Senin, 27 September 2010

makalah menaklukan andalusia

Bab I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Spanyol mulai dikuasai oleh umat Islam pada masa pemerintahan khalifah Al Walid bin Abdul Malik (705-715 M), beliau adalah salah seorang khalifah yang berasal dari dinasti Umayah yang berkedudukan dikota Damaskus ( Syiria ). Sebelum menguasai Spanyol ( Andalusia ), angkatan perang Islam telah lebih dulu menguasai Afrika Utara yang akan dipergunakan sebagai batu loncatan untuk dapat menguasai Spanyol. Afrika Utara berhasil dikuasai pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik (685-705),yang merupakan ayah dari khalifah Al-Walid. Penguasaan Afrika Utara dipimpin oleh dua orang panglima Islam yang gagah berani yaitu panglima Hasan Ibn Nu’man dan Musa Ibn Nusair. Selanjut nya Hasan Ibn Nu’man diangkat menjadi gubernur Afrika Utara yang kemudian digantikan oleh Musa Ibn Nusair.
Dalam usaha menaklukkan dan menguasai Spanyol, Dinasti Umayah mengirimkan tiga orang panglima perang Singa Padang Pasir sekaligus pahlawan Islam, mereka adalah Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nusair. Pasukan panglima Tharif bin Malik berangkat lebih dulu, panglima Tharif lebih tepat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Dengan memimpin sebanyak lima ratus orang pasukan perang, Tharif dan pasukannya bergerak menuju Spanyol dengan menumpangi empat buah kapal yang disediakan oleh Julian (gubenur wilayah Septah ). Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapatkan perlawanan yang berarti, setelah mendapatkan kemenangan ia pun kembali ke Afrika Utara dengan membawa harta rampasan perang.
Pada tahun 711 M, gubenur Afrika Utara Musa bin Nusair mengirim pasukan Islam ke Spanyol di bawah pimpinan panglima Thariq bin Ziyad dengan jumlah pasukan sebanyak tujuh ribu orang. Dengan menumpangi kapal yang dipinjamkan oleh Julian, Pasukan Thariq bin Ziyad sampai di tanah Spanyol. Sebuah gunung tempat pertama sekali Thariq dan pasukan nya mendarat dan menyiapkan pasukan, diberi nama Jabal Thariq (Gilbraltar). Dalam sebuah pertempuran disuatu tempat yang bernama Bakkah, Pasukan Thariq bin Ziyad berhasil mengalahkan raja Goliath dan adik nya raja Roderick dari kerajaan kristen Gothic ( Goth ) yang selama ini berkuasa di Spanyol. Setelah itu berturut-turut pasukan Islam berhasil menguasai kota-kota penting dan strategis lainnya seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibu kota kerajaan Gothic). Sebelumnya panglima Thariq bin Ziyad telah mendapatkan tambahan pasukan dari gubernur Musa bin Nusair sebanyak 5000 orang pasukan, sehingga jumlah pasukan Islam seluruh nya berjumlah 12.000 orang . Sedangkan pasukan Kristen Gothic berkekuatan sebanyak 100.000 orang pasukan, dalam peperangan ini pasukan Islam mendapatkan kemenangan walaupun kalah dalam jumlah.
Dari Afrika, gubenur Musa bin Nusair juga bergerak menuju ke Spanyol. Beliau berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville, Merida dan Orihuela. Selanjut nya Musa bin Nusair dan pasukannya bergabung dengan Thariq bin Ziyad di Toledo. Kedua tokoh Islam ini berhasil menguasai Sanyol utara dan hampir seluruh wilayah Spanyol mulai dari kota Saragosa sampai Navarre.
Pembaca Ababil yang budiman.. mungkin setelah membaca kisah sejarah di atas tadi, pasukan Islam begitu mudah menguasai Spanyol dan mendapatkan banyak kemenangan. Hal ini tidak terlepas dari beberapa faktor pendukung yaitu:
1. Raja terakhir kerajaan Kristen Gothik Spanyol yaitu Roderick bersikap tidak toleran terhadap penganut agama lain. Seperti penganut agama Yahudi yang banyak dipaksa masuk agama Kristen, yang tidak bersedia masuk agama Kristen dibunuh secara kejam.
2. Tidak adanya persamaan hak, hilangnya keadilan dan kekejaman raja Roderick yang diluar batas perikemanusiaan, sehingga rakyat kecil merasa tertindas. Kedatangan pasukan Islam di Spanyol dianggap sebagai juru pembebas. Bahkan kemudian rakyat Spanyol sendiri memberikan bantuan kepada pasukan Islam.
3. Terjadi perpecahan politik didalam negeri Spanyol, akibat nya gubenur Toledo yang bernama Witiza dan gubenur Septah yang bernama Julian balik mendukung pasukan Islam dan menyerang raja Roderick.
Sementara itu pada tahun 750 M, dinasti Umayyah di Damaskus berhasil di gulingkan dan di runtuhkan oleh pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Abdullah Al Saffah (750-1258 M) yang merupakan keturunan dari paman nabi yang bernama Abbas bin Abdul Multhalib, yang selanjutnya mendirikan dinasti Abbasiyah di Bahgdad Irak. Khalifah terakhir dinasti Umayyah yang bernama Mawan bin Muhammad dapat dibunuh oleh pasukan Abbasiyah di Mesir. Salah seorang keturunan Dinasti Umayah dapat meloloskan diri ke Spanyol yang masih berada dibawah kekuasaan dinasti Umayyah. Pangeran yang beruntung itu bernama Abdurrahman Al Dakhil atau yang lebih dikenal dengan gelar Abdurrahman I.
B. Pembatasan Masalah
Agar lebih fokus dan lebih evisien dalam pembahasan ini maka kami membatasi permasalahan ini menjadi beberapa sub pokok pembahasan yang meliputi: Penaklukan Andalusia, ihwal pemerintahan, Perkembangan Islam Di Spanyol,



