Minggu, 02 Januari 2011

makalah filsafat ilmu tentang kegunaan ilmu

BA B I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Paul Natorp yang dikutip Muhammd Hatta1 berpendapat : “Wahrheiten wollen erkannt und fastgestelld. Eben bewahrheitet sein; die wahrheit selbst bedarf dessen nicht, sondern sie ist es, die allein bewaehrt, was orgend als wahr erkannt sein und gelten soll”
Segala kebenaran maunya diketahui dan dinyatakan, dan juga; kebenaran itu sendiri tidak perlu akan itu, karena ialah yang menunjukkan, apa yang diakui benar dan harus berlaku.
Sebuah kebenaran yang terstruktur manjadikannya sebuah ilmu, ilmu yang bersumber dari kebenaran yang diproses dengan benar dan digunakan dengan benar merupakan tujuan yang benar.
Manusia diciptakan bukanlah untuk diri sendiri dan Ilmu ada bukanlah untuk ilmu itu sendiri, manusia, ilmu dan amal harus terintegrasi dengan moral dan hikmah sehingga manusi bisa mewarnai dunia dengan ilmu dan hikmah.
Berdasarkan paparan tentang seluk beluk ilmu dan juga tentang hal yang disorot oleh ilmu, sehingga akan melahirkan suatu ilmu pengetahuan yang dikembangkan berdasarkan paradigma dari subjek ilmu. Oleh sebab itu, penulis mencoba untuk deskripsikan tentang dasar, struktur dan juga klasifikasi dari ilmu pengetahuan yang merupakan tugas utama dari Dosen Pembimbing Mata Kuliah Filsafat Ilmu. Dan dibagian terakhir penulis juga mencoba untuk “mengawin-mut’ahkan” antara konsep dasar dan struktur ilmu pengetahuan dengan pemikiran penulis yang terinspirasi oleh ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo, sehingga yang melahirkan ilmu pengetahuan berparadigma wahyu verbal Tuhan dari rahim keduanya sebagai tesis dari penulis.
Ilmu pengetahuan merupakan bagian dari himpunan informasi yang termasuk dalam pengetahuan ilmiah, dan berisikan informasi yang memberikan gambaran tentang struktur dari sistem-sistem serta penjelasan tentang mekanisme sistem-sistem tersebut. Sistem yang dimaksud dapat berupa sistem alami, maupun sistem yang merupakan manipulasi pemikiran manusia mengenai mekanisme hubungan dalam tatanan kehidupan masyarakat yang diinstitusionalisasikan. Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan sederhana menuju pada justifikasi ilmu pengetahuan yang utuh, sehingga menjadi ilmu pengetahuan diperlukan sebuah landasan dan proses sehingga ilmu pengetahuan (science atau sains) dapat dibangun. Landasan dan proses pembangunan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah penilaian (judgement) yang dilibatkan pada proses pembangunan ilmu pengetahuan.
B. Pembatasan masalah
Agar lebih fokos dan lebih efesien dalam pembahasan ini maka kami membatasi permasalahan ini menjadi bebrapa sub pokok pembahaan yang meliputi: Manusia, Akal dan Moral ,Aksiologi Ilmu Pengetahuan ,Pengetahuan Mistis ,Nilai kegunaan ilmu


C. Perumusan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini penulis mencoba mengidentifikasikan beberapa pertanyaan yang akan dijadikan sebagai bahan dalam penyusunan dan penyelesaian makalah. Diantaranya yaitu :
1. Apa yang dimaksud Akseologi ilmu pengetahuan ?
2. Apa yang di maksud pengetahuan mistis ?
3. Bagaimana nilai kegunaan ilmu ?
D. Tujuan Penulisan
Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan makalah ini selain untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah filsafat ilmu, tapi juga bertujuan diantaranya untuk :
1. Untuk mengetahui pengertian pengertian akseologi ilmu pengetahuan
2. Untuk mengetahui pengetahuan mistis
3. Untuk mengetahui nilai kegunaan ilmu
E. Metode Penulisan
dalam pembahasan filsafat ilmu ini saya menggunakan metode analisis deskriftif dari sumber-sumber yang saya peroleh



