalifah Ali adalah sah, tetapi setelah terjadi arbritase (tahkim), ia dianggap telah menyeleweng.
f. Muawiyah dan Amr bin Ash serta Abu Musa Al Asy’ari juga dianggap menyeleweng dan telah menjadi kafir.
g. Pasukan perang jamal yang menyerang Ali juga kafir.
• Doktrin Teologi
a. Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim sehingga harus dibunuh.
b. Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka.
c. Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng.
d. Adanya wa’ad dan wa’id (orang yang baik harus masuk surga sedang orang yang jahat harus masuk neraka).
• Doktrin Sosial
a. Amar ma’ruf nahi munkar.
b. Memalingkan ayat-ayat Al Qur’an yang tampak mutasyabihat.
c. Qur’an adalah makhluk.
d. Manusia bebas memutuskan peruatannya bukan dari Tuhan.
3. Perkembangan Khawarij.
Para pengamat berbeda pendapat tentang jumlah sekte yang terbentuk akibat perpecahan yang terjadi pada tubuh khawarij. Akan tetapi mereka sepakat bahwa subsekte khawarij yang besar terdiri dari beberapa macam, yaitu:
a. Al- Muhakkimah
b. Al-Azriqah
c. An-Nadjat
d. Al-Baihasiyah
e. Al-Ajaridah
f. As-Salabiyah
Harun Nasution mengidentifikasi beberapa indikasi aliran yang dapat dikategorikan sebagai aliran khawarij, yaitu sbb. :
a. Mudah mengafirkan orang yang tidak segolongan dengan mereka walaupun orang itu adalah penganut agama Islam
b. Islam yang benar adalah Islam yang mereka fahami dan amalkan, sedangkan Islam sebagaimana yang difahami dan diamalkan golongan lain tidak benar.
c. orang-orang Islam yang tersesat dan menjadi kafir perlu dibawa kembali ke Islam yang sebenarnya yaitu Islam seperti yang mereka fahami dan amalkan.
d. Karena pemerintahan dan yang tidak sefaham dengan mereka adalah sesat, maka mereka memiliki imam dari golongan mereka sendiri.
e. Mereka bersifat fanatik dalam faham dan tidak segan-segan menggunakan kekerasan dan membunuh untuk mencapai tujuan mereka.
B. Murji’ah
Murji’ah adalah kelompok / aliran yang tetap pada barisan Ali bin Abi Thalib. Ada beberapa teologi yang berkembang mengenai kemunculan murji’ah, diantaranya :
1. Gagasan irja / arja dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat Islam ketika terjadi pertikaian politik dan juga bertujuan untuk menghindari sektarionisme.
2. Gagasan irja yang merupakan baris doktrin murji’ah, muncul pertama kali sebagai gerakan politik diperlihatkan oleh cucu Ali bin Abi Thalib, Al Hasan bin Muhammad Al Hanafiyah.
C. Doktrin – Doktrin Murji’ah
Ajaran pokok murji’ah pada dasarnya bersumber dari gagasan atau doktrin irja atau arja’a yang diaplikasikan dalam banyak persoalan, baik persoalan politik maupun teologis.
Berkaitan dengan doktrin teologi murji’ah, W. Montgomery Watt merincinya sebagai berikut :
a. Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Muawiyah hingga Allah memutuskannya kelak di akhirat
b. Penangguhan Ali untuk menduduki ranting keempat dan peringkat Al- Khalifah Ar- Rasyidin.
c. Pemberian harapan (giving of hope) terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahnat dari Allah.
Abu A’la Al Maududi menyebutkan dua doktrin pokok ajaran murji’ah, yaitu :
a. Iman adalah pecaya kepada Allah dan rasulnya saja. Adapun perbuatan tidak merupakan suatu keharusan bagi adanya iman.
b. Dasar keselamatan adalah iman semata.
c. Sekte-sekte Murji’ah.
JABARIYAH DAN QADARIYAH
A. Jabariyah
1. Asal Usul Pertumbuhan Jabariyah
Faham Al-Jabar pertama kali diperkenalkan oleh Ja’ad bin Dirham kemudian disebarkan oleh Jahm bin Shafwan dari Khurasan. Faham Al-Jabar juga dikembangkan oleh tokoh lainnya diantaranya Al-Husain bin Muhammad An-Najr dan Ja’ad bin Dirrar.
Faham Al-Jabar sejak awal periode Islam. Benih-benih itu terlihat pada masa Rasulullah tentang Taqdir dan Qadha’ Qadar. Namun Al-Jabar sebagai pola pikir dan aliran yang dianut, dipelajari dan dikembangkan baru terjadi pasa pemerintahan Daulah bani Umayyah.
2. Para Pemuka Jabariyah dan Doktrin-Doktrinnya
Menurut Asy Syaratsani, Jabariyah dapat dikelompokkan mejadi dua bagian, ekstrim dan moderat.
a. Ekstrim
Doktrin Jabariyah ekstrim berpendapat bahwa segala perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri, tetapi perbuatan yang dipaksakan atas dirinya.
Diantara pemuka jabariyah ekstrim adalah sebagai berikut :
1. Jahm bin Sufyan
Pendapat Jahm yang berkaitan dengan persoalan teologi adalah sebagai berikut :
• Manusia tidak mampu berbuat apa-apa
• Surga dan neraka tidak kekal
• Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati
• Kalam Tuhan adalah makhluk
2. Ja’ad bin Dirham
Doktrin pokok yang secara umum sama dengan pikiran Jahm, Al-Ghurabi menjelaskan sebagai berikut :
• Al-Qur’an itu adalah makhluk
• Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk
• Manusia dipaksa oleh Allah dalam segala-galanya
b. Moderat
Jabariyah moderat mengatakan bahwa Tuhan memang menciptakan perbuatan manusia. Tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya.
Yang termasuk tokoh Jabariyah Moderat adalah sebagai berikut :
1. An Najjar
Diantara pendapat-pendapatnya adalah:
• Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu.
• Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat.
2. Adh-Dhihar
Diantara pendapat-pendapatnya adalah :
• Suatu perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pelaku secara bersamaan, artinya perbuatan manusia tidak hanya ditimbulkan oleh Tuhan, tetapi juga oleh manusia itu sendiri.
• Manusia turut berperan dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
• Tuhan dapat dilihat di akhirat melalui indra keenam
• Hujjah yang dapat diterima setelah Nabi adalah Ijtihad.
• Hadist ahad tidak dapat dijadikan sumber dalam menetapkan hukum.
B. Qodariyah
1. Asal usul Kemunculan Qodariyah
Qodariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan.
Menurut Ahmad Amin ada ahli teologi yang mengatakan bahwa Qodariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad Al Jauhari dan Ghailan Ad Dimasyqi.
Menurut ilmu nabatah dalam kitabnya Syarh Al Uyun mengatakan bahwa yang pertama kali memunculkan faham Qadariyah adalah orang Irak yang semula beragama Kristen kemudian masuk Islam dan balik lagi ke agama Kristen (Susan).
Para peneliti kesulitan untuk menentukan persoalan pertama kalinya muncul Qodariyah , karena penganut Qodariyah kala itu banyak sekali, di antaranya :
a. Sebagian terdapat di Irak, buktinya bahwa gerakan ini terjadi pada pengajian Hasan Al Basri.
b. Sebagian lain berpendapat bahwa faham ini muncul di Damaskus. Diduga disebabkan oleh pengaruh orang-orang Kristen yang banyak dipekerjakan di istana-istana khalifah.
2. Doktrin-Doktrin Qodariyah.
Diantara doktrin-doktrin Qodariyah adalah sbb :
a. Bahwa manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya.
b. Segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri.
MU’TAZILAH
A. Asal Usul Kemunculan Mu’tazilah
Mu’tazilah adalah golongan yang mengatakan bahwa orang melakukan dosa besar bukan mu’min dan bukan kafir, tetapi menduduki tempat diantara mu’min dan kafir.
Secara teknis, istilah Mu’tazilah menunjuk pada dua golongan yaitu :
• Golongan pertama (Mu’tazilah I) muncul sebagai respon politik murni. Golongan ini tumbuh sebagai kaum netral politik.
• Golongan kedua (Mu’tazilah II) muncul sebagai respon persoalan teologis yang berkembang di kalangan Khawarij dan Murji’ah akibat adanya peristiwa tahkim.
B. Al-Ushul Al-Hasanah : lima ajaran dasar teologi Mu'tazilah
Lima Ajaran Dasar Teologi Mu’tazilah
1. At-Tahuhid
a. Tuhan harus disucikan dari segala sesuatu yang dapat mengurangi arti kemahaesaan Nya.
b. Untuk memurnikan keesaan Tuhan (Tanzih), mu’tazilah menolak konsep Tuhan memiliki sifat-sifat, penggambaran fisik Tuhan dan Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala.
c. Tidak ada satupun yang dapat menyamai Tuhan.
2. Al-‘Adl (Keadilan)
Ajaran tentang keadilan ini berkaitan erat dengan beberapa hal, antara lain:
a. Perbuatan manusia
• Menurut Mu’tazilah manusia bebas melakukan dan menciptakan perbuatannya sendiri, terlepas dari kehendak dan kekuasaan Tuhan.
b. Berbuat baik dan terbaik
• Kewajiban Tuhan untuk berbuat baik bahkan yang terbaik bagi manusia.
c. Mengutus Rasul
• Mengutus rasul kepada manusia adalah kewajiban Tuhan
3. Al-Wa’d wal Wa’id (janji dan ancaman)
Ajaran ini menyebutkan bahwa perbuatan Tuhan terikat dan dibatasi oleh janji Nya sendiri yaitu memberi pahala surga bagi yang berbuat baik dan mengancam siksa neraka bagi orang yang durhaka. Begitu pula janji Tuhan untuk memberi pengampunan pada orang yang bertaubat Nashuha.
4. Al-Manzilah bain Al-Manzilatain
Pokok ajaran ini adalah bahwa orang mukmin yang berdosa besar dan belum taubat bukan lagi mukmin atau kafir, tetapi fasiq.
5. Al-Amr bin Al-Ma’ruf An-Nahyan Munkar (menyuruh kebajikan dan melarang kemungkaran)
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mukmin dalam beramar ma’ruf dan nahi mungkar, diantaranya :
a. Ia mengetahui perbuatan yang disuruh itu memang ma’ruf dan yang di larang memang mungkar.
b. Ia mengetahui bahwa kemungkaran telah nyata dilakukan orang.
c. Ia mengetahui bahwa perbuatan amar ma’ruf nahi mungkar tidak akan membawa madharat yang lebih besar.
d. Ia mengetahui bahwa tindakannya tidak akan membahayakan dirinya dan hartanya.
SYI’AH
A. rtian dan Asal Usul Kemunculan Syi’ah
Syi’ah menurut bahasa berarti pengikut, pendukung, partai, atau kelompok. Sedangkan secara terminologis adalah sebagian kaum muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad SAW atau orang yang disebut ahli al-bait.
Mengenai kemunculan Syi’ah, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ahli, diantaranya :
• Abu zahrah
Syi’ah mulai muncul pada masa akhir pemerintahan Ustman bin Affan kemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib.
• Kalangan Syi’ah
Kemunculan Syi’ah berkaitan dengan pengganti (khilafah) nabi SAW. Mereka menolak pemerintahan Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan karena dalam pandangan mereka hanya Ali bin Abi Thaliblah yang berhak menggantikan nabi.
B. Syi’ah Istna Asyariyah (Syi’ah Dua Belas / Syi’ah Imamiyah)
1. Asal Usul Penyebutan Imamiyah dan Syi’ah Itsna Asyariyah
Dinamakan Syi’ah Imamiyah karena menjadi dasar akidahnya adalah persoalan imam dalam arti pimpinan religio politik.
Syi’ah Itsna Asyariyah sepakat bahwa Ali adalah penerima wasiat nabi Muhammad. Adapun Al Ausia(penerima wasiat) setelah Ali bin Abi Thalib adalah keturunan dari garis Fatimah, yaitu Hasan bin Ali kemudian Husen bin Ali sebagaimana yang telah disepakati. Setelah Husen adalah Zaenal bin Abidin, kemudian secara berturut-turut M.Al-Baqir, Abdullah Ja’far Ash-Shidiq, Musa Al-Kahzim, Ali Ar-Rida, Muhammad Al-Jawwad, Ali Al-Hadi, Hasan Al-Askari, dan M.Al-Mahdi sebagai imam kedua belas. Kedua belas imam tersebut dikenal dengan sebutan Itsna Asyariyah.
2. Doktrin –Doktrin Itsna Asyariyah
Didalam sekte Syi’ah Asyariyah dikenal konsep ushul addin. Konsep Ushuluddin mempunyai lima akar :
a. Tauhid Un(The Devine ity)
b. Keadilan (the Devine Justice)
c. Nubuwwah (Apostleship)
d. Ma’ad (The Last day)
e. Imamah (The Devine Guidance)
C. Syi’ah Sab’iyah (Syi’ah Tujuh)
1. Asal Penyebutan Syi’a Sab’iyah
Istilah Syi’ah Sab’iyah memberi pengertian bahwa Syi’ah Sab’iyah hanya mengakui tujuh imam, yaitu :

- Ali
- Hasan
- Husein
- Ali Zaenal Abidin
- M. Al-Baqir
- Ja’far Ash-Shiddiq
- Isma’il bin Ja’far