C. Perumusan Masalah
Dari uraian yang telah dipaparkan secara sepintas saya dapat menguraikan perumusan masalah sebagai berikut :
a. bagaimana ide dasar pemikiran Muhammad iqbal tentang dinamisme islam?
b. bagaimana tanggapan Muhammad iqbal tentang kemunduran islam ?
c. apa tanggapan Muhammad iqbal tentang sosialisme barat?

D. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui ide pemikiran Muhammad iqbal tentang dinamisme islam ?
2. Untuk mengetahui tanggapan Muhammad iqbal tentang penyebab kemunduran islam
3. untuk mengetahui tentang sosialisme barat

E. Metodologi Penulisan
Dalam pembahasan sejarah peradaban islam ini saya menggunakan metode analisis deskriftif dari sumber – sumber yang saya peroleh


F. Sistematika Penulisan

Makalah ini di buat 3 bab yang masing-masing bab di lengkapi sub – sub bab dengan sistematika sebagai berkut
Bab I : pendahuluan yang menguraikan latar belakang masalah,perumusan masalah,pembatasan masalah, tujuan penulisan/pembahasan,metode
penulisan dan sitematika penulisan
Bab II : pembahasan yang menguraikan tentang biografi Muhammad iqbal,
pemikiran Muhammad iqbal tentang hukum islam
Bab III : penutup yang menguraikan tentang kesimpulan dan saran-saran.