F. sitematika Penulisan
makalah ini di buat 3 bab yang masing-msing bab di lengkapi sub-sub bab dengan sistemaitka sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan yang menguraikan latar belakang masalah,
perusmusan masalahan, pembatasan masalah, tujuan
penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II : pembahsan yang menguraikan tentang Manusia, Akal
dan Moral ,Aksiologi Ilmu Pengetahuan ,Pengetahuan
Mistis ,Nilai kegunaan ilmu
Bab III : penutup yang menguraikan tentang kesimpulan dan
saran-saran







BAB II
KEGUNAAN ILMU

A. Manusia, Akal dan Moral
Manusia bertanya tentang dirinya dan orang lain atau suatu gejala adalah disebabkan oleh kegelisahan untuk berfikir, apa yang didengar atau dilihat tidak jelas baginya. Dengan terdapat titik kesamaan yang mula, yaitu rasa ingin tahu.
Manakala manusia melakukan, atau melihat segala sesuatu itu dengan penuh perhatian dan minat, merasa heran dan menakjubkan bagi dirinya kemudian mengajukan berbagai pertanyaan tentang apa yang dilakukan atau dilihatnya itu, maka runtutan seperti itu menyatakan bahwa seseorang berfilsafat.
Darimana rasa ingin tahu itu? Dalam al Quran dalam surat asajadah Allah berfirman :

              •  
9. kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Menurut Ahmad Tafsir5 (2009) yang didasari ayat di atas, rasa ingin tahu itu ada pada manusia itu sudah built in dalam penciptaan manusia, manusia ingin tahu, lantas ia mencari tahu, hasilnya ia mengetahui akan sesuatu. Dan ini adalah awal dari ilmu.
Keingintahuan adalah konsekwensi logis dari keberadaan akal bagi manusia. Akal diberikan oleh Allah adalah sebuah potensi bagi manusia, menurut Ibu Rusyd akal adalah mahkota terpenting dari wujud roh (jiwa) Manusia6, karena akal menurut Ibn Bajjah adalah “Satu-satunya saran untuk memperoleh dan mendapatkan pengetahuan yang benar dan mencapai kemakmuran dan membangun kepribadian”.
Mengapa manusia bertanya tentang dirinya atau orang lain, atau suatu gejala adalah disebabkan oleh kegelisahan ia untuk selalu berfikir, apa yang didengar atau dilihat tidak jelas baginya, dan karena itu ia bertanya kepada dirinya sendiri.
Menurut Taufik Ismail yang dikutip Jujun (2005) “Penalaran manusia sangat luar biasa, namun mereka sangat curang dan serakah sedang sebodoh bodohnya umat kerbau tidak curang dan serakah” sehingga apakah semakin cerdas, maka makin pandai kita menemukan kebenaran? apakah makin benar maka makin baik perbuatan kita? Ataukah makin cerdas kita akan semakin pandai kita berdusta?” Prof. Ace Partadiredja berpendapat “Munculnya teori-teori ilmu ekonomi yang tidak mengajarkan manusia untuk serakah”. Ibn Rusyd berpendapat bahwa manusia yang memiliki akal sebagai sumber kebenaran haruslah digunakan untuk memecahkan persoalan, bukan menjadi “ persoalan baru” sedangkan menurut pandangan
Al Ghazali9 tentang etika, bahwa seorang sufi benar-benar berada di atas jalan yang benar, berakhlaq yang baik dan berpengetahuan yang luas, seorang filusuf haruslah menjadi seorang sufi yang benar, sehingga ia tidak terjebak dalam penggunaan akal untuk pembenaran hawa nafsunya.
Dalam al Quran10 ditegaskan, bagaimana orang-orang yang menggunakan hawa nafsu tanpa ilmu sebagai orang-orang yang disesatkan :
           •       
29. tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; Maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? dan Tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.
Perkembangan ilmu sering melupakan manusia, dimana bukan lagi teknologi yang berkembang seiring perkembangan dan kebutuhan manusia, namun justeru sebaliknya manusia akhirnya yang harus menyesuaikan diri dengan teknologi.
Teknologi tidak lagi berfungsi sebagai sarana yang memberkan kemudahan bagi manusia melaikan dia berada untuk tujuan eksistensinya sendiri. Suatu yang kadang-kadang harus dibayar mahal oleh manusia yang kehilangan sebagian arti dari kemanusiaanya sendiri. Dewasa ini ilmu menjadikan kita dehumanisasi, namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat manusia itu sendiri. Sehingga ilmu bukan lagi sebagai sarana namun menjadi tujuan hidup itu sendiri.
Menghadapi kenyataan seperti ini, ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya; untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan?, di mana batas wewenang penjelajahan ilmu? Kemana arah perkembangan ilmu harus diarahkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak merupakan urgensi bagi Copernicus, Galileo, dan ilmuan seangkatanya. Namun bagi yang hidup di abad 20, persoalan tersebut menjadi persoalan yang sangat urgen yang tidakdapat dielakkan. Dan untuk menjawab persoalan tersebut maka ilmuan berpaling pada hakikat moral.11
Pengetahuan tentang proses berfikir ilmiah ialah hakikat ilmu pengetahuan dan aspek-aspeknya. Dengan demikian pengenalan ilmu menyangkut kognitif dan afektif terhadap wujud ilmu12. Menurut Jujun :
“…Kegiatan pendidikan keilmuan, tidak boleh berhenti pada kematangan intelektual semata. Melainkan harus menjangkau kedewasaan moral dan sosia. Penilaian akhir seorang ilmuan tidak boleh diletakkan kepada kemampuan berfikir saja melainkan harus mengikutsertakan kedewasaan sikap dan tindakan”