2. Doktrin Imamah Dalam Pandangan Syi’ah Sab’iyah
Para pengikut Syi’ah Sab’iyah percacya bahwa Islam dibangun oleh tujuh pilar. Tujuh pilar tersebut adalah iman, thaharah, salat, shaum, haji, dan jihad.
Dalam pandangan Syi’ah Sab’iyah imam hanya dapat diterima sesuai dengan keyakinan mereka, yakni melalui walayah (kesetiaan) kepada imam zaman. Imam adalah seseorang yang menuntun umatnya kepada pengetahuan (ma’rifat).
Syarat-syarat seorang imam dalam pandangan Syi’ah Sab’iyah adalah sebagai berikut:
a. Imam harus dari keturunan Ali melalui perkawinannya dengan Fatimah yang kemudian dikenal dengan ahlul bait.
b. Pengikut Mukhtar Ats Tsaqafi mempropagandakan bahwa kaimaman harus dari keturunan Ali melalui pernikahannya dengan seorang wanita dari bani Hanifah.
c. Imam harus berdasarkan dari penunjukan / nas.
d. Keimaman jatuh pada anak tertua.
e. Imam harus maksum (immunity from sin an error).
f. Imam harus dipegang oleh seorang yang paling baik (best of man)
D. Syi’ah Ghulat
1. Asal-Usul Penamaan Syi’ah Ghulat
Syi’ah Ghulat adalah kelompok pendukung Ali yang memiliki sifat berlebih-lebihan atau ekstrim. Gelar ekstrim (Ghuluw) yang diberikan kepada kelompok ini berkaitan dengan pendapatnya yang janggal, yakni ada beberapa orang yang secara khusus dianggap Tuhan dan juga ada beberapa orang yang dianggap rasul setelah Nabi Muhammad.
Sekte-sekte yang terkenal antara lain :

- Sabahiyah
- Kamaliyah
- Albaiyah
- Mughriyah
- Mansuruyah
- Khattabiyah
- Khayaliyah
- Hisamiyah
- Nu’miyah
- Yunusiyah
- Nasyisiyah wa Ishafiyah


2. Doktrin-doktrin Syi’ah Ghulat
Menurut Syahratsani, ada empat yang membuat mereka ekstrim, yaitu :
a. Tanasukh
Keluarnya roh dari satu jasad dan mengambil tempat pada jasad yang lain.
b. Bada’
Keyakinan bahwa Allah mengubah kehendakNya sejalan dengan perubahan ilmuNya, serta dapat memerintahkan dengan sebaliknya.
c. Raj’ah
Ada hubungannya dengan mahdiyah. Syi’ah Ghulat mempercayai bahwa imam Mahdi Al Muntazdar akan datang ke bumi.
d. Tasbih
Artinya menyerupakan/mempersamakan. Syi’ah Ghulat menyerupakan salah seorang imam mereka dengan Tuhan, menyerupakan Tuhan dengan makhluk.
Moojan Momen menambahnya dua, yaitu :
a. Hulul
Tuhan berada pada setiap tempat, berbicara dengan semua bahasa, dan ada pada setiap individu manusia.
b. Ghaiba
Menghilangnya Imam Mahdi
SALAF (IBN HAMBAL DAN IBN TAIMIYAH)
Beberapa Definisi Salaf Menurut Para Ahli Di Antaranya :
1. Tabawi Mahmud Sa’ad
Salaf : Ulama Terdahulu
2. Asy Syahratsani
Salaf: Yang tidak menggunakan takwil (dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat) dan tidaak mempunyai faham tasybih.
3. Mahmud Al- Bisybisyi
Salaf adalah sahabat, Tabi’in dan Tabi’at yang dapat diketahui dari sikapnya menampik penafsiran yang mendalam mengenai sifat-sifat Allah yang menyerupai segala sesuatu yang baru untuk menyucikan dan mengagungkan Nya.
Ibrahim Madzkur menguraikan karakteristik ulama salaf / salafiyah sebagai berikut:
1. Mereka lebih mendahulukan riwayat (naql) daripada dirayah (aql)
2. Dalam persoalan pokok-pokok agama (ushuluddin) dan persoalan-persoalan cabang agama (furu’uddin) mereka hanya bertolak dari penjelasan dari AlKitab dan As Sunah.
3. Mereka mengimani Allah tanpa perenungan lebih lanjut (tentang dzatNya) dan tidak pula mempunyai faham anthropomorpisme (tasybih).
4. Mereka memahami ayat-ayat Al Qur’an sesuai dengan makna lahirnya dan tidak berupaya untuk menakwilkannya.
Ada beberapa tokoh yang di kategorikan sebagai ulama salaf, yaitu :
- Abdullah bin Abbas
- Abdullah binUmar
- Umar bin Abdul Aziz
- Az-Zuhri
- Ja’far Ash Shadiq
- Imam madzhab empat (Hanafi, Hambali, Syafi’i, Maliki)
Menurut Harun Nasution, secara kronologis salafiyah bermula dari Imam Ahmad bin Hanbal. Lalu ajarannya di kembangkan Imam Ibn Taimiyah, kemudian disuburkan oleh Imam Muhammad bin Abd. Wahab, dan akhirnya berkembang di dunia Islam secara sporadis
A. Imam Ahmad bin Hambal
1. Riwayat Singkat Hidup Ibn Hambal
Ia dilahirkan di Baghdad tahun 164 H/ 780 M dan wafat tahun 241 H / 855 M. Ibunya bernama Shahifah binti Maimunah dan ayahnya bernama Muhammad bin Hanbal bin Hillal.
Ibn Hambal di kenal sebagai seorang Zahid. Hampir setiap hari ia berpuasa dan hanya tidur sebentar di malam hari. Ia juga dikenal sebagai seorang dermawan.
2. Pemikiran Teori Ibn Hambal
a. Tentang ayat-ayat mutasyabihat
Dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an Ibn Hambal lebih suka menerapkan pendekatan lafdzi (tekstual) daripada pendekatan ta’wil, terutama yanng berkaitan dengan sifat-sifat Tuhan dan ayat-ayat mutasyabihat.
b. Tentang Status Al Qur’an
Ibn Hambal tidak mengakui bahwa Al Qur’an adalah makhluk. Ia mengatakan bahwa Al Qur’an tidak di ciptakan. Hal ini sejalan dengan pokok pikirnya yang menyerahkan ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat Allah kepada Allah dan rasulnya.


B. Ibn Taimiyah
1. Riwayat Singkat Ibn Taimiyah
Nama lengkapnya adalah Taqiyuddin Ahmad bin Abi Al-Halim bin Taimiyah. Lahir di Harran, Senin 10 Rabiul Awal tahun 661 H dan wafat pada malam Senin 20 Zulqaidah 729 H. Ayahnya bernama Syihabuddin Abu Ahmad Abu Halim.
Ibu Taimiyah merupakan tokoh salaf yang ekstrim karena kurang memberikan ruang gerak kepada akal. Ibn Taimiyah terkenal sangat cerdas, sehingga pada usia 17 tahun ia telah dipercaya masyarakat untuk memberikan pandangan-pandangan mengenai masalah hukum secara resmi.
2. Pemikiran Teologi Ibn Taimiyah
Diantara pikiran-pikiran Ibn Taimiyah adalah sebagai berikut :
a. Sangat berpegang teguh pada nas (teks Al Qur’an dan Al Hadist).
b. Tidak memberikan ruang gerak yang bebas pada akal.
c. Berpendapat bahwa Al Qur’an mengandung semua ilmu agama.
d. Di dalam Islam yang diteladani hanya tiga generasi saja (sahabat, tabi’in , dan tabi’i tabi’in).
e. Allah tidak memiliki sifat yang bertentangan dengan tauhid dan tetap mentanzihkannya.
Pandangan Ibn Taimiyah tentang sifat-sifat Allah.
a. Percaya sepenuh hati tentang sifat-sifat Allah yang Ia sendiri atau Rasul-Nya mensifati.
b. Percaya sepenuh hati pada nama-nama-Nya yang Allah atau Rasul-Nya sebutkan.
c. Menerima sepenuhnya sifat dan nama Allah.
Ibn Taimiyah mengakui tiga hal dalam masalah keterpaksaan dan ikhtiar manusia, yaitu :
a. Allah pencipta segala sesuatu.
b. Hamba pelaku perbuatan yang sebenarnya dan mempunyai kemauan serta kehendak secara sempurna.
c. Allah meridhoi perbuatan baik dan tidak meridhai perbuatan buruk.
KHALAF : AHLUSSUNNAH
(AL-ASY’ARI DAN AL-MATURDI)
A. Al-Asy’ari
a. Riwayat Singkat Al-Asy’ari
Al-Asy’ari lahir di Bashrah tahun 260 H / 875 M dan wafat di Baghdad tahun 324 H / 935 M.
Sepeninggal ayahnya, Al-Asy’ari di didik oleh ayah tirinya (Abu Ali bin Jubba’i). Berkat didikan ayah tirinya, Al-Asy’ari menjadi tokoh Mu’tazilah.
Setelah berusia 40 tahun, Al-Asy’ari meninggalkan faham Mu’tazilah karena ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah yang memperingatkan agar meninggalkan Mu’tazilah dan membela faham yang telah diriwayatkan beliau sebanyak tiga kali.
b. Doktrin-Doktrin Teologi Al-Asy’ari
Pemikiran –pemikiran Al-Asy’ari yang terpenting adalah :
a. Allah mempunyai sifat-sifat (seperti mempunyai tangan dan kaki), dan ini tidak boleh diartikan secara harfiah melainkan secara simbolis.
b. Sifat-sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip.
c. Allah adalah pencipta perbuatan manusia, sedangkan manusia sendiri yang mengupayakannya.
d. Baik dan buruk harus berdasarkan pada wahyu.
e. Walaupun Al Qur’an terdiri atas kata-kata, huruf dan bunyi, semua itu tidak melekat pada esensi Allah dan karenanya tidak Qadim.
f. Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak dapat di gambarkan.
g. Allah itu adil dan Dia tidak memiliki keharusan apapun karena Dia adalah penguasa mutlak.
h. Orang mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufur.
B. Al-Maturidi
a. Riwayat Singkat Al-Maturidi
Abu Mansur Al-Maturidi di lahirkan di Maturid (Samarkand), sekitar abad ke-3 H dan wafat pada tahun 333H / 944M.
Karir pendidikannya lebih dikonsentrasikan untuk menekuni bidang teologi. Ini dilakukan untuk memperkuat pengetahuan dalam menghadap faham-faham teologi yang banyak berkembang pada masyarakat Islam pada masa itu.
b. Doktrin-Doktrin Al-Maturidi
Diantara doktrin-doktrin Al-Maturidi adalah sbb :
a. Mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan dapat diketahui dengan akal.
b. Penentu baik dan buruknya terletak pada sesuatu itu sendiri.
c. Perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan.
d. Kehendak Tuhan tidak sewengang-wenang (absolut), tetapi perbuatan dan kehendaknya itu berlangsung dengan hikmah dan keadilan yang sudah di tetapkan-Nya sendiri.
e. Sifat-sifat Tuhan itu Mulzamah (ada bersama) dzat tanpa terpisah.
f. Tuhan dapat dilihat (di akhirat) dengan mata, karena Tuhan mempunyai wujud walaupun immaterial.
g. Kalau nafsi adalah sifat Qadim bagi Allah, sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadist).
h. Setiap perbuatan Tuhan yang bersifat mencipta atau kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada manusia tidak lepas dari hikmah dan keadilan yang dikehendakiNya.
i. Pengutusan Rasul berfungsi sebagai sumber informasi.
PERBANDINGAN ANTAR ALIRAN
PELAKU DOSA BESAR
A. Aliran Khawarij
Mereka memandang bahwa orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim (Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, Abu Musa Al-Asy’ari) adalah kafir, berdasar firman Allah surat Maidah 44.
a. Subsekte Azariqah
Menganggap kafir terhadap orang-orang yang melakukan dosa besar dan semua orang yang tidak sefaham dengan mereka.
b. Subsekte Najdah
Menganggap musyrik kepada siapapun yang berkesinambungan melakukan dosa kecil. Dosa besar bila tidak dilakukan secara kontinue, pelakunya tidak dianggap musyrik, tetapi hanya kafir.
c. Subsekte Al-Muhakimat
Semua orang yang menyetujui arbitrase adalah bersalah dan menjadi kafir.
d. Subsekte As-Sufriyah
Dosa yang ada sanksinya di dunia (seperti membunuh) tidak dipandang kafir.
Dosa yang tidak ada sanksinya di dunia (seperti meninggalkan salat) dianggap kafir
B. Aliran Murji’ah
Subsekte Aliran Ekstrim
- Memandang bahwa keimanan terletak di dalam kalbu
- Perbuatan maksiat tidak dapat menggugurkan keimanan sebagaimana ketaatan tidak dapat membawa kekufuran.
- Memandang pelaku dosa besar di dunia tidak akan disiksa di neraka.
- Subsekte Murji’ah Moderat
- Memandang pelaku dosa besar tidaklah menjadi kafirPelaku dosa besar tidak kekal di neraka, bergantung pada ukuran dosa yang dilakukannya.
C. Aliran Mu’tazilah
- Pelaku dosa besar berada di posisi tengah di antara posisi mukmin dan posisi kafir.
- Yang dimaksud dosa besar adalah segala perbuatan yang ancamannya disebutkan secara tegas di dalam nas.
- Dosa kecil adalah segala ketidakpatuhan yang ancamannya tidak tegas dalam nas.
D. Aliran Asyariyah
- Jika dosa besar dilakukan dengan anggapan bahwa hal ini dibolehkan (halal) dan tidak meyakini keharamannya, ia telah dipandang kafir.
- Pelaku dosa besar tidak kekal di neraka.
E. Aliran Maturidiyah
- Pelaku dosa besar masih tetap mukmin karena adanya keimanan dalam dirinya.
- Orang yang berdosa besar tidak kafir dan tidak kekal di neraka walaupun ia mati sebelum bertaubat.
E. Aliran Syi’ah Zaidiyah
- Orang melakukan dosa besar akan kekal dalam neraka, jika ia belum bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya.
F. Analisis
Jika ditinjau dari sudut pandang Wa’ad, Wa’id, dapat di lasifikasikan menjadi dua kubu utama, yaitu kubu radikal dan kubu moderat. Kubu radikal diwakili oleh khawarij dan mu’tazilah, sedangkan sisanya merupakan kubu moderat.
PERBANDINGAN ANTAR ALIRAN
IMAN DAN KUFUR
Aliran Khawarij
Sekte Azariqah
Semua pelaku dosa besar adalah kafir, yang berarti telah keluar dari agama Islam, kekal di dalam neraka.
Subsekte Najdah
Semua yang mengerjakan dosa kecil secara berkesinambungan dianggap musyrik, sedangkan dosa besar yang tidak dilakukan secara kontinue pelakunya tidak dianggap musyrik.
Semua subsekte khawarij (selain yang diatas)
Semua pelaku dosa besar adalah kafir dan akan disiksa di neraka selamanya.
Iman dan pandangan khawariij tidak semata-mata percaya kepada Allah, mengerjakan kewajiban agama juga merupakan bagian dari iman.
Aliran Murji’ah
Murji’ah Ekstrim
Berpandangan bahwa keimanan terletak di dalam kalbu. Adapun ucapan dan perbuatan tidak selamanya menggambarkan apa yang di dalam kalbu. Pelaku dosa besar menurut aliran ini tidak akan disiksa di neraka.
Murji’ah Moderat
Berpendapat bahwa iman adalah ikrar dan tasydiq, tidak bisa bertambah dan tidak pula berkurang. Pelaku dosa besar tidaklah menjadi kafir.
Aliran Mu’tazilah
Berpendapat bahwa perbuatan manusia merupakan salah satu unsur terpenting dalam konsep iman.
Setiap pelaku dosa besar menurut pendapat ini menempati posisi tengah diantara posisi mukmin dan posisi kafir (al-manzilah bainal manzilatain).
Aliran Asy’ariyah
Berpendapat bahwa iman adalah membenarkan dalam hati.
Pelaku dosa besar tidaklah kafir.
Aliran Maturidiyah
Maturidiyah Samarkand
Iman adalah tasydiq bil Qalbi, bukan semata-mata Tasydiq Bil Lisan
Maturidiyah Bukhara
Tasydiq bil Qalb dan Tasydiq Bil Lisan
Maturidiyah berpendapat bahwa pelaku dosa besar tetap beriman / tidak kufur.
Analisis dan Kesimpulan
Aliran-aliran yang berpendapat bahwa akal mencapai kewajiban mengetahui Tuhan (KMT). Iman melibatkan ma’rifat di dalamnya .
Aliran-aliran yang tidak berpendapat bahwa akal tidak dapat mencapai KMT, iman tidak melibatkan ma’rifat didalamnya.
Aliran-aliran yang mengitregasikan amal sebagai salah satu unsur keimanan, memandang bahwa iman dapat bertambah atau berkurang.
Alira-aliran teologi Islam yag memasukkan empat unsur pokok dalam konsep iman memiliki keimanan yang paling kokoh.
Alira-aliran yang hanya mengakui satu unsur pokok didalam konsep iman menghasilkan iman yang lemah.
PERBANDINGAN ANTAR ALIRAN
PERBUATAN TUHAN DAN PERBUATAN MANUSIA
A. Perbuatan Tuhan
1. Mu’tazilah
Tuhan mempunyai kewajiban kepada manusia.
2. Asy’ariyah
Tuhan tidak mempunyai kewajiban menepati janji dan ancaman yang tersebut dalam Al Qur’an dan Hadist.
3. Maturidiyah
M. Samarkand
Tuhan mempunyai kewajiban melakukan hal yang baik bagi manusia.
M. Bukhara
Tuhan tidak mempunyai kewajiban, namun Tuhan pasti menepati janjinya.
B. Perbuatan Manusia
a. Mu’tazilah
Perbuatan manusia bukanlah diciptakan Tuhan pada diri manusia, tapi manusia sendirilah yang mewujudkan perbuatannya.
b. Asy’ariyah
Perbuatan manusia di ciptakan oleh Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mewujudkannya.
a. Maturidiyah
M. Samarkand : kehendak dan daya berbuat pada diri manusia adalah dalam arti sebenarnya, bukan dalam arti kiasan.
M. Bukhara : manusia tidak mempunyai daya untuk melakukan perbuatan, hanya Tuhanlah yang dapat mencipta, dan manusia hanya dapat melakukan perbuatan yang telah diciptakan Tuhan baginya.
PERBANDINGAN ANTAR ALIRAN
SIFAT-SIFAT TUHAN
1. ALIRAN MU'TAZILAH
Aliran Mu'tazilah mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat-sifat yang melekat pada dirinya.selanjutnya, Mu'tazilah berpendapat bahwa Tuhan bersifat immateri, dan tidak dapat dilihat dari mata kepala.
2. ALIRAN ASY'ARIYAH
Aliran Asy'ariyah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat yang melekat padanya.
3. ALIRAN MATURIDIYIYAH
Maturidiyah tentang makna sifat Tuhan cendrung mendekati faham Mu'tazilah. Perbedaanya, bahwa Maturidi mengakui adanya sifat-sifat Tuhan.
4. LIRAN SYI'AH RAFIDHAH
5. Tokoh Syi'ah Rafidhah menolak bahwa Tuhan senantiasa bersifat tau. Sebagian mereka berpendapat bahwa Tuhan tidak bersifat tahu terhadap sesuatu sebelum ia berkehandak PERBANDINGAN ANTAR ALIRAN
KEHENDAK MUTLAK TUHAN DAN KEADILAN TUHAN