Bab II
Pembahasan
Penaklukan Andalusia
Andalusian adalah sebutan bagi semenanjung Iberia periode Islam (Yoesoef, 1984: 1). Sebutan itu berasal dari kata vandalusia, artinya bangsa vandal karena bagian selatan semenanjung itu pernah dikuasai oleh bangsa Vandal sebelum mereka diusir oleh bangsa Gothia Barat pada abad V Masehi. Bani Umayyah merebut semenanjung ini pada masa Khalifah Al Walid Abd Malik.
Penaklukan semenanjung ini diawali dengan pengiriman lima ratus orang tentara muslim dibawah pimpinan Tariq ibn Malik pada tahun 91/710. Pertempuran pecah di dekat muara sungai Salado pada bulan Ramadhan 92/711. Pertempuran ini mengawali kemenangan Thariq dalam pertempuran-pertempuran berikutnya sampai akhirnya Tholedo, ibu kota Ghotia Barat dapat direbut bulan September tahun itu juga.
Thariq bin Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata (Carl Brockelmann, 1980: 83). Pasukannya ini terdiri atas sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa Ibn Nusair serta pasukan ini diberi nama Gibraltar (Jabal Thariq). Selanjutnya Thariq dan pasukannya terus menaklukan kota-kota penting seperti Cordova, Granada, dan Toledo. Tetapi sebelum menaklukan Toledo, Thariq meminta tambahan pasukan, kemudian Musa Ibn Nusair menambahkan pasukannya sebanyak lima ratus orang sehingga pasukannya menjadi 12000 orang walaupun ini belum sebanding dengan pasukan musuh yang berjumlah sekitar seratus ribu orang.
Pada bulan Juli tahun berikutnya, Thariq menyerahkan kepemimpinannya kepada Musa yang kemudian menjadikan Andalusia sebagai wilayah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Penaklukan selanjutnya diarahkan kebagian utara kota Andalusia yakni pegunungan Phyrenia. Musa berambisi untuk menaklukan daerah ini tetapi Khalid Al Walid tidak merestuinya bahkan memanggil Musa dan Thariq, akan tetapi sebelum pergi, Musa menyerahkan kekuasaan kepada Abd Al Aziz Ibn Musa dimana dia berhasil menaklukan Andalusia bagian Timur sehingga dengan begitu seluruh Andalusia sudah jatuh ke dalam kekuasaan pemerintahan Islam.
Ketika Daulah Islamiyah runtuh pada 135/750, Andalusia menjadi salah satu provinsi dari Daulah Bani Abbas sampai Abd Al Rahman Ibn Muawiyah, cucu Muawiyah, memproklamirkan provinsi itu sebagai Negara yang berdiri sendiri pada tahun 138/756. Sejak saat itu Andalusia memasuki babak baru sebagai sebuah negara berdaulat di bawah kekuasaan bani Umayyah II yang beribukota di Cordova sampai tahun 422/1031.
ihwal pemerintahan
Al Dakhil atau Abd Al Rahman Ibn Muawiyah berhasil meletakkan sendi dasar yang kokoh bagi tegaknya Daulah Bani Umayyah II di Andalusia. Selama 32 tahun masa kekuasaannya, ia mampu mengatasi berbagai ancaman baik dari dalam negeri maupun dari luar. Karena ketangguhannya itu, ia dijuluki Rajawali Quraisy serta memberi gelar tambahan dibelakang namanya dengan Al Nashir.
Pada masa Al Nashir inilah Bani Umayyah II mencapai puncak kejayaannya dan masih dipertahankan dibawah kepemimpinan Al Hakam II Al Mustansir. Ketika Al Mustansir wafat, maka putra mahkota yang baru berusia 10 tahun dinobatkan sebagai khalifah dengan gelar Al Mu’ayyad. Muhammad Ibn Abi Amir Al Qahtani diberikan kekuasaan untuk mengambil alih kekuasaan dan menamai dirinya sebagai Al Malik Al Mansur Billah.
Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak bagitu mudah karena hal itu tidak lepas dari adanya faktor pendukung baik internal maupun eksternal. Faktor pendukung eksternal maksudnya adalah faktor yang terdapat di negeri Spanyol itu sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol oleh kaum muslimin, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negara Spanyol dalam kondisi yang menyedihkan. Secara politik dan ekonomi, wilyah Spanyol terbagi-bagi dalam wilyah-wilayah kecil. Selain itu, penguasa Gothik juga bersikap tidak toleransi. Kondisi masyarakat terbagi menjadi beberapa sistem kelas, sehingga keberadaannya selalu diliputi oleh kemelaratan, ketertindasan dan tidak adanya persamaan hak (Syed Mahmudunnasir, 1981: 214). Perpecahan Spanyol ini banyak membantu dalam keberhasilan campur tangan Islam di tahun 711 M.
Sedangkan faktor pendukung internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa serta prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol, namun yang paling penting adalah internalisasi ajaran Islam yang ditampakkan oleh tentara Islam berupa sikap toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong sehingga menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam disana.
Perkembangan Islam Di Spanyol