B.Aksiologi Ilmu Pengetahuan
a. Kegunaan ilmu Pengetahuan
Apa kegunaan ilmu pengetahuan ? Pertanyan ini sama dengan apa kegunaan
pengetahuan ilmiah karena sain (ilmu) isinya teori (ilmiah). Secara
umum, teori artinya pendapat yang beralasan. Alasan tersebut bisa berupa argumen logis , dan ini merupakan landasan teori filsafat. Sedangkan alasan yang berupa argumen perasaan atau keyakinan yang kadang kadang empiris merupakan teori dalam pengetahuan
mistik. Sedangkan toeri sain harus berDasar kan argumen logis yang empiris.
Sekurang-kurangnya ada tiga manfaat kegunaan ilmu.
1.Ilmu sebagai alat Eksplansi
Berbagai ilmu yang berkembang dewasa ini, secara umum berfungsi sebagai alat untuk membuat ekspalanasi kenyataan yang ada. Filsafat ilmu dapat dianggap sebagai suatu studi tentang masalah-masalah eksplanasi15. Menurut T Jacob yang dikutip Ahmad Tafsir, “sain merupakan suatu sistem eksplanasiyang paling dapat diandalkan dibanding dengan sistem lain dalam memahami masa lampau, sekarang, serta mengubah masa depan.
Sebagai contoh, ketika itu ada sebuah sepeda motor tua, dengan kenalpot yang berasap tebal berwarna putih dengan jalan terseok seok dan tidak bisa berlari kencang. Dari gejala yang timbul ini seorang mekanik yang memiliki ilmu tentang perbengkelan, bisa membuat eksplanasi atau penjeleasan kepada pemilik motor mengapa begitu. Itulah manfaat ilmu sebagai eksplanasi.
2. Ilmu sebagai alat Peramal
Tatkala membuat ekplanasi, biasanya ilmuan telah mengetahui juga faktor penyebab gejala tersebut. Dengan menganalisis faktor dan gejala yang muncul, ilmuwan dapat melakukan ramalan. Dalam term ilmuwan ramalan disebut prediksi untuk membedakan ramalan embah dukun. Sebagai contoh, motor tadi, seorang mekanik bisa memprediksi jika pemilik motor tidak mau merawat motor dan lalai mengganti oli, maka ring sehernya akan cepat menipis dan oli mesin akan terbakar dan menyebabkan asap menjadi tebal dan berwarna putih.
3. Ilmu sebagai alat Pengontrol
Eksplanasi sebagai bahan membuat prediksi dan kontrol. Ilmuan selain mampu membuat ramalan berDasar kan eksplanasi gejala, juga dapat membuat kontrol. Contoh : Agar motor kita awet, motor kita harus diservis dan ganti oli tiap 2000 km, sehingga tingkat keausan mesin dapat ditekan dan diperlambat. Sehingga motor kita awet.
Menurut Ahmad Tafsir16, Perbedaan prediksi dan kontrol ialah prediksi bersifat pasif, sedangkan kontrol bersifat aktif.