1. Mu’tazilah
Kekuasaan Tuhan tidak mutlak lagi
Keadilan Tuhan mengandung arti Tuhan tidak berbuat dan tidak memilih yang buruk, tidak melalaikan kewajiban-kewajiban-Nya kepada manusia dan semua perbuatan Nya adalah baik.
2. Asy’ariyah
Kekuasaan Tuhan adalah mutlak
Keadilan Tuhan mengandung arti bahwa tuhan Mempunyai kekuasaan mutlak terhadap makhluk-Nya dan dapat berbuat sekehendak hati-Nya.
4. Maturidiyah
- M. Samarkand :
• Kehendak mutlak tuhan dibatasi oleh keadilan tuhan
• Keadilan Tuhan berarti bahwa segala perbuatan-Nya adalah baik dan tidak mampu untuk berbuat serta tidak mengabaikan kewajiban-kewajiban-Nya kepada manusia.
- M. Bukhara
• Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak
• Kekuasaan Tuhan terletak pada kehendak mutlak-Nya, tidak ada satu dzat pun yang lebih kuasa daripada Nya dan tidak ada batasan-batasan bagi-Nya.
KONSEP KEKHOLIFAHAN
APLIKASINYA DALAM ASPEK-ASPEK KEHIDUPAN
Dalam kata khalifah terkandung makna pergantian generasi sebelumnya, kepemimpinan dan pergantian arah untuk menegakkan hukum-hukum-Nya di bumi.
– Tugas manusia sebagai khalifah untuk menggantikan generasi sebelumnya yaitu manusia yang di tuntut untuk mengubah dan mengoreksi tradisi dan kebiasaan generasi sebelumnya, meskipun mereka menerima tradisi itu secara turun-temuirun dari generasi sebelumnya pula, kemudian menggantinya sesuai dengan ajaran Allah.
– Dalam kepemimpinan, terkandung pula tugas mengurus dan mengelola potensi bumi dan seisinya untuk dijadikan sarana taqwa kepada Allah SWT. Konsep kepemimpinan yang diambil dari kata khalifah tidak mesti diartikan bahwa seluruh anusia harus menjadi pemimpin poloitk. Pada dasarnya semua manusia itulah pemimpin. Tentang apa dan siapa yang dipimpinnya itu sebenarnya sangat bergantung pada potensi dan kesempatan yang dimilikinya.
– Maka khalifah sebagai pengganti Allah dan melaksanakan aturan-aturan Nya diambil secara implisit dari konsekuensi logis tugas manusia sebagai pemimpin. Artinya, manusia telah diberi mandat oleh Allah untuk memimpin bumi dan langit serta isinya. Tentunya dalam melaksanakan mandatnya itu, manusia harus melaksanakan seluruh bprogram Allah yang diturunkan dala bentuk syariat. Apa-apa yang diprogramkan dan dicanangkan manusia sebagai khalifah tidak boleh keluar dari jalur-jalur aturan Allah.
A. Aplikasi Khilafah dalam Bidang Politik
Aplikasi khiafah dalam bidang politik berarti menjalankan politik sesuai dengan prinsip-prinsip kekhalifahannya.
Dalam hal ini, ada beberapa etika yang harus dijalankan oleh setiap pemimpin politik, diantaranya :

1. Pengenalan diri dan kesiapan menjadi pemimpin
2. Beragama dan bertaqwa kepada Tuhan
3. Berlaku adil
4. Berlaku jujur
5. Amanah
6. Menepati janji
7. Berilmu pengetahuan
8. Memiliki keberanian
9. Dermawan
10. Kasi sayang

B. Aplikasi Khilafah Dalam Bidang Hukum
Apliaksi kilafah dalam bidang hukum berarti pula menegakkan hukum dengan adil, termasuk didalamnya adalah memberi keputusan yang adil.
Berikut adalah interpretasi yang dikemukakan Nur Kholis Madjid dalam kaitannya dengan interpretasi surat Al-Baqaqrah ayat 30 :
1. Kisah ini menunjukkan martabat manusia yang sangat tinggi yaitu sebagai khalifah atau wakil Tuhan di bumi.
2. Martabat itu bersangkutan dengan konsep bahwa alam dengan segala isinya diciptakan untuk manusia serta menjadi bidang garapan dan tempat pelaksanaa tugasnya.
3. Martabat itu juga berkaitan dengan nilai kemanusiaan universal.
4. Untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi, manusia dilengkapi dengan ilmu pengetahuan.
5. Kelengkapan martabat manusia adalah kebebasan yang mengenal batas.
6. Pelanggaran terhadap batas membuat manusia jatuh, tidak terhormat.
7. Dorongan untuk melanggar batas adalah nafsu serakah yaitu perasaan yang tidak pernah puas dengan anugerah Tuhan.
8. Karena kelengkapan ilmu saja tidak menjamin manusia terhindar dari kejatuhan. Manusia memerlukan petunjuk Allah.
STUDI KRITIS TERRHADAP ILMU KALAM
Secara garis besar, titik kelemahan ilmu kalam yang menjadi sorotan para pengritiknya berputar pada aspek berikut ini.
A. Aspek Estimologi Ilmu Kalam
Yang dimaksud epistimologi adalah cara yang di gunakan oleh para pemuka aliran kalam dalam menyelesaikan persoalan kalam, terutama ketika menafsirkan Al Qur’an.
Diantara kritik dalam aspek epistimologi ilmu kalam, adalah:
1. Aduan Amal dan Samsu Rizal Panggabean
Mereka melihat bahwa penafsiran kalangan Asy’ariyah pada kenyataannya merupakan tanggapan terhadap kebutuhan sejarah, yakni untuk membela sudut pandang golongan Ahlussunnah.
2. Muhammad Husein Adz Dzahabi
Ia melihat bahwa ada kecenderunagn para pemuka aliran kalam untuk mencocok-cocokkan Al-Qur’an dengan pandangan madzhabnya.
3. Amin Abdullah
Ia melihat bahwa dimensi pemiiran teologi atau kalam sebenarnya lebih subtil, tidak clear-cut, lebih kaya nuansa, daripada semata-mata hanya di warnai konspirasi politik.
4. M. Iqbal
Berkaitan dengan kritik yang ditujukan kepada epistimologi ilmu kalam, M. Iqbal melihat adanya anomali (penyimpangan) lain yang melekat dalam literature ilmu kalam klasik.
B. Aspek Ontologi Ilmu Kalam
Dalam kata khalifah terkandung makna pergantian generasi sebelumnya, kepemimpinan dan pergantian arah untuk menegakkan hukum-hukum-Nya di bumi.
– Tugas manusia sebagai khalifah untuk menggantikan generasi sebelumnya yaitu manusia yang di tuntut untuk mengubah dan mengoreksi tradisi dan kebiasaan generasi sebelumnya dan mengganti dengan ajaran Allah. Dalam kepemimpinan, terkandung pula tugas mengurus dan mengelola potensi bumi dan seisinya untuk dijadikan sarana taqwa kepada Allah SWT. Konsep kemimpinan yang diambil dari kata khalifah tidak mesti diartikan bahwa seluruh manusia harus menjadi pemimpin polotik. Pada dasarnya semua manusia itulah pemimpin.
– Maka khalifah sebagai pengganti Allah dan melaksanakn aturan-autran Nya diambil secara implisit dari konsekuensi logis tugas manusia sebagai pemimpin. Artinya, manusia telah diberi mandat oleh Allah untuk memimpin bumi dan langit serta isinya. Tentunya dalam melaksanakan mandatnya itu harus sesusai dengan syariat.
A. Aplikasi Khalifah dalam Bidang Politik
Dalam hal ini, ada beberapa etika yang harus dijalankan oleh setiap pemimpin politik, diantaranya :

1. Pengenalan diri dan kesiapan menjadi pemimpin
2. Beragama dan bertaqwa kepada Tuhan
3. Berlaku adil
4. Berlaku jujur
5. Amanah
6. Menepati janji
7. Berilmu pengetahuan
8. Memiliki keberanian
9. Dermawan
10. Kasih sayang
11. Memiliki kesabaran
12. Menegndallikan diri dan memiliki masa lalu
13. Memiliki kekuatan
14. Memiliki kemampuan manajeria