Sejak menginjakkan kakinya di Spanyol hingga keruntuhannya, Islam memerankan peranan yang sangat penting dalam mewarnai kemajuan peradaban Spanyol. Sejarah panjang yang dilalui selama setengah abad yang dilalui umat Islam di Spanyol dapat dibagi dalam enam periode, yaitu:
Periode pertama (711-755)
Pada periode ini, Spanyol berada dibawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada periode pertama ini stabilitas ekonomi Spanyol belum dalam taraf yang baik dan berbagai gangguan musuh banyak terjadi baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Gangguan yang datang dari dalam berupa perselisihan yang terjadi dikalangan elit politik terutama akibat perbedaan etnis maupun golongan. Disamping itu, terdapat perbedaan pendangan antara khalifah di Damaskus dengan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Adapun yang datang dari luar yaitu berupa serangan yang datangnya dari sisa-sisa musuh yang tinggal di Spanyol (David Wassentein, 1985: 15-16).
Periode kedua (755-912)
Pada periode ini berada dibawah pemerintahan Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Aburrahman I yang bergelar Abdurrahman Al-Dakhil memasuki Spanyol tahun 138 H/755 M. Abdurrahman Al-Dakhil adalah keturunan Bani Umayyah yang berhasil lolos dari kejaran Bani Abbasiyah ketika bani Abbasiyah menaklukan Bani Umayyah di Damaskus. Selanjutnya Ad-Dakhil berhasil mendirikan Dinasti Umayyah di Spanyol. Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai mengalami kemajuan dalam bidang politik maupun peradaban. Abdurrahman Al Dakhil kemudian mendirikan masjid Cordoba dan sekolah di kota-kota di Spanyol. Walaupun demikian, berbagai ancaman dan kerusuhan kerap terjadi. Pada abad ke-9, stabilitas keamanan negara terganggu dengan munculnya Kristen fanatik yang mencari ke-syahid-an (Martyrdom) (Jurji Zaidan, tt: 200). Gangguan politik yang paling serius pada periode ini justru datangnya dari umat Islam itu sendiri. Golongan pemberontak di Toledo membentuk negara kota yang berlangsung selama 80 tahun yang dipimpin oleh Hafshun dan anaknya yang berpusat di Malaga.
Periode ketiga (912-1031)
Pada periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar An Nasir sampai munculnya raja-raja kelompok. Pada periode ini pemerintahan Spanyol dipimpin oleh penguasa dengan gelar khalifah. Pada masa ini juga, umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan yang menyaingi Daulah Abbasiyah di Baghdad. Abdurrahman An Nasir kemudian mendirikan universitas Cordoba yang memiliki perpustakaan dengan jumlah koleksi buku hingga ratusan ribu.
Periode keempat (1013-1086)
Pada masa ini Spanyol sudah terpecah belah menjadi beberapa negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu. Bahkan pada periode ini Spanyol terpecah menjadi tiga puluh negara kecil dibawah raja-raja golongan atau Al Mulukuth Thawaif yang berpusat di suatu kota seperti Cordova, Sevilla, atau Toledo. Umat Islam memasuki masa pertikaian internal. Ironisnya jika terjadi perang saudara, maka pihak yang bertikai itu meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Walaupun begitu kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan (Bertold Spaller, 1960: 108).
Periode kelima (1086-1248)
Pada periode ini Spanyol walaupun masih terpecah belah, tetapi ada satu kekuatan yang dominan, yakni Dinasti Murabitun. Dinasti Murabitun pada mulanya adalah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf Ibn Tasyifin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M, ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Dalam perkembangan selanjutnya, kekuasaan Islam di Spanyol dikuasai oleh orang-orang Kristen. Pada tahun 1238 M, Cordova jatuh ketangan Nasrani dan Sevilla jatuh pada tahun 1248 M, sehingga hampir seluruh wilayah Spanyol lepas dari tangan penguasa Islam.
Periode keenam
Pada masa ini Islam hanya berkuasa di daerah Granada dibawah pimpinan Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban mencapai kemajuan seperti pada zaman Abdurrahman An Nasir, akan tetapi secara politik, dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam terakhir ini pun berakhir karena perselisihan orang-orang istana berebut kekuasaan. Pangeran Abu Abdullah Muhammad tidak setuju atas keputusan ayahnya yang mengangkat adiknya sebagai putra mahkota. Ia melakukan perlawanan dengan meminta bantuan pasukan Ferdinand dan Isabella untuk menjatuhkan kekuasaan ayahnya hingga akhirnya ayahnya pun terbunuh yang kemudian digantikan kekuasaannya oleh adiknya. Perlawanan terus