a. Cara Sain Menyelesaikan Masalah
Ilmu atau sains yang didalamnya terdapatteori, dibuat untuk memudahkan manusia, bila kita mendapat kesulitan yang kita kenal dengan istilah masalah, kita menghadapi dan menyelesaikannya dengan ilmu.
Sebagai contoh, dulu ketika televisi baru diketemukan dan listerik maih sanggat jarang, jika kita ingin menonton televisi harus menggunakan accu yang cukup besar dan berat. Jika listrik di accu tersebut sudah lemah maka kita harus mencasnya di kampung sebelah dengan cara di gotong, dan ini sangat mensulitkan kita. Tapi ketika listerik sudah masuk ke kampung kita, kita tidak usah menggotong accu yang berat itu karena sudah tidak terpakai, tapi kita tinggal mencoloknya di stop kontak dan tinggal “Jetrek”. Tapi inipun masih menjadi masalah pula, ketika kita akan merubah cenel dan kita harus mondar mandir meenghapiri televisi sekedar memijit tombol program agar pindah cenel, tapi itu sudah berlalu karena sekarang kita cukup memijit remot yang ada di tangan kita. Mudahkan ?
Beberapa tahun kemudian, anak-anak dikampung kita menjadi jarang mengaji, malah mereka berlkuyuran di jalan padahal waktunya mereka mengaji atau belajar. Mengapa begini?
Kemudian kita memanggil ilmuan untuk meminta bantuannya, mengapa bisa begini? Kemudian ilmuan itu melakukan beberpa hal
Pertama, ia mengidentifikasi masalah yang ada, ia ingin tahu mengapa anak-anak di kampung itu tidak mau belajar dan mengaji. Identifikasi biasanya dilakukan dengan cara mengadakan penelitian. Yang hasinya dianalisis untuk mengetahui secara persis segala sesuati dari gejaka tersebut.
Kedua ia mencari litelatur tentang sebab kemalasan anak-anak tersebut. Ketiga ia mencari litelarur yang menerangkan cara memperbaiki kemalasan anak-anak tersebut.
C. Pengetahuan Mistis
1. Hakikat Pengetahuan Mistis
Mistis adalah pengetahuan yang tidak rasional. Ialah pengetahuan (ajaran atau keyakinan) tentang Tuhan yang diperoleh melalui latihan meditasi atau latihan spiritual, bebas dari ketergantungan indera atau rasio. Pengetahuan mistis ialah pengetahuan yang tidak dapat dipahami rasio. Dalam Islam yang termasuk pengetahuan mistis ialah pengetahuan yang diperoleh melalui jalan tasawuf. Pengetahuan mistis ialah pengetahuan yang supra rasional tetapi kadang-kadang mempunyai bukti empiris.