B. Aplikasi Khilafah Dalam Bidang Hukum
Aplikasi khilafah dalam bidang hukum berarti pula menegakkan hukum dengan adil, termasuk didalamnya adalah memberi keputusan yang adil.
Berikut adalah interpretasi yang dikemukakan Nur Kholis Madjid dalam kaitannya dengan interpretasi surat Al Baqaqrah ayat 30 :
a. Kisah ini menunjukkan martabat manusia yang sangat tinggi yaitu sebagai khalifah atau wakil Tuhan di bumi.
b. Martabat itu bersangkutan dengan konsep bahwa alam dengan segala isinya diciptakan untuk manusia se4rta menjadi bidang garapan dan tempat pelaksanaa tugasnya.
c. Martabat itu juga berkaitan dengan nilai kemanusiaan universal.
d. Untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah Alah di muka bumi, manusia dilengkapi dengan ilmu pengetahuan.
e. Kelengkapan martabat manusia adalah kebebasan yang mengenal batas.
f. Pelanggaran terhadap batas membuat manusia jatuh, tidak terhormat.
g. Dorongan untuk melanggar batas adalah nafsu serakah yaitu perasaan yang tidak pernah puas dengan anugerah Tuhan.
h. Karena kelengkapan ilmu saja tidak menjamin manusia terhindar dari kejatuhan. Manusia memerlukan petunjuk Alla
STUDI KRITIS TERRHADAP ILMU KALAM
Secara garis besar, titik kelemahan ilmu kalam yang menjadi sorotan para pengritiknya berputar pada spek berikut ini.
A. Aspek Estimologi Ilmu Kalam
Yang dimaksud epistimologi adalah cara yang digunakan oleh para pemuka aliran kalam dalam menyelesaikan persoalan kalam, terutama ketika menafsirkan Al Qur’an.
Diantara kritik dalam aspek epistimologi ilmu kalam, adalah:
1. Aduan amal dan Samsu Rizal Panggabean
Mereka melihat bahwa penafsiran kalangan Asy’ariyah pada kenyataannya merupakan tanggapan terhadap kebutuhan sejarah, yakni untuk membela sudut pandang golongan Ahlussunnah.
2. Muhammad Husein Adz Dzahabi
Ia melihat bahwa ada kecenderunagn para pemuka aliran kalam untuk mencocok-cocokkan Al-Qur’an dengan pandangan madzhabnya.
3. Amin Abdullah
Ia melihat bahwa dimensi pemiiran teologi atau kalam sebenarnya lebih subtil, tidak clear-cut, lebih kaya nuansa, daripada semata-mata hanya diwarnai konspirasi politik.
4. M. Iqbal
Berkaitan dengan krtik yang ditujukan kepada epistimologi ilmu kalam, M. Iqbal melihat adanya anomali (penyimpangan) lain yang melekat dalam literature ilmu kalam klasik.
B. Aspek Ontologi Ilmu Kalam
Tantangan kalam / teologi Islam kontemporer adalah isu-isu kemanusiaan universal, pluralisme keberagamaan, kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan dan sebagainya. Teologi Islam dan kalam yang hidup untuk era sekarang ini berdialog dengan realitas dan perkembangan pemikiran yang berjalan saat ini.
Jika ilmu kalam klasik berdialog dengan pemikiran dan bergaul dengan format pemikiran serta epistimologi Yunani (hellenisme), teologi Islam atau modern harus bersentuhan dengan pemikiran dan falsafah Barat modern lantaran falsafah Barat kontemporer itulah yang dibentuk dan diilhami oleh arus perbuatan yang diakibatkan oleh perkembangan iptek.
C. Aspek Askiologi Ilmu Kalam
Kritikan yang dialamatkan pada aspek aksiollogi ilmu kalam menyangkut pada kegunaan ilmu itu sendiri dalam menyingkap hakikat kebenaran.
1. M. Abduh
Beranggapan bahwa objek penelaahan dan penelitian akal pikiran manusia pada dasarnya adalah sifat-sifat dasar dari segala macam fenomena yang ditemui dalam kehidupannya.
2. Ahmad Hanafi
Ia melihat perlunya pergeseran paradigma dari yang bercorak tradisional, yang bersandar pada paradigma logicometafisika (dialektika kata-kata) ke arah teologi yang mendasarkan pada paradigma “empiris” (dialektika sospol).
PEMIKIRAN KALAM ULAMA MODERN
(ABDUH, AHMAD KHAN, DAN IQBAL)
A. Syekh M. Abduh
Pemikiran-pemikiran kalam M.Abduh
1. Kedudukan akal dan fungsi wahyu
Ada dua pendapat persoalan pokok yang menjadi fokus utama pemikiran
Abduh, yaitu :
- Membebaskan akal pikiran dari belenggu-belenggu taqlid yang menghambat perkembangan pengetahuan agama yakni dengan memahami langsung dari umber pokoknya, Al-Qur’an.
- Memperbaiki daya bahasa Arab, baik yang digunakan dalam percakapan resmi di kantor-kantor pemerintah maupun dalam tulisan-tulisan di media masa.
2. Kebebasan manusia dan fatalisme
Bagi Abduh, disamping mempunyai daya pikir, manusia juga mempumyai kebebasan memilih, yang merupakan sifat dasar alami yang ada dalam diri manusia, namun tidak mempunyai kebebasan absolut.
3. Sifat-sifat Tuhan
Harun Nasution melihat bahwa Abduh cenderung kepada pendapat bahwa sifat termasuk esensi Tuhan walaupun tidak secara tegas mengatakannya.
4. Kehendak mutlak Tuhan
Tuhan tidak bersifat mutlak.
5. Keadilan Tuhan
Sifat ketidak adilan Tuhan tidak dapat diberikan kepada Tuhan karena ketidakadilan tidak sejalan denagn kesempurnaa alam semesta.
6. Antrofomorfisme
Tidak mungkin esensi dan sifat-sifat Tuhan mengambil bentuk tubuh atau ruh makhluk di alam ini.
7. Melihat Tuhan
Kesanggupan melihat Tuhan hanya dianugerahkan kepada orang-orang tertentu di akhirat.
8. Perbuatan Tuhan
Wajib bagi Tuhan untuk berbuat yang terbaik bagi manusia.
B. Sayyid Ahmad Khan
Pemikiran-pemikiran kalam Sayyid Ahmad Khan
1. Kedudukan Akal
Akal bukanlah segalanya dan kekuatan akalpun terbatas.
2. Kebebasan Manusia
Manusia bebas untuk menentukan kehendak dan melakukan perbuatan.
3. Sayyid Ahmad Khan menolak adanya taklid percaya adanya hukum alam.
C. Muhammad Iqbal
Pemikiran-pemikiran kalam M. Iqbal
1. Hakekat Teologi
Secara umum ia melihat teologi sebagai ilmu yang berdimensi keimanan, mendasarkan pada esensi tauhid (universal dan inklusivistik). Di dalamnya terdapat jiwa yang bergerak berupa “persamaan, kesetiakawanan, dan kebebasmerdekaan”.
2. Pembuktian Tuhan
Dalam membuktikan eksistensi Tuhan, Iqbal menolak argumen kosmologis maupun ontologis. Ia juga menolak argumen teologis yang berusaha membuktikan eksistensi Tuhan yang mengatur ciptaan Nya dari sebelah luar. Walaupun demikian ia menerima landasan teologis yang imanen (tetap ada).
3. Jati Diri Manusia
Manusia hidup untuk mengetahui kepribadiannya serta menguatkan dan mengembangkan bakat-bakatnya, bukan sebaliknya, yakni melemahkan pribadinya, seperti yang dilakukan oleh para sufi yang menundukkan jiwa sehingga fana dengan Allah.
4. Surga dan neraka.
Surga dan neraka adalah keadaa, bukan tempat. Gambaran-gambaran tentang keduanya di dalam Al Qur’an adalah penampilan-penampilan kenyataan batin secara visual, yaitu sifatnya.
ILMU KALAM MASA KINI
ISMAIL FARUQI HAAN HANAFI, RASYIDI, DAN HARUN NASUTION
A. ISMAIL AL-FARUQI
1. Pemikiran Kalam Al-Faruqi
Al-Faruqi menjelaskan hakikat tauqit sebagai berikut:
1. Tauhid sebagai pengalaman agama
2. Tauhid sebagai pandangan dunia
3. Tauhid sebagai inti sari Islam
4. Tauhid sebagai prinsip sejarah
5. Tauhid sebagai prinsip pengetahuan
6. Tauhid sebagai prinsip metafisika
7. Tauhid sebagai prinsipetika
8. Tauhid sebagai prinsip tata sosial
B. HASAN HANAFI
Pemikiran kalam Hasan Hanafi
1. Kritik terhadap teologi tradisional
a. Teologi tradisional tidak dapat menjadi sebuah pandangan yang benar–benar hidup, dan memberi motivasi tindakan dalam kehidupan konkret ummat manusia.
b. Kegagalan para teolog tradisional disebabkan oleh sikap para penyusun teologi yang tidak mengaitkannya dengan kesadaran murni dan nilai-nilai perbuatan manusia.
2. Rekontruksi teologi
Tujuan rekontruksi teolgi Hanafi adalah menjadikan teologi menjelma sebagai ilmu tentang pejuang sosial yang menjadikan keimanan-keimanan tradisional memiliki fungsi secara aktual sebagai landasan etik dan motivasi manusia.
C. H. M. RASYIDI
1. Pemikiran kalam H. M. Rasyidi.
a. Tentang perbedaan ilmu kalam dan teologi Ilmu kalam adalah teologi Islam dan teologi adalah ilmu kalam Kristen Kata teologi kemudian mengandung beberapa aspek agama Kristen, yang
b. di luar kepercayaan (yang benar), sehingga teologi dalam Kristen tidak sama dengan tauhid atau ilmu kalam.
2. Tema-tema ilmu kalam
a. Deskripsi aliran-aliran kalam yang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi umat Islam sekarang, khususnya di Indonesia.
b. Menonjolkan perbedaan pendapat antara Asy’ariyah dan Mu’tazilah akan melemahkan iman para mahasiswa.
3. Hakikat Iman
Iman bukan sekedar menuju bersatunya manusia dengan Tuhan, tetapi dapat dilihat dalam dimensi kontekstual atau hubungan manusia dengan manusia, yaitu hidup dalam masyarakat.
D. HARUN NASUTION
Pemikiran kalam Harun Nasution
1. Peranan kalam
Akal melambangkan kekuatan manusia, karena akal manusia mempunyai kesanggupan untuk menaklukkan kekuatan makhluk lain sekitarnya. Bertambah tinggi akal manusia, bertambah tinggi pulalah kesanggupannya untuk mengalahkan makhluk lainnya.
2. Hubungan akal dan wahyu
1. Akal mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Al Qur’an. Orang yang beriman tidak perlu menerima bahwa wahyu sudah mengandung segala-galanya.
2. Akal hanya memberi interpretasi terhadap teks wahyu sesuai dengan
kecenderungan dan kesanggupan pemberi interpretasi.

makalah slekta pendidikan

1. PROBLEMA PENDIDIKAN ISLAM MASA KINI DAN YANG AKAN DATANG

       •    •   •     
18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.n(al-hasyr 18)

..... يَرْفَعِ للهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْاالعِلْمَ دَرَجَاتٍ
............ Allah akan menaikan beberapa deraat lebih tinggi atas orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan (al-mujadalaah 11)
pemikiran dasar
agama islam yang diwahyukan kepada rasulullah Muhammad S.A.W adalah mengandung implikasi rahmat bagi sekalian alam. dalam agama islam terkandung satu potensi yang mengacu kepada dua fenomena perkembangan yaitu:
1. potensi psikologis dan pedagogis yang mempengaruhi manusia untuk menjadi sosok peribadi yagn berkualitas bijak dan menyandang derajat mulia melebihi makhluk-makhluk lainnya
2. potensi pengemabgan kehidupan manusia sebagai “ khalifah” di muka bumi yang dinamis dan keratif serta responsif terhadap lingkunagn sekitarnya baik yang alamiah maupun yang ijtimaiah di mana tuhan menjadi potensi sentral perkembagannya.
Agama islam yag membawa nilai-nilai dan norma-norma kewahuan bagi kepentingan hidup manusia di atas bumi, baru aktual dan fungsional bila diinternalisasikan ke dalam pribadi melalui proses kependidikan yang konsisten terarah kepada tujuan.
bila diibaratkan seorang pemimpin, ilmu pendididan islam dlaam mengamati dinamika masyarakt yang seringkali mengejalakan perubahan sosial kultural dalam proses pertumbunanya harus meneliti esensi dan implikasi dibelakang perubahan itu dalam rangka menemukan sumber sebabnya,. dari sanalah pendidikan islam mengadakan modifikasi-modifikasi tehadap dan takti yang inovatif terhadap program pembelajaran sehingga kondusif terhadap aspirasi masyarakat.