2. Struktur Pengetahuan Mistis
Mistis magis ialah mistis yang mengandung kekuatan tertentu dan biasanya untuk mencapai tujuan tertentu. Mistis magis dapat dibagi dua, yaitu mistik-magis-putih dan mistik-magis-hitam. Perbedaan mendasar ada pada segi filsafat. Magis putih selalu dekat dan berhubungan serta bersandar pada Tuhan sehingga dukungan Illahi sangat menentukan. Pada nabi disebut Mukzijat dan pada selain nabi disebut karomah. Magis hitam selalu dekat, bersandar, bergantung pada kekuatan roh jahat. Jiwa-jjiwa yang memiliki kemampuan magis ini dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu : pertama, mereka yang memiliki kemampuan atau pengaruh melalui kekuatan mental atau himmah. Kedua, mereka yang melakukan pengaruh magisnya dengan menggunakan
watak benda-benda atau elemen-elemen yang ada didalamnya, inilah yang disebut jimat. Ketiga, mereka yang melakukan pengaruh magisnya melalui kekuatan imajinasi sehingga menimbulkan berbagai fantasi pada orang yang dipengaruhi, seperti pesulap.
3. Epistemologi Pengetahuan Mistik
Pengetahuan mistik ialah pengetahuan yang diperoleh tidak melalui indera dan bukan melalui rasio. Pengetahuan ini diperoleh melalui rasa dan hati. Yang menjadi objek pengetahuan mistis ialah objek yang abstrak-supra-rasional, seperti alam gaib, Tuhan, malaikat, surga, neraka, jin, dll. Pada umumnya cara memperoleh pengetahuan mistis adalah latihan yang disebut dengan riyadhah, dari situ manusia dapat memperoleh pencerahan, memperoleh pengetahuan.
Kebenaran pengetahuan mistis diukur dengan berbagai ukuran. Ada kalanya ukuran kebenaran pengetahuan mistis itu kepercayaan. Jadi, sesuatu dianggap benar jika kita mempercayainya. Ada kalanya juga kebenaran suatu teori diukur dengan bukti empiris, yaitu ukuran kebenaran. Sulit memahami jika sesuatu teori dalam pengetahuan mistis bila pengetahuan itu tidak punya bukti empirik, sulit diterima karena secara rasional tida terbukti dan bukti empirik pun tidak ada.


4. Aksiologi Pengetahuan Mistik
Pengetahuan mistik itu amat subjektif, yang paling tau penggunaannya ialah pemiliknya. Di kalangan sufi kegunaannya yaitu dapat menentramkan jiwa mereka, mereka menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan. Mistis magis hitam dikatakan hitam karena penggunaannya untuk kejahatan.
Cara pengetahuan mistis menyelesaikan masalah tidak melalui proses inderawi dan tidak juga melalui proses rasio. Ada dua macam mistis yaitu mistis yang biasa dan mistis magis. Mistis magis adalah kegiatan mistik yang mengandung tujuan-tujuan untuk memperoleh sesuatu yang diingini penggunanya. Dunia mistik magis dalam dunia Islam yaitu ’ulum al-hikmah yang berisi antara lain rahasia-rahasia huruf al-qur’an yang mengandung kekuatan magis, rahasia wafaq, rahasia asma ilahiyah, dsb. Pada kenyataannya tokoh-tokoh mistik-magis itu kebanyakan sufi-sufi. Kekuatan alam akhirnya tunduk dibawah sinar Illahi dan dukunganNya melalui huruf-huruf dan nama indahNya. Melalui kalam ilahi inilah jiwa-jiwa ilahiyah yang aktif dapat digunakan manusia untuk tujuan yang dikehendakinya.
Pada perkembangannya dunia mistik-magis Islam terbagi dua kelompok, yaitu mistik-magis dalam bentuk wirid-wirid dan mistik-magis dalam bentuk benda-benda yang telah diformulasikan sedemikian rupa biasanya berupa wafaq-wafq atau isim-isim.
1. Kegunaan Pengetahuan Mistik
Mustahil pengetahuan mistik banyak pengikut yang begitu banyak, jika tidak memiliki kegunaan. Pengetahuan ini sangat bersifat subjektif, yang paling tahu kegunaan ilmu ini hanyalah pemiliknya. Bagi seorang sufi, pengetahuan mistik menjadi jembatan untuk menentramkan jiwa mereka. bahkan mereka menikmati yang luar biasa tatkala “berjumpa” dengan Tuhannya.
Pengetahuan mereka sering dapat menyelesaikan persoalan yang tidak terselesaikan sain dan filsafat, jenis mistik lain berguna untuk seseorang sesuai dengan kondisi dan situasi tertentu, terlepas benar tidak penggunaaanya.
Kegunaan pengetahuan mistik ini mulai tergeser, seiring
kemajuan teknologi, sekarang wanita cantik tidak cukup dipelet
dengan “Semar Mesem” atau “Jaran Giring” tapi mereka sangat tertari dengan “pelet Jepang” apalagi “pelet Jerman”. Agaknya seleksi alamlah yang menentukan. Tapi mistik yang memembawa ketenanganlah yang masih tetap akan bertahan.
2. Penggunaan Mistik untuk Menyelesaikan Masalah
Dari sisi penggunaanya, mistik ini terbagi menjadi dua penggunaan.Pertama mistik-magis-putih yang digunakkan untuk hal kebaikan, seperti menolong orang, mengobati, mendamaikan seseorang. Sedang yang kedua mistik-magis-hitam yang digunakan untuk hal diluar mistik-magis-putih.
Orang mengatakan mistik putih karena manteranya diambil dari al Qur’an dan ditulis dengan huruf arab, ada pula yang mengatakannya dari sisi tujuan yang hendak dicapai.
Namun, secara teoritis, perbedan dapat dilihat dari sisi ontologi, epistimologi, maupun aksiologi mistik magis tersebut. Bila ontologi, misalnya manteranya melawan ajaran benar (misalnya agama) maka maka “ilmu” itu digolongkan hitam.
Pada sisi epistimologinya, jika “ilmu” itu harus didapat dengan cara melawan yang ajaran benar maka itu pun dikatakan hitam. Misalnya untuk mencapai tujuan ilmu itu diharuskan untuk berlari keliling kampung dengan telanjang.
Dari sisi aksiologi, juga demikian, bila “ilmu” ini digunakan untuk tujuan melawan yang benar, maka dikatagorkan ilmu Magis- hitam, begitupun sebaliknya
D. Nilai kegunaan ilmu
Teori tentang nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika dimana makna etika memiliki dua arti yaitu merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan manusia dan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan perbuatan, tingkah laku, atau yang lainnaya.
Merupakan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat berhutang kepada ilmu dan teknologi, sain dan teknologi dikembangkan untuk memudahkan hidup manusia agar lebih mudah dan nyaman. Peradaban manusia berkembang sejalan dengan perkembangan sain dan teknologi karena itu kita tidak bisa dipungkiri peradaban manusia berhutang budi pada sains dan teknologi. Berkat sain dan teknologi pemenuhan kebutuhan manusia bisa dilakukan dengan lebih cepat dan mudah. Perkembangan ini baik dibidang kesehatan, pengangkutan, pemukiman, pendidikan dan komunikasi telah mempermudah kehidupan manusia.
Sejak dalam tahap- tahap pertama ilmu sudah dikaitkan dengan tujuan perang, disamping lain ilmu sering dikaitkan dengan faktor kemanusiaan, dimana bukan lagi tekhnologi yang berkembang seiring dengan perkembangan dan kebutuhan manusia, namun sebaliknya manusialah yang akhirnya yang harus menyesuaikan diri dengan teknologi. Menghadapi kenyataan ini ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagai mana adanya mulai mempertanyakan hal yang bersifat seharusnya, untuk apa sebenarnya ilmu itu harus digunakan? Dimana batasnya? Kearah mana ilmu akan berkembang?
Dihadapkan dengan masalah moral dalam menghadapi ekses ilmu dan tekhnologi yang bersifat merusak ini para ilmuan terbagi kedalam golongan pendapat yaitu golongan pertama yang menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai- nilai baik itu secara ontologis maupun aksiologi. Sebaliknya golongan kedua bahwa netralisasi terhadap nilai- nilai hanyalah terbatas pada metavisis keilmuan sedangkan dalam penggunaanya ilmu berlandaskan pada moral.golongan kedua mendasarkan pendapatnya pada beberapa hal yakni:


• Ilmu secara factual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang telah dibuktikan dengan adanya dua perang dunia yang mempergunakan tekhnologi- tehnologi keilmuan.
• Ilmu telah berkembang pesat dan makin eksetoris sehingga ilmuan telah mengetahui apa yang mungkin terjadi apabila adanya penyalahgunaan.
• Ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika dan tehnik perubahan social.











Bab III
Penutup
A. simpulan
Manusia, Akal dan Moral
Manusia bertanya tentang dirinya dan orang lain atau suatu gejala adalah disebabkan oleh kegelisahan untuk berfikir, apa yang didengar atau dilihat tidak jelas baginya. Dengan terdapat titik kesamaan yang mula, yaitu rasa ingin tahu.
Manakala manusia melakukan, atau melihat segala sesuatu itu dengan penuh perhatian dan minat, merasa heran dan menakjubkan bagi dirinya kemudian mengajukan
Aksiologi Ilmu Pengetahuan
a. Kegunaan ilmu Pengetahuan
Apa kegunaan ilmu pengetahuan ? Pertanyan ini sama dengan apa kegunaan
pengetahuan ilmiah karena sain (ilmu) isinya teori (ilmiah)
Ilmu sebagai alat Eksplansi
Berbagai ilmu yang berkembang dewasa ini, secara umum berfungsi sebagai alat untuk membuat ekspalanasi kenyataan yang ada. Filsafat ilmu dapat dianggap sebagai suatu studi tentang masalah-masalah eksplanasi15. Menurut T Jacob yang dikutip Ahmad Tafsir, “sain merupakan suatu sistem eksplanasiyang paling dapat diandalkan dibanding dengan sistem lain dalam memahami masa lampau, sekarang, serta mengubah masa depan.
Ilmu sebagai alat Peramal
Tatkala membuat ekplanasi, biasanya ilmuan telah mengetahui juga faktor penyebab gejala tersebut. Dengan menganalisis faktor dan gejala yang muncul, ilmuwan dapat melakukan ramalan. Dalam term ilmuwan ramalan disebut prediksi untuk membedakan ramalan embah dukun. Sebagai contoh, motor tadi, seorang mekanik bisa memprediksi jika pemilik motor tidak mau merawat motor dan lalai mengganti oli, maka ring sehernya akan cepat menipis dan oli mesin akan terbakar dan menyebabkan asap menjadi tebal dan berwarna putih.
Ilmu sebagai alat Pengontrol
Eksplanasi sebagai bahan membuat prediksi dan kontrol. Ilmuan selain mampu membuat ramalan berDasar kan eksplanasi gejala, juga dapat membuat kontrol. Contoh : Agar motor kita awet, motor kita harus diservis dan ganti oli tiap 2000 km, sehingga tingkat keausan mesin dapat ditekan dan diperlambat. Sehingga motor kita awet.
Pengetahuan Mistis
Hakikat Pengetahuan Mistis
Mistis adalah pengetahuan yang tidak rasional. Ialah pengetahuan (ajaran atau keyakinan) tentang Tuhan yang diperoleh melalui latihan meditasi atau latihan spiritual, bebas dari ketergantungan indera atau rasio. Pengetahuan mistis ialah pengetahuan yang tidak dapat dipahami rasio.