1. Pengertian Pendidikan Islam
salah satu pandangan modern dari seorang ilmuan muslim, hasil pendidikan islam DR. Muhamad S.A Ibrahimy (bangladesh) menungkapkan penertian pendidikan islam yang berjangkauan luas sebagai berikut:
“islamic education in true sense of the term, is a system of education which enables a man to lead his life according to the islamic ideology, so that he may easily mould his life in accordance with tenets of islam, and thus peace and thus peace and prosperity may prevail in his own life as well as in the whole world, this Islamic scheme of education is,, of necessity an all embracing system, for Islam encompasses the entire gamut of a Muslim’s life. it can justly be said that all branches of learning which are not Islamic are included in the Islamic education, the s scope of Islamic education has been changing at different times, in view of the demands of the age and the development of science and technology, it scope has also widened”
"pendidikan Islam dalam arti sebenarnya dari istilah ini, adalah sistem pendidikan yang memungkinkan seorang pria untuk memimpin hidupnya sesuai dengan ideologi Islam, sehingga ia dapat dengan mudah cetakan hidupnya sesuai dengan ajaran islam, dan dengan demikian perdamaian perdamaian dan dengan demikian dan kemakmuran dapat berlaku dalam hidupnya sendiri serta di seluruh dunia, ini skema pendidikan Islam, kebutuhan sistem semua memeluk, untuk Islam mencakup seluruh gamut kehidupan seorang Muslim. itu adil dapat dikatakan bahwa semua cabang pembelajaran yang tidak Islam termasuk dalam pendidikan Islam, ruang lingkup pendidikan Islam telah berubah pada waktu yang berbeda, mengingat tuntutan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, itu lingkup juga melebar "
hasil seminar pendidikan islam sedunia pada tahun 1980 di islamabad menunjukan makin kompleksnya tugas ilmu pendidikan islam, karena harus diarahkan kepada tujuan yang komprehensif paripurna, sebagai berikut:
education aims at the balanced growth of total personality of man through the training of man’s spirit, intellect, the rational self, felling and bodily sense. education should, therefore, cater for the growth of man in all its aspect, spiritual, intellectual, imaginative, physical, scientific, linguistic, both individually and collectively, and motivate all these aspects toward goodness and attainment of perfection, the ultimate aim of education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of individual, the community and humanity at large”
pendidikan mengarah pada pertumbuhan yang seimbang dari kepribadian total manusia melalui pelatihan roh manusia, akal, rasa rasional diri, penebangan dan tubuh. pendidikan harus, oleh karena itu, melayani pertumbuhan manusia dalam semua aspek, spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah, linguistik, baik secara individual maupun secara kolektif, dan memotivasi semua aspek menuju kebaikan dan pencapaian kesempurnaan, tujuan akhir pendidikan terletak pada realisasi penyampaian lengkap kepada Allah pada tingkat individu, masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya "
dengan demikian apa yang kita kenal dengan pendidikan agama islam di negeri kita adalah merupakn bagian dari pendidian islam, dimana tujuan utamanya ialah membina dan mendasari ehidupan anak didik dengan nilai-nilai agama dan sekaligus menajarkan ilmu agama islam, sehingga ia mampu menamalkan syariat islam secara benar sesuai pengetahuan agama.
2. sistem pendekatan dan orientasi
di tengah golombang krisis nilai-nilai kultural berkat pengaruh ilmu dan teknologi yang berdampak pada perubahan sosial. pendekatan pendidikan islam yang mengandung bahwa kebenaran islam yang mutlak pasti mampu mengalahkan kebatilan yang merajalalela di luar kehidupan islam dengan dasar dalil :
(jika telah datang perkara yang hak, maka hancurlah perkara yang batil) perlu dilakukan modifikasi/perubahan menjadi pendekatan yangberdasarkan atas pandangan yang realitasbahwa islam sebagai suatu kebenaran mutlak baru mampu berkembang dengan sepenuhnya dalam masyarakat bila para pendukungnya berusaha keras dan tepat sasaran melalui sistem dan metode yang kreatif dan efisien.
lebih –lebih dalam menghadapi pergeseran nilai-nilai kultural yang transisional dari dunia kehidupan, yang belum menemukan pemukiman yang mapan, maka pendidikanislam dituntut untuk menerpkan penddekatan dan orientasi baru yang relevan dengan tuntutan zaman, justru karena pendidikan islam membawakan prinsip dan nilai-nilai absolutisme yang bersifat mengarahkan trendes perubahan sosio-kultural itu.
3. Pelembagaan proses kependidikan islam
kelembagaan pendidikan islam merupakan sub sistem dari sistem masyarakat atau bangsa, dalam opreasionalisasinya selslu menacu dan tanggap kepada kebutuhan perkembangan masyarakt tanpa bersikap demikian, lembaga pendidikan kita dapat menimbulkan kesenjagnan sosial dan kultural, kesenjagnan inilah yang menjadi salah satu sumber konflik antara pendidikan dan masyarakat dari sanalah timbul krisis pendidikan yang intensitasnya berbeda-beda menurut tingkat atau taraf rising demands masyarakat.
disamping itu pergeseran idealis masyarakat yang menuju ke arah pola pikir rasional-teknologis yang cendertung melepaskan diri dari tradisionalisme kultural edukatif makin membengkak fungsi lembaga kependidikankita mau atau tidak harus bersifat laten terhadap kecenderungan sosial tersebut. akibatnya lembaga ini terlalu dibenani over demanded, kaena dianggap sekedar sebagai public and social servan yang harus tunduk kepada kebinekaan kepentingan yang berubah-ubah.inilah sebagai pencerminan kemelut yan gterjadi di dalam masyarakat yang purna industrial terutama di barat.
4. Pengaruh sain dan teknologi canggih
sebgaiman telah kita sadari bersaa bahwa dampak positiff dari pada kemajuan teknologi sampai kini, adalah bersifat fasilitatif kehidupan manusia yang hidup sehari-hari sibuk dengan berbagai problema yang semakin mengemulut. teknologi menawarkan berbagai macam kesantaian dan kesenangan yang semakin bineka, memasuki ruang-ruang dan celah-celah kehidupan kita sampai yang remang-remang dan bahkan yang gelap pun dapat dipenetrasi.
permsalahan baru yang harus dipecakan oleh pdneididkan isalam pada khususnya antara lain adalah dehumanisasi pendidikan, netralisasi nilai-nilai agama, atau upaya mengendalikan dan mengarahkan nilai-nila tradisional kepada suatu pemukiman yang illahi yang kokoh dan tahan bantingbaik dalam dimensi individual maupun sosial kultural.
5. Perencanaan dan model-meodel pendidikan islam
dalam sejarah perkembangan islam pada periode awal pendidian islam sebagai yang telah dilaksanakan oleh nabi muhammad adalah pemenuhan kebutuhan manusia untuk bebas dari belenggu akidah yang sesat yang dianut olelh kelompok elitis kuraesy dan yang dijadikan sarana menatl untuk melestarikankekuasaan penidas terhadap orang dari kelompok lain yang dipandang rendah derajatnya.
metode yang dipergunakan nabi adalah berdasarkan pendekatan personal individual, kemudaian meluas kearah pendekatan keluarga yang pada gilirannya meluas kearah pendekatan sistetik yang memandang bahwa orang perorangan merupakan bagian dari unit keluarga, sedangkan keluarga menjadi masyarakat, subsistem masyarakat dan masyarakat semakin berkembang menjadi mikro sistem dalam bentuk negara.
jadi nampaklah bahwa pendekatan sistematik islami dari nabi pada proses awalnya berdasarkan hikmah dan mauidho hasanah dengan metode targib dan tarhib yang didramatitasikan melalui uswatun hasanah pada akhirnya baru penerapan sangsi-sangsi .
dari segi menejemen kependidikan suatu perencanaan utnuk pendidikan masa depan harus meliputi tiga ciri pokok masyarakt menurut horld G. Shane salah seorang futuris yang optimis yaitu masa depan sosio masa depan tekno dan masa depan bio dengan segala implikasi dan dampaknya terhadap jiwa manusia. maka pendidikan yang dijadikan tumpuan harapan manusia harus mampu memproyeksikan keadaan masa depan ke dalam ketiga kategori tersebut yaitu:
1. masa depan sosio
yanitu memandang fenomena prinsipal, antara lain penyebaran alternatif struktur rumah tangga yangn lamban sharing child raring pandangan tentang psososi keibuan hubungan seksualitas dan moralitas sosial baru, serta interprestasi kembali tentang peranan agama dalam masyarakat makin banyak kaum wanita menjadi tenaga kerja.dan lain-lain
2. masa depan tekno
yaitu secara singkat dapat disimpulkan bahwa masyarakat masa depan akan dilanda pengaruh energi fisika tinggi, inovasinya dan implikasinya yang cenderung lebih besar terhadap energi sinar laser, dan bidang-bidang lainya.
3. masa depan bio
yaitu secara prinsipal ditandai dengan makin menghangatnya diskusi tentang pemakaian teknik modifikasi behavioral seperti kimia, ekeltronik dan kejiwaan serta isu-isu manipulasi genetika.
dari segi-segi penggambaran masa depan diatas sesungguhnya idealistas pendidikan islam dapat menjadi suatu kekuatan moral dan ideal bagi upaya pembudayaan memanusiakan dan mengagamakan manusia kurun ultra modern sesuai dengan petunjuk al-quran yang menyatakan antara lain:
•               
9. dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.

2. PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI DISIPLIN ILMU
sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sumber utama pendidikan islam sebagai disiplin ilmu adalah kitab suci al-quran dan sunnah rasulullah SAW. serta pendapat para sahabat dan ulama atau ilmuan muslim sebagai tambahan.
ada tiga komponen dasar yang harus dibahas dalam teori pendidikan islam yang pada giliranya dapat dibuktikan validitasnya dalam operasionalisasi, tiga komponen dasar itu adalah sebagai berikut:
1. Tujuan pendidikan islam harus dirumuskan dan ditetapkan secara jelas dan sama bagi seluruh umat islam sehingga bersifat universal.
stujuan pendidikan islam yang univarsal telah dirumuskan dalam seminar pendidikan islam di islambad pada tahun 1980 yang disepakati oleh seluruh ulama ahli pendidikan islam di negara-negara islam.
sebagai esensinya tujuan pendidikan islam yang sejalan dengan tuntutan al-quran itu tidak lain adlah sikap penyerahan diri secarat total kepada Allah SWT, yang telah terikrar dalam kehidupan sehari-hari
 •        
162. Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

2. Metode pendidikan islam yang kita ciptakn harus berfungsi secara efektif dalam proses pencapaian tujuan pendidikan islam itu.
3. Irama gerak harmonis antara metode dan tujuan pendidikan dalam proses akan mengalami vakum bila tanpa kehadiran nilai atau ide.
untuk itu ilmu pendidikan islam yang menjadi pedoman operasionalsisasi yang ditetapkan dalam dunia akademik, yaitu sebagai berikut:
1. Memiliki objek pembahasan yang jelas dan khas pendidikan yang islami meskipun memerlukan ilmu penunjang dari nonislami
2. Mempunyai wawasan, pandangan, asumsi, hipotesis serta teori dalam lingkup kependidikan yang islami yang bersumberkan ajaran islam
3. Memiliki metode analisis yang relevan dengan kebutuhan perkembangan ilmu pendidikan yang berdasarkan islam. beserta sistem pendekatan yang seirama dengan corak keislaman sebagai kultur dan revilasi.
4. Memiliki struktur keilmuan yang sistematis mengandung totalitas yang tersusun dari komponen-komponen yang saling mengembangkan satu sama lain dan menunjukan kemandirianya sebagai ilmu yang bulat.
Oleh karena itu, suatu ilmu yang ilmiah harus bertumpu pada adanya teori-teori pendidikan islam juga harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Teori harus menetapkan adanya hubungan antara fakta yang ada
2. Teori harus mengembangkan sistem klasifikasi dan struktur dari konsep-konsep, karena alam kita tidak menediakan sistem siap pakai untuk itu.
3. Teori harus mengikhtisarkan sebgai fakta. kejadian-kejadian, oleh karenannya maka sebuah teori harus dapat menjelaskan sejumlah besar fakta.
4. Teori harus dapat meramalkan fakta atau kejadian-kejadian karena tugas sebuah teori adalah meramalkan kejadian-kejadian yang belum terjadi.
Adapun corak teoritis dari ilmu pendidikan islam itu hendaknya disusun secara sistematis yang well-organized yang mampu memberikan deskripsi tentang adanya fakta dari pengalaman operasional dalam bentuk pengertian sesederhana mungkin.
Yang menjadi permasalahan urgen bagi ilmu pendidikan islam, yaitu sebagai beriktu:
1. Bagaimana seharusnya pendidikan islam dapat menjawab tantangan kebutuhan kependidikan generasi muda bagi kehidupan di masa depan secara sistematis berencana, mengingat ciri khas agama islam adalah bersifat aspiratif dan kondusif kepada kebutuhan hidup sesuai dengan human nature (Fitrah)
2. Bagaimana agar pendidikan islam mampu mendasari kehidupan generasi muda dengan iman dan takwa dan berilmu pengetahuan yang sekaligus dapat memotivasi daya kreativitasnya dalam kegiatan pengembangan dan pengamalan ilmu pengetahuan tersebut sejalan dengan tuntutan al-quran.
3. Bagaimana pendidikanislam sebagai disiplin ilmu dapat melestarikan dan memajukan tradisi dan budaya moral yang islami ethnic dalam komunikasi sosial dan interpersonal dalam masyarakat yang semakin industrial-teknologis
4. Bagaimana agar pendidikan islam tetap, mampu berkembang dalam jujur input invironmnetal di lembaga pendidikan dalam proses pencapaian tujuan akhirnya, baik dalam upaya membentuk pribadi, maupun anggota masyarakata dan warga negara yang berkualitas baik.

Semboyan yang menjadi etos kerja kita antara lain adalah firman allah yang mengatakan
إِنَ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu umat, sehingga mereka sendiri mengubahnya (QS . Ar-Ra’du: 11)

3. MODEL-MODEL PENDIDIKAN ISLAM DAN ORIENTASINYA
Model-model pendidikan islam yang terbuktu tidak memuaskan tuntutan umat terlihat pada praksisasinya sebagai berikut:
1. Model pendidikan islam yang berorientasi kepada pola pikir bahwa nilai-nilai lama yang berkonservatif dan asketis harus dilestarikan dalam sosok pribadi muslim yang resistan tehadap pukulan gelombang zaman, merupakan ciri utama pendidikan esensialistik. orientasi demikian sudah tentu kurang dapat diandalkan oleh umat untuk menjawab tantangan zaman,
2. jika pendidikan islam berorientasi kepada pola pikir bahwa nilai-nilai islami yang mengandung potensi mengubah nasib masa lampau ke masa kini yang dijadikan inti kurikulum pendidikan, maka model pendidikan islam menjadi bercorak perenalistik, di mana nilai-nilai yang terbukti tahan lama saja yang diinternalisasikan ke dalam pribadi anak didik. sedang nilai-nilai yang potensial bagi semangat pembaruan ditinggalkan.
3. bila pendidikan islam hanya lebih berorientasi pada personalisasi kebutuhan pendidikan dalam segala aspeknya, maka ia bercorak individualistas, dimana potensi aloplastik, masyarakat dan alam sekitar kurang mengacu kepada kebutuhan sosiokultural.
4. jika pendidikan islam berorientasi kepada masa depan sosio, masa depan tekno, dan masa depan bio, dimana ilmu dan teknologi menjadi pelaku perubahan dan pembaruan kehidupan sosial, maka pendidikan islam yang bercorak teknologis, dimana nilai-nilai samawi ditinggalkan diganti dengan nilai-nilai pragmatik realivistik kultural;
5. akan tetapi jika pendidikan islam yang berorientasi kepada perkembangan masyarakat berdasarkan proses dialogis di mana manusia ditempatkan sebagai geiger-conter pendeteksi sinar readioaktif elemen-eleman sosial yang berpotensi kontrovesial ganda. yaitu membahagiakan dan mesejahterakan.
Dengan memerhatikan potesi psikologis dan pedagogis manusia anugrah Allah, model pendidikan islam seharusnya berorientasi kepada pandangan falsafah sebagai berikut:
1. Filosofis : Memandang manusia didik adalah hamba tuhan yang diberi kemampuan fitrah, dinamis dan sosial-religius serta yang psiko fisik cenderung kepada penyerahan diri secara total kepada maha penciptanya.
2. Etimologis: potensi berilmu pengetahuan yang berpijak pada iman dan berilmu pengetetahuan untuk menegakan iman yang bertauhid, yang basyariyah-dharuriah menjadi shibghah manusia muslim sejati berderajat mulia.
3. pedagogis : manusia adalah makhluk belajar sejak dari ayunan sampai liang lahat yang proses perkembanganya didasari nilai-nilai islami yang dialogis terhadap tuntuta tuhan dan tuntutan perubahan sosial, lebih cenderung kepada pola hidup yang harmonis antara kepentingan duniawi dan ukhrowi, serta kemampuan belajarnya disemangati oleh misi kekhalifaan di muka bumi
secara kurikuler model-model tesebut didesain menjadi:
1. Content: lebih difokuskan pada permasalahan sosiokultural masa kini untuk diproyeksikan ke masa depan, dengan kemampuan anak didik mengungkapkan tujuan dan nilai-nilainya yang inheren dengan tuntutan tuhan
2. Pendidik: bertanggungjawab terhadap penciptaan situasi komunitas dialogis interdependen dan terpercaya. ia menyadri bahwa pengetahuan dan pengalamannya lebih dewasa, dalam dan lua serta bersama-sama dengan anak didik berada dalam situasi belajar yang memperhatikan satu sama lain.
3. anak didik: dalam proses belajar mengajar melakukan hubungan dialogis dengan yang lain, dia belajar secara interdependent dan bersama-sama menghayati preepsi terhadap realitas kehidupan dan memperhatikan prespesi orang lain.
4. KRISIS PENDIDIKAN ISLAM
Hubungan antar pendidikan dengan masyarakat erat sekali. maka dalam proses pengembangan saling mempengaruhi. Dr. Fadhil Al-Djamaly mengbimbau agar umat islam menciptakan pendidikan yang didasari kepada keimanan kepada Allah, karena hanya iman yang benarlah yang menjadi dasar pendidikan yang benar dan memimpin kita kepada usaha mendalami hakikat dan menuntut ilmu yang benar sedang ilmu yang benar memimpin kita kearah amal yang saleh
Pendidikan islam yang dapat diharapkan mencapai sukses, menurut pandangan seorang pemikir pembaruan umat islam, syekh sayyid qutb, bila mengacu kepada:
1. sistem kehidupan yang mengartikulasikan dan mengaktualisasasikan sifat dasar manusia ( Humman nature) dimana islam diturunkan oleh Allah jutru untuk mengembangkan sifat dasar itu, karena islam adalah agama fitrah manusia.
2. sistem kehidupan islam menanamkan cita-cita untuk melepaskan diri dari segala bentuk penindasan oleh orang yang kuat terhadap yang lemah, ma dembebaskan manusia dari kebodohan dan kemiskinan serta keterbelakangan.
Beberapa ahli kependidikan masa depan telah mengidentifik masikan krisis pendidikan yang bersumber dari krisis orientasi masyarakat masa kini, m pendapat pula dijadikan wawasan perubahan sistem pendidikan islam, yang mencangkup fenomena-fenomena antara lain sebagai berikut:


1. krisis nilai-nilai
2. krisis konsep tentang kesepakatan arti hidup yang baik
3. adanya kesenjangan kredibilitaste
4. beban institusi sekolah kita terlalu besar melebihi kemampuannya
5. kurangnya sikap idealisme dan citra remaja kita tentang peranannya di masa depan bangsa
6. Kurang sensitif terhadap kelangsungan masa depan
7. kurangnya relevansi program pendidikan di sekolah dengan kebutuhan pengembangan
8. adanya tendensi dalam pemanfaatan secara naif kekuatan teknologi canggih
9. makin membesarnya kesenjangan diantara kaya dan miskin
10. ledakan pertumbuhan penduduk
11. makin bergesernya sikap manusia ke arah pragmatisme yang pada giliranya membawa ke arah materialisme dan individualisme.
12. makin menyusutnya jumlah ulama tradisional dan kualitasnya kecenderungan tersebut sudah tampak gejala-gejalan di daerah perkotaan negeri kita dalam era pembangunan saat ini.

makalah bimbingan konseling

BAB III
PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING

A. Pengertian Bimbingan Dan Konseling
1. Pengertian bimbingan
Dalam kehidupan sehari-hari, seiring dengan penyelenggaraan pendidikan pada umumnya, dan dalam hubungan saling pengaruh antara orang yang satu dengan yang lainnya, peristiwa bimbingan setiap kali dapat terjadi, orang tua membimbing anak-anaknya; guru membimbing murid-muridnya, baik melalui kegiatan pengajaran maupun non pengajaran; para pemimpin membimbing warga yang dipimpinya melalui berbagai kegiatan, misalnya berupa pidato, rapat, diskusi, dan instruksi, proses bimbingan dapat pula melalui media cetak (buku, surat kabar, majalah dan lain-lain), dan media elektronika (radio, televisi, film, vidio) bimbingan sebagai pendidikan dan perkembangan yang menekankan proses belajar yang sistematik.
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam membuat pilihan-pilihan dan penyesuaian-penyesuaian yang bijaksana.
Merangkum pendapat dari para ahli yang telah memberikan definisi tentang bimbingan maka dapat diambil unsur-unsur pokok bimbingan sebagai berikut:
1. Pelayanan bimbingan merupakan suatu proses artinya bahwa pelayanan bimbingan bukan sesuatu yang sekali jadi, melainkan melalui liku-liku tertentu sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam pelayanan ini
2. Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan Bantuan disini tidak diartikan sebagai bantuan materil, melainkan bantuan yang bersifat menunjang bagi pengembangan pribadi bagi individu yang dibimbing.
3. Bantuan itu diberikan kepada individu, baik perseorangan maupun kelompok, sasaran pelayanan bimbinan adalah orang yang diberi bantuan, baik orang seorang secara individu ataupun secara kelompok
4. Pemecahan masalah dalam bimbingan dilakukan oleh dan atas kekuatan klien sendiri.
5. Bimbingan dilaksanakan dengan menggunakan berbagai bahan, interaksi, nasihat, ataupun gagasan, serta alat-alat tertentu baik yang berasal dari klien sendiri, konselor maupun dari lingkungan
6. Bimbingan tidak hanya diberikan untuk kelompok-kelompok umur tertentu saja, tetapi meliputi semua usia, mulai dari anak-anak, remaja.dan orang dewasa.
7. bimbingan diberikan oleh orang-orang yang ahli yaitu orang-orang yang memiliki keperibadian yang terpilih dan telah memperoleh pendidikan serta latihan yang memadai dalam bidang bimbingan dan konseling
8. Pembimbing tidak selayaknya memaksakan keinginan-keinginannya kepada klien karena klien mempunyai hak dan kewajiban untuk menentukan arah dan jalan hidupmua sendiri, sepanjang dia tidak mencampuri hak-hak orang lain.
9. satu hal yang belum tersurat secara langsung dalam rumusan-rumusan diatas ialah : bimbingan dilaksanakan sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
Berdasarkan butir-butir pokok tersebut maka yang dimaksud dengan bimbingan adalah proses pemberin bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau berupa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri: dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
2. Pengertian Konseling
Secara etomologi istilah konseling berasal dari bahasa latin yaitu “consilium” yang berarti dengan ata bersama yang dirangkai dengan menerima atau memahami. sedangkan dalam bahasa anglo-saxon.. istilah konseling berasal dari sellon yang berarti menyerahkan atau menyampaikan.
sedangkan secara terminologi sesuai dengan ciri-ciri pokok yaitu konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang megnalami sesuatu masalah disebut klien yagn bermuara pada teratasinya masalah yagn dihadapai oleh klien
B. Istilah penyuluhan dan konseling
Masyarkat umum telah mengenal istilah bimbingan dan penyuluhan sebagai terjemahan dari istilah asing Guidance dan counseling dengan demikian yang dimaksud dengan penyuluhan di sini adalah suatu yagn sama artinya dengan konseling, istilah mana yang dipakai, penyuluhan atau konseling, memang masih menjadi bahan ketidaksesuaian dianatara berbagai pihak, baik mereka yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam profesi bimbingan dan konseling itu sendiri.
akibat yang lebih jauh ialah masyarakat akan menyamaratkan saja pengertian penyuluhan untuk konseling dan penyuluhan untuk arti yagn lain itu.
Berdasarkan uraian singakt tersebut, demi kemantapan profesi yang didambakan oleh semua, kiranya perlu dipakai satu istilah yagn dimaksudkan di sini ialah konseling.
C. Perkembangan konsepsi bimbingan dan konseling
perkembangan konsepsi bimbingan dan konseling dibedakan kedalam lima periode yaitu:
periode pertama : perkembangan bimbingan dan konseling yang diprakarsai oleh frank person. pengertian bimbingan baru mencangkup bimbingan jabatan.
Periode kedua: gerakan bimbingan lebih menekankan pada bimbingan pendidikan. dalam tahapan ini bimbingan dirumuskan sebagai suatu totalitas pelayanan yang secara keseluruhan dapat diintegritas ke dalam upaya pendidikan.
Periode ketiga: pelayanan untuk penyesuaian diri mendapat perhatian utama. pada periode ini di dasari benar bahwa pelayanan bimbingan tidak hanya disangkutpautkan dengan usaha-usaha pendidikan saja, tidak pula hanya mencocokan individu untuk jabatan-jabatan tertentu saja, melainkan juga bagi peningkatan kehidupan mental.
Periode keempat: gerakan bimbingan menekankan pentingnya proses perkembangan individu. pada periode ini pelayanan bimbingan dihubungkan dengan usaha individu untuk memenuhi tugas-tugas perkembanganya.
Periode kelima: tampak adanya dua arah yang berbeda yaitu: kecenderungan yang ingin kembali ke periode pertama dan kecendrungan yang lebih menekankan pada rekonstruksi sosial dan personal dalam rangka membantu pemecahan masalah yang dihadapi individu.
D. Tujuan bimbingan dan konseling
tujuan umum bimbingan dan konseling terbagi menjadi dua yaitu Tujuan umum dan tujuan khusus
Tujuan umum yaitu untuk membantu individu memperkemabangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya, berbagai latar belakang yang ada seperti keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi, serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya.
tujuan khusus yaitu bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan permaslaahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannya itu.
E. Asas-asas bimbingan dan konseling
asas-asas yang dimaksudkan adalah asas kerahasian, kesukarelaan, keterbukaan, kekinian, kemandirian, kegiatan, kedinamisan, keterpaduan, kenormatifan, keahlian, ahli tangan dan tut wuri handayani
F. Kesalahpahaman dalam bimbingan dan konseling
Bimbingan konseling merupakan bahan impor yang perkembanganya di indonesia masih tergolong baru. Apabila untuk penggunaan istilah saja, terutama istilah penyuluhan dan konseling, masih belum ada kesepakatan semua pihak, maka dapat dimengerti kalau sampai sekarang masih banyak kelasahpahaman dalam bidang bimbingan dan konseling.
kesalahpahaman tersebut pertama-tama perlu dicegah penyebaranya dan kedua perlu diluruskan apabila diinginkan agar gerakan pelayanan bimbingan dan konselong pada umumnya dapat berjalan dan berkembang dengan baik sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan dan praktek penyelenggaraanya. kesalahpahaman yang sering dijumpai di lapangan antara lain:
1. Bimbingan dan konseling disamakan saja dengan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan
Ada dua pendapat yang ektrim berkenaan dengan pelaksanaan bimbingan dan konseling.
Petama : pendapat yang mengatakan bahwa bimbingan dan konseling sama saja dengan peindidikan. pendapat ini mengganp bahwa pelayanan khusus bimbingan dan konseling tidak perlu disekolah. jadi dengan sendirinya bimbingan dan konseling sudah termasuk ke dalam usaha sekolah yang menyelenggarakan pendidikan itu.
Kedua: Penapat yang menyatakan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling harus benar-benar dilaksanakan secara khusus oleh tenaga yang benar-benar ahli dengan perlengkapan yang benar-benar memenuhi syarat.
2. Konselor disekolah dianggap sebagai polisi sekolah
Masih banyak anggapan bahwa peranan konelsor di sekolah adalah sebagai polisi sekolah yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin, dan keamanan sekolah.

3. Bimbingan dan konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat.
Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. pemberian nasihat hanya merupakan sebagain kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. pelayanan bimbingan dan konseling menyagkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal.
4. Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani masalaha yang bersifat insidental
Memang, sering kali pelayanan bimbingan dan konseling bertitik tolak dari masalah yang dirasakan klein sekarang, yang sifatnya diadakan. namun pada hakikatnya pelayanan itu sendiri menjangkau dimensi waktu yang lebih luas, yaitu yang lalu, sekarang, dan yang akan datang.
5. Bimbingan dan konseling dibatasi hanya untuk klien-klien tertentu saja
Pelayanan bimbingan dan konseling bukan tersedia dan tertuju hanya klien-klien tertentu saja, tetapi terbuka untuk segenap individu ataupun kelompok yang memerlukannya.

6. Bimbingan dan konseling melayani orang sakit dan / atau kurang normal
Bimbingan dan konseling hanya melayani orang-orang normal yang mengalami masalah tertentu.
7. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri
Pelayanan bimbingaan konseling bukanlah proses yang terisolasi, melainkan proses yang bekerja sendiri sarat dengan unsur-unsur budaya, sosial dan lingkungan. oleh karenanya pelayanan bimbignan dan konseling tidak mungkin menyendiri, konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapai oleh klien. di sekolah misalnya masalah yang dihadapi siswa tidak berdiri sendiri, malah itu sering kali saling dengan orang tua siswa, guru, dan pihak-pikah lain.
8. Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain pasif
Sesuai dengan asas kegiatan, disamping konselor yang bertindak sebgai pusat penggera bimbingan dan konseling, pihak lain pun, terutama klien, harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut.
9. Menganggap Pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakkan oleh siapa saja
Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? jawabanya bisa benar bisa juga tidak. Benar jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. tidak jika bimbingan dan konseling dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan yaitu mengikuti filosofi, tujuan, metode, dan asas-asas tertentu, dengan kata dilaksanakan secara profesional.
10. Pelayanan bimbingan dan konseling berpusat pada keluhan pertama saja
jika melihat gejala-gejala dan/atau keluhan awal yang disampaikan oleh klien. namun demikian, jika pembahasan masalah itu dilanjutkan, didalami, dan dikembangkan, seringkali ternyata bahwa masalah yang sebenarnya lebih jauh, lebih luas dan pelik apa yang sekedar tampak atau disampaikan itu.
11. Menyamakan pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter atau psikiater.
Memang dalam hal-hal tertentu terdapat persamaan pekerjaan yaitu sama-sama menginginkan klien atau pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. Namun demikian, pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. baik dokter ataupun psikiater bekerja denga orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang sehat yang sedang mengalami masalah. cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikater lainnya. sedangkan bimbingan dan konseling memberikan jalan pemecahan masalah melalui perubahan orientasi pribadi, penguatan mental/psikis, penguatan tingkah laku, pengubahan lingkungan, upaya-upaya perubahan perbaikan serta teknik-teknik bimbingan dan konseling lainnya.
12. Menganam hasil pekerjaan bimbingan dan konseling harus segera dilihat
Usaha-usaha bimbingan dan konseling bukanlah lampu aladin yang dalam sekejap saja sudah dapat mewujudkan apa yang diminta. Usaha yang menyangkut aspke-aspek mental/psikologis dan tingkah laku tidaklah dapat dicepat-cepatkan : sehingga lekas masuk. pendekatan ingin mencapai hasil segera mungkin justru dapat melemahkan usaha itu sendiri. ini tidaklah berarti bahwa usaha bimbingan dan konseling boleh bersantai-santai saja dalam menghadapi masalah klien.
13. Menyamaratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien
Menyamaratakn cara pemecahan suatu masalah yang dihadapi klien itu hal yang salah, pada dasarnya, pemakaian sesuatu cara tergantung pada pribadi klien, jenis dan sifat masalah, tujuan yang ingin dicapai, kemampuan petugas bimbingan dan konseling, dan sarana yang tersedia.
14. Memusatkan usaha bimbingan dan konseling hanya pada penggunaan instumentasi bimbingan dan konseling (misalnya tes, Inventori, angket dan alat pengungkap lainnya)
perlu diketahui bahwa perlengkapan dan sarana utama yang pasti ada dan dapat dikembangkan pada diri konselor ialah dan keterampilan pribadi. dengan kata lain, ada dan digunakan instrumen (tes, inventori, angket, dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. ketiadaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu, menghambat, ataupun melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling.
15. Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang ringan saja.
Dalam kesalah pahaman ini terkadang sebagian orang menganggap bahwa bimbingan konseling itu hanya pekerjaan yang menangani masalah yang ringan-ringan saja, hal ini sangatlah tidak benar, menyikapi hal tersebut bahwa suatu masalah itu jangan dianggap remeh, kadang kita menganggap suatu masalah itu sukar untuk dipecahkan jalan keluarnya, akan tetapi apabila kita sudah mengkaji secara mendalam, ternyata masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan tepat, sebaliknya masalah yang dianggap mudah untuk dipecahkan dalam mencari jalan solusinya, dalam prakteknya banyak sekali menemukan kendala-kendala yang pada akhirnya masalah tersebut bisa berlarut-larut bahkan tidak dapat mendapatkan solusinya. seperti itulah contohnya.

makalah statistik

Bab I
Pendahuluan
A. latar belakang masalah
Statistik pada dasarnya merupakan alat Bantu untuk memberi gambaran atas suatu kejadian melalui bentuk yang sedrhana baik berupa angka maupun gambar (grafik). Berhadapan dengan statistic artinya berhadapan dengan sekumpulan angka-angka. Dimana angka – angka yang ada tidak hanya angkan yang dapat mengambarkan masa lalu saja tetapi dapat juga digunakan untuk meramalkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Statistik berfungsi hanya sebagai alat bantu! Peranan statistik dalam penelitian tetap diletakkan sebagai alat. Artinya, statistik bukan menjadi tujuan yang menentukan komponen penelitian lain. Oleh sebab itu, yang berperan menentukan tetap masalah yang dicari jawabannya dan tujuan penelitian itu sendiri.
Statistik dapat berguna dalam penyusunan model, perumusan hipotesis, pengembangan alat pengambil data, penyusunan rancangan penelitian, penentuan sampel, dan analisis data, yang kemudian data tersebut diinterpretasikan sehingga bermakna. Hampir semua penelitian ilmiah dilakukan terhadap sampel kejadian, dan atas dasar sampel itu ditarik suatu generalization. Suatu generalisasi pasti mengalami error, disinilah salah satu tugas statistikbekerja atas dasar sampel bukan populasi. Dengan demikian pengujian hipotesis dapat kita lakukan dengan teknik-teknik statistik.
Dari hasil analisis statistik yang diperoleh berdasarpkan perhitungan yang angka-angka tersebut, sebenarnya belum mempunyai arti apa-apa tanpa dideskripsikan dalam bentuk kalimat atau kata-kata di dalam penarikan kesimpulan. Jika tidak, maka hasil analisis tersebut tidak akan bermakna dan hanya tinggal angka-angka yang tidak "berbunyi".
B. Pembatasan masalah
Agar lebih fokus dalam pembahasan ini saya membatasi permasalahan menjadi beberapa sub pokok pembahsan yang meliputi: perbedaan statistik dan statistika, fungsi statistik, kegunaan statistik, ciri khas statistik, data statistik, dan instrumen dan teknik pengumpulan data
C. Perumusan masalah
Dari uraian sempintas diatas yang telah dipaparkan saya dapat menguraikan perumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa perbedaan dari statistik dan statistika?
2. Bagaimana fungsi statistik, kegunaan statistik, ciri khas statistik?
3. Apakah yang dimaksud data statistik ?
4. Bagaimana instrumen dan teknik pengumpulan data
D. Tujuan penulisan
1. Untuk mengetahui perbedaan statistik dan statistikau
2. Untuk mengetahui fungsi statistik, kegunaan statistik, ciri khas statistik
3. Untuk mengetahui data statistik
4. Untuk mengetahui instrumen dan teknik pengumpulan data
E. Metode penulisan
Dalam pembahasan statistik ini saya menggunakan metode analisis deskriftif dari sumber-sumber yang saya peroleh
F. Sistematika Penulisan
Makalah ini di buat 3 bab yang masing-masing bab di lengkapi sub-sub bab dengan sistematika sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan yang menguraikan lata belakang masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II : Pemmbahasan yang menguraikan tentang perbedaan statistik dan statistika, fungsi statistik, kegunaan statistik, ciri khas statistik, data statistik, dan instrumen dan teknik pengumpulan data
Bab III : Penutup yang menguraikan tentang simpulan dan saran-saran

Bab II
Pembahasan

1. Perbedaan statistik dan statistika
a. Pengertian Statistik
Statistik pada dasarnya merupakan alat Bantu untuk memberi gambaran atas suatu kejadian melalui bentuk yang sedrhana baik berupa angka maupun gambar (grafik). Berhadapan dengan statistic artinya berhadapan dengan sekumpulan angka-angka. Dimana angka – angka yang ada tidak hanya angkan yang dapat mengambarkan masa lalu saja tetapi dapat juga digunakan untuk meramalkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Berikut definisi statistic menurut beberapa ahli dalam bidang statistic :
1. Menurut Freund and William : Statistik adalah kumpulan data berupa angka
2. Menurut Noegroho Budijuwono : Statistik adalah keseluruhan metode pengumpulan data dan analisa angka
3. Menurut Agus Irianto : Statistik adalah sekumpulan cara maupun aturan-aturan yang berkaitan dengan pengumpulan, pengolahan, analisa, penarikan kesimpulan atas data-data yang berbentuk angka dengan menggunakan asumsi – asumsi tertentu.
b. Pengertian statistika
untuk memperoleh sekumpulan informasi yang menjelaskan masalah untuk menarik kesimpulan yang benar tentu saja harus melalui beberapa proses, yaitu meliputi proses pengumpulan informasi,, pengolahan informasi dan proses penarikan kesimpulan. kesemuanya itu memerlukan pengetahuan tersendiri yang disebut statistika




2. Fungsi statistik :
Fungsi statistic secara garis besar adalah :
1. Deskriptif ; berfungsi untuk mejelaskan kesimpulan yang bersifat umum, generalisasi saja dari pada yang ada. Atau hanya menyederhanakan sekelompok data yang sudah ada.
2. Inferential : merupakan pengembangan fungsi statistic, dimana dapat berbicara lebih banyak tentang data yang ada dibandingkan dengan statistic deskriptif.
Sedangkan fungsi statistic secara khusus :
1. menggambarkan data dalam bentuk tertentu
2. menyederhanakan data
3. dapat digunakan sebagai teknik untuk melakukan perbandingan
4. dapat memebri petunjuk untuk perumusan kebijakan perusahaan
5. dapat mengukur untuk memepelajari suatu gejala baik yang bersifat social maupun ekonomi
6. dapat digunakan untuk menentukan hubungan sebab akibat
3. Kegunaan Statistik.
Di antara kegunaan Statistik sebagai ilmu pengetahuan adalah: (a) Untuk menggambarkan keadaan, baik secara umum amupun secara khusus; (b) Untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan (pasang-surut) dari waktu ke waktu; (c) Untuk mengetahui permandingan (membandingkan) antara gejala yang satu dengan gejala yang lain; (dalam) Untuk menilai keadaan dengan jalan menguji perbedaan antara gejala yang satu dengan gejala yang lain; (e) Untuk menilai keadaan dengan jalan mencari hubungan antara gejala yang satu dengan gejala yang lain; (f) Untuk menjadi dasar atau pedoman, baik di dalam menarik kesimpulan, mengambil keputusan, serta memperkirakan terjadinya sesuatu hal atas dasar bahan-bahan keterangan (data) yang telah berhasil dihimpun, dan lain sebagainya.
4. Ciri Khas Statistik
1. Statistik selalu bekerja dengan angka (bilangan).
Ini mengandung pengertian bahwa tanpa data angka mak Statistik tidak akan mampu melaksanakan tugasnya sebagai ilmu pengetahun.Meskipun demikian bukanlah berarti bahwa data yang bukan angka (data kwalitatip) tidak mungkin digarap secara Statistik. Data kwalitatif pun sebenarnya dapat diolah secara Statistik, asalkan terlebih dahulu diubah menjadi data angka (data kwantitatip) dengan kata lain data kwalitatip itu di kwantifikasikan lebih dahulu (proses kwantifikasi). Contoh: “Pandai”, “cukup”, “kurang” adalah data kwalitatip. Data demikian dapat saja diolah dengan Statistik, caranya: (1) Harus diketahui berapa orang (dituangkan dalam bentuk angka) yang tergolong pandai, cukup dan kurang itu; (2) Yang disebut pandai, cukup, dan kurang itu nilainya berapa (dituangkan dalam bentuk angka, misalnya “Pandai” nilainya= 80 – 100; “cukup” nilainya= 60 – 79; “Kurang” nilainy= 0 – 59 dan sebagainya.
2. Statistik bersifat obyektif.
Ini mengandung pengertian bahwa Statistik bekerja menurut obyeknya; dengan kata lain Statistik bekerja menurut apa adanya. Kesimpulan-kesimpulan atau ramalan-ramalan yang dihasilkan oleh Statistik adalah semata-mata didasarkan atas angka-angka yang dihadapi dan diolah dan bukan didasarkan atas subyektifitas atau pengaruh-pengaruh luar lainnya. Itulah sebabnya mengapa Statistik sering dikatakan sebagai “Alan penilai kenyataan”.
3. Statistik bersifat universal.
Ini mengandung pengertian bahwa ruang lingkup atau ruang gerak dan bidang garapan Statistik tidaklah sempit. Statistik dapat dipergunakan atau diterapkan dalam hampir semua cabang kegiatan hidup manusia. Dapat disaksikan misalnya: Statistik harga, Statistik moneter, Statistik Eksport dan Import, Statistik Penduduk, Statistik Kelahiran, Statistik Nikah, Talak, Cerai dan Rujuk, Statistik Pertanian, Statistik Perdagangan, Statistik Kriminalitas, Statistik Psikologi dan Pendidikan, Statistik Kesehatan, Statistik Lalu Lintas….. dan lains sebagainya, dan sudah barang tentu termasuk pula di dalamnya Statistik Keagamaan. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa Statistik bersifat menyeluruh atau bersifat universal.
5. Data Statistic
1. Data Kualitatif
Adalah data yang bukan angka, ciri : tidak bisa dilakukan operasi matematika. Terbagi dua :
a. Nominal.
Data paling rendah dalam level pengukuran data. Contoh : jenis kelamin, tanggal dan tempat lahir seseorang.
b. Ordinal.
Ada tingkatan data. Contoh : sangat setuju, setuju, kurang setuju dan tidak setuju.
2. Data Kuantitatif
Adalah data berupa angka dalam arti sebenarnya, dapat dilakukan operasi matematika. Terbagi dua :
a. Data Interval
Contoh : interval temperature ruang adalah sebgai berikut.
Cukup panas jika antara 50˚c - 80˚c
Panas jika antara 80˚c - 110˚c
Sangat panas jika antara 110˚c - 140˚c
b. Data Rasio
Tingkat pengukuran paling ‘tinggi’ ; bersifat angka dalam arti sesungguhnya. Beda dengan interval mempunyai titik nol dalam arti sesungguhnya.

Jenis Data Menurut Cara Memperolehnya
1. Data Primer
Data primer adalah secara langsung diambil dari objek / obyek penelitian oleh peneliti perorangan maupun organisasi. Contoh : Mewawancarai langsung penonton bioskop 21 untuk meneliti preferensi konsumen bioskop.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung dari objek penelitian. Peneliti mendapatkan data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai cara atau metode baik secara komersial maupun non komersial. Contohnya adalah pada peneliti yang menggunakan data statistik hasil riset dari surat kabar atau majalah.
B. Macam-Macam Data Berdasarkan Sumber Data
1. Data Internal
Data internal adalah data yang menggambarkan situasi dan kondisi pada suatu organisasi secara internal. Misal : data keuangan, data pegawai, data produksi, dsb.
2. Data Eksternal
Data eksternal adalah data yang menggambarkan situasi serta kondisi yang ada di luar organisasi. Contohnya adalah data jumlah penggunaan suatu produk pada konsumen, tingkat preferensi pelanggan, persebaran penduduk, dan lain sebagainya.
C. Klasifikasi Dara Berdasarkan Jenis Datanya
1. Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang dipaparkan dalam bentuk angka-angka. Misalnya adalah jumlah pembeli saat hari raya idul adha, tinggi badan siswa kelas 3 ips 2, dan lain-lain.
2. Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang disajikan dalam bentuk kata-kata yang mengandung makna. Contohnya seperti persepsi konsumen terhadap botol air minum dalam kemasan, anggapan para ahli terhadap psikopat dan lain-lain.
D. Pembagian Jenis Data Berdasarkan Sifat Data
1. Data Diskrit
Data diskrit adalah data yang nilainya adalah bilangan asli. Contohnya adalah berat badan ibu-ibu pkk sumber ayu, nilai rupiah dari waktu ke waktu, dan lain-sebagainya.
2. Data Kontinyu
Data kontinyu adalah data yang nilainya ada pada suatu interval tertentu atau berada pada nilai yang satu ke nilai yang lainnya. Contohnya penggunaan kata sekitar, kurang lebih, kira-kira, dan sebagainya. Dinas pertanian daerah mengimpor bahan baku pabrik pupuk kurang lebih 850 ton.
E. Jenis-jenis Data Menurut Waktu Pengumpulannya
1. Data Cross Section
Data cross-section adalah data yang menunjukkan titik waktu tertentu. Contohnya laporan keuangan per 31 desember 2006, data pelanggan PT. angin ribut bulan mei 2004, dan lain sebagainya.
2. Data Time Series / Berkala
Data berkala adalah data yang datanya menggambarkan sesuatu dari waktu ke waktu atau periode secara historis. Contoh data time series adalah data perkembangan nilai tukar dollar amerika terhadap euro eropa dari tahun 2004 sampai 2006, jumlah pengikut jamaah nurdin m. top dan doktor azahari dari bulan ke bulan, dll.
6. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data bisa dibedakan dengan beberapa hal, seperti:
1. Berdasarkan Setting (Setting Alamiah, Labortorium dengan melalui eksperimen, di rumah dengan mewawancarai responden, seminar, dan lain-lain)
2. Berdasarkan sumber data: (Sumber Primer : Sumber yang langsung memberikan data dan Sumber Sekunder : Sumber yang tidak langsung memberikan data).
3. Berdasarkan Teknik Pengumpulan Data dibagi lagi menjadi: Observasi, Wawancara, Dokumentasi dan Triangulasi/Gabungan

Pengumpulan Data dengan Observasi
Macam-macam observasi: (Sanafiah Faisal: 1990)

 Observasi Partisipatif, yang terbagi menjadi: Observasi yang Pasif, Observasi yang Moderat, Observasi yang Aktif, dan Observasi yang Lengkap.
 Observasi Terus Terang dan Tersamar
 Observasi tak Terstruktur

Observasi Partisipatif
 Peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang
 diucapkan dan berpartisipasi dalam aktivitas yang diteliti (Susan
Stainback:1998)
 Klasifikasi (Sanafiah Faisal:1990)
 Partisipasi Pasif : Peneliti mengamati tapi tidak terlibat dalam kegiatan
tersebut.
 Partisipasi Moderat :Peneliti ikut observasi partisipatif pada beberapa
beberapa kegiatan saja, tidak semua kegiatan.
 Partisipasi Aktif : Peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan narasumber,
tapi belum sepenuhnya lengkap
 Partisipasi Lengkap : Peneliti terlibat sepenuhnya dalam kegiatan
narasumber




Observasi Terus Terang atau Tersamar
 Peneliti berterus terang kepada narasumber bahwa ia sedang melakukan
penelitian.
 Suatu saat peneliti melakukan tidak berterus terang agar dapat mengetahui informasi yang dirahasiakan narasumber.
Observasi tak Berstruktur
• Dilakukan dengan tidak Berstruktur karena fokus penelitian belum jelas
• Apabila masalah sudah jelas, maka dapat dilakukan secara berstruktur dengan
menggunakan pedoman observasi

Manfaat Observasi
Menurut Nasution (1988)
• Peneliti akan mampu memahami konteks data secara menyeluruh.
• Peneliti akan memperoleh pengalaman langsung.
• Peneliti dapat melihat hal-hal yang kurang diamati oleh orang lain.
• Peneliti dapat menemukan hal-hal yang tidak terungkap saat wawancara.
• Peneliti dapat mengungkapkan hal-hal yang ada di luar persepsi responden.
• Peneliti dapat memperoleh kesan-kesan pribadi terhadap obyek yang diteliti.
Obyek observasi
1. Space : Ruang dalam aspek fisiknya
2. Actor : Orang yang terlibat dalam situasi sosial
3. Activity : Seperangkat kegiatan yang dilakukan orang
4. Object : Benda-benda yang terdapat di tempat itu
5. Act : Perbuatan / Tindakan tertentu
6. Event : Rangkaian aktivitas yang dikerjakan orang-orang
7. Time : Urutan Kegiatan
8. Goal : Tujuan yang ingin dicapai
9. Feeling : Emosi yang dirasakan dan diekspresikan orang-orang



Tahapan Observasi
Observasi Deskriptif :
1. Peneliti belum menemukan masalah yang diteliti secara jelas
2. Peneliti melakukan penjelajahan umum dengan melakukan deskripsi semua
yang dilihat, semua yang didengar, dll.
3. Observasi Terfokus :
4. Observasi dipersempit pada aspek tertentu
5. Observasi Terseleksi :
6. Peneliti telah menguraikan fokus yang ditemukan, sehingga diperoleh data
yang lebih rinci, peneliti telah menemukan karakteristik, perbedaan dan
persamaan antar kategori

Pengumpulan Data dengan Wawancara
Pengertian :
Menurut Esterberg (2002) : Wawancara adalah merupakan pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu
Macam-macam Wawancara
1. Wawancara Terstruktur
2. Bila peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan
diperoleh.
3. Peneliti sudah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-
pertanyaan tertulis dan alternatif jawaban.
4. Wawancara Semi Terstruktur
5. Dilaksanakan lebih bebas dibandingkan dengan wawancara terstruktur.
6. Bertujuan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka.
7. Wawancara tak berstruktur
8. Dilakukan secara bebas, peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara
secara sistematis.
9. Pedoman yang digunakan hanya garis-garis besar permasalahan.
10. Peneliti belum mengetahui secara pasti apa yang akan diperoleh, sehingga
peneliti lebih banyak mendengarkan
Langkah-langkah Wawancara
1. Menurut Lincoln & Guba, ada 7 langkah :
2. Menetapkan kepada siapa wawancara akan dilakukan.
3. Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan.
4. Mengawali atau membuka wawancara.
5. Melangsungkan alur wawancara.
6. Mengonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya.
7. Menuliskan hasil wawancara.
8. Identifikasi tindak lanjut hasil wawancara.
Jenis-jenis Pertanyaan dalam Wawancara
• Pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman.
• Pertanyaan yang berkaitan dengan pendapat.
• Pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan.
• Pertanyaan tentang pengetahuan.
• Pertanyaan yang berkenaan dengan indera.
Hal-hal yang Berkenaan dengan Wawancara
• Alat-alat wawancara :
• Buku Catatan
• Tape Recorder
• Camera
• Mencatat Hasil Wawancara
• Hasil wawancara harus dicatat.
• Untuk wawancara yang dilakukan secara. terbuka & tidak berstruktur, peneliti
perlu rangkuman yang lebih sistematis.




Teknik Pengumpulan Data dengan Dokumen
• Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental yang lain.
• Dokumen yang dipilih harus memiliki kredibilitas yang tinggi.
Triangulasi
 Merupakan teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari
berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.
Dengan Triangulasi, peneliti sebenarnya mengumpulkan data sekaligus menguji kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data.

7. Instrumen Dan Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data dari sampel penelitian, dilakukan dengan metode tertentu sesuai dengan tujuannya. Ada berbagai metode, antara lain; wawancara, observasi (pengamatan), kuesioner atau angket dan dokumenter.
Metode yang dipilih untuk setiap variabel tergantung pada berbagai faktor terutama jenis data dan ciri responden. Untuk data historis misalnya tidak bisa ditemukan dengan observasi tetapi dimungkinkan dengan dokumenter atau wawancara. Hal ini tergantung pada karakteristik data variabel, maka metode yang digunakan tidak selalu sama untuk setiap variabel. Berikut ini adalah metode pengumpulan data suatu penelitian.
1. Observasi (pengamatan)
Observasi adalah dimana peneliti mencatat informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian. Penyaksian dengan melihat, mendengar, merasakan yang kemudian dicatat seobyek mungkin. Dengan jenis pengamatan baik pengamatan dengan partisipasi penuh, partisipan, dan pengamat sempurna (complete observer).
2. Survei
Survei adalah metode pengumpulan data dengan menggunakan instrumen untuk memintas tanggapan dari responden tentang sampel. Ciri-cirinya sebagai berikut:
a. Dipakai pada sampel yang mewakili populasi, khususnya probabilistic sampling.
b. Respon didapankan langsung dari responden.
c. Penggunaan survei melibatkan banyak responden daengan area yang lebih luas.
d. Dilaksanakan pada situasi yang alamiyah. Dapat dikunjungi di kantor, rumah untuk meminta informasi tanpa diharuskan menghadiri acara tertentu.
Pada dasarnya survei terdiri atas wawancara dan kuesinoner. Wawancara biasanya dilakukan dalam hubungan langsung ata tatap muka antara pewancara dan responden. Mengajukan pertanyaan, tanggapan dan melaporkannya secara tertulis. Instrumennya disebut schedule. Bentuk umum dari kuesioner adalah kuesinoner tertulis yang dikirim langsung ke responden. Du dalamnya terdapat pedoman untuk membimbing responden memberikan tanggapannya. Instrumennya adalah kuesinoner.
3. Wawancara
Wawancara adalah bentuk komunikasi langsung antara peneliti dan responden. Komunikasi berlangsung dalam bentuk tanya jawab dalam hubungan tatap muka sehingga gerak dan mimik responden merupakan pola media yang melengkapi kata-kata secara verbal. Wawancara juga menangkap perasaan, pengalaman, emosi, motif yang dimikili responden. Dengan bebarapa jenis wawancara baik wawancara berstruktur dan tidak atau wawancara campuran.
4. Kuesioner (Angket)
Pada kuesiner pertanyaan disusun dalam bentuk tanya sedangkat pada angket, pertanyaan disusun dalam kalimat pertanyaan dengan opsi jawaban yang tersedia. Dilakukan dengan media yakni dengan daftar pertanyaan yang dikirim kepada responden.



5. Metode Dokumenter
Dokumen adalah catatan tertulis tentang berbagai kegiatan atau peristiwa masa lalu. Data statistik yang diterbitkan secara berkala oleh Biro Pusat Statistik (BPS) adalah dokumen yang mencatat berbagai perkembangan yang terjadi di Indonesiadalam kurun waktu tertentu. Semua dokumen yang berhubungan dengan penelitian yang bersangkutan perlu dicatat sebagai sumber informasi.
























Bab III
Penutup

A. Simpulan
Pengertian Statistik
Berikut definisi statistic menurut beberapa ahli dalam bidang statistic :
1. Menurut Freund and William : Statistik adalah kumpulan data berupa angka
2. Menurut Noegroho Budijuwono : Statistik adalah keseluruhan metode pengumpulan data dan analisa angka
3. Menurut Agus Irianto : Statistik adalah sekumpulan cara maupun aturan-aturan yang berkaitan dengan pengumpulan, pengolahan, analisa, penarikan kesimpulan atas data-data yang berbentuk angka dengan menggunakan asumsi – asumsi tertentu.

Fungsi statistik :
Fungsi statistic secara garis besar adalah :
1. Deskriptif ;
2. Inferential :
Sedangkan fungsi statistic secara khusus :
1. menggambarkan data dalam bentuk tertentu
2. menyederhanakan data
3. dapat digunakan sebagai teknik untuk melakukan perbandingan
4. dapat memebri petunjuk untuk perumusan kebijakan perusahaan
5. dapat mengukur untuk memepelajari suatu gejala baik yang bersifat social maupun ekonomi
6. dapat digunakan untuk menentukan hubungan sebab akibat


Kegunaan Statistik.
Di antara kegunaan Statistik sebagai ilmu pengetahuan adalah: (a) Untuk menggambarkan keadaan, baik secara umum amupun secara khusus; (b) Untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan (pasang-surut) dari waktu ke waktu; (c) Untuk mengetahui permandingan (membandingkan) antara gejala yang satu dengan gejala yang lain; (dalam) Untuk menilai keadaan dengan jalan menguji perbedaan antara gejala yang satu dengan gejala yang lain; (e) Untuk menilai keadaan dengan jalan mencari hubungan antara gejala yang satu dengan gejala yang lain;
Ciri Khas Statistik
1. Statistik selalu bekerja dengan angka (bilangan).
2. Statistik bersifat obyektif.
3. Statistik bersifat universal.
Data Statistic
1. Data Kualitatif
a. Nominal.
b. Ordinal.
Data Kuantitatif
1. Data Interval
2. Data Rasio
INSTRUMEN DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA
1. Observasi (pengamatan)
2. Survei
3. Wawancara
4. Kuesioner (Angket)
5. Metode Dokumenter
B. Saran-Saran
statistik merukapan alat untuk mengukur suatu data, dan alat untuk mengetahui data yang di inginkan agar sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, dan utunk mengetahui berbagai macam kejadian, baik itu dalam hal perdagangan apakah ia mengalami kerugian setiap harinya atau pun mendapatkan untung setiapp hari, oleh karenanya statistik sangatlah berguna, oleh sebab itu penulis mengharapkan kepada para pembaca yang budiman, untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan tentang statistik ini, penyusun sadar apa yang sudah dituangkan dalam makalah ini jauh dari pada kesempurnaan oleh karenanya, kepada para pembaca hendaknya untuk mendalami lagi tentang statistik ini, besar harapan penyusun agar kiranya tulisan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi para pembaca.


















Daftar Pustaka
 Agus Irianto, Prof, DR, Statistik: Konsep Dasar dan Aplikasinya, Prenada Media, Jakarta, 2004.
 Gonick, Larry and Smith, Woolcott, Kartun Statistik, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2002.
 J. Supranto, Pengantar Metode Statistik, Edisi VI, Penerbit Airlangga, Jakarta, 2003.
 Noegroho Boedijoewono, Drs, Pengantar Statistik Ekonomi dan Perusahaan, Jilid 1 dan 2, UPP AMP YKPN, Jogjakarta, 2000.