Struktur Pengetahuan Mistis
Mistis magis ialah mistis yang mengandung kekuatan tertentu dan biasanya untuk mencapai tujuan tertentu. Mistis magis dapat dibagi dua, yaitu mistik-magis-putih dan mistik-magis-hitam. Perbedaan mendasar ada pada segi filsafat. Magis putih selalu dekat dan berhubungan serta bersandar pada Tuhan sehingga dukungan Illahi sangat menentukan.
Cara Sain Menyelesaikan Masalah
Ilmu atau sains yang didalamnya terdapatteori, dibuat untuk memudahkan manusia, bila kita mendapat kesulitan yang kita kenal dengan istilah masalah, kita menghadapi dan menyelesaikannya dengan ilmu.
Epistemologi Pengetahuan Mistik
Pengetahuan mistik ialah pengetahuan yang diperoleh tidak melalui indera dan bukan melalui rasio. Pengetahuan ini diperoleh melalui rasa dan hati. Yang menjadi objek pengetahuan mistis ialah objek yang abstrak-supra-rasional, seperti alam gaib, Tuhan, malaikat, surga, neraka, jin, dll. Pada umumnya cara memperoleh pengetahuan mistis adalah latihan yang disebut dengan riyadhah, dari situ manusia dapat memperoleh pencerahan, memperoleh pengetahuan.
Aksiologi Pengetahuan Mistik
Pengetahuan mistik itu amat subjektif, yang paling tau penggunaannya ialah pemiliknya. Di kalangan sufi kegunaannya yaitu dapat menentramkan jiwa mereka, mereka menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan. Mistis magis hitam dikatakan hitam karena penggunaannya untuk kejahatan.
Kegunaan Pengetahuan Mistik
Mustahil pengetahuan mistik banyak pengikut yang begitu banyak, jika tidak memiliki kegunaan. Pengetahuan ini sangat bersifat subjektif, yang paling tahu kegunaan ilmu ini hanyalah pemiliknya.
Penggunaan Mistik untuk Menyelesaikan Masalah
Dari sisi penggunaanya, mistik ini terbagi menjadi dua penggunaan.Pertama mistik-magis-putih yang digunakkan untuk hal kebaikan, seperti menolong orang, mengobati, mendamaikan seseorang. Sedang yang kedua mistik-magis-hitam yang digunakan untuk hal diluar mistik-magis-putih.
Nilai kegunaan ilmu
Teori tentang nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika dimana makna etika memiliki dua arti yaitu merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan manusia dan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan perbuatan, tingkah laku, atau yang lainnaya.
B. saran
kegunaan ilmu pengetahuan berasal dari beberapa akseologi manusia yang berkembang begitu majunya, oleh karenanya kegunaan ilmu pengetahuan makin hari makin berkembang, sesuai kebutuhan hidup yang begitu konfleks serta berbeda,beda oleh karenanya ilmu pengetahuan sangat banyak sekali kegunaanya

DAFTAR PUSTAKA
 Al Quran dan Terjemah, 2009 Departemen Agama RI, As Syamil, Bandung,
 Hatta, Muhammd, Dr. 1986, “Alam Pikiran Yunani”, Tintamas, Jakarta,
 Judistira Garna, Prof. Ph.D. 1992 “Beberapa Dasar Ilmu Sosial”, PPS Unpad, Bandung.
 Sudarsono, SH. M.Si, 2004 “Filsafat Islam”, Rineka cipta, Jakarta.
 Suryasumantri, Jujun S, 2005 “Filsafat Ilmu”, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta .
 Syarif. MM, MA (Terjmh) 1989 “Para Filosof Muslim”, Mizan, Bandung.
 Tafsir, Ahmad, Prof. Dr., 2009 “Filsafat Ilmu”, Rosdakarya, Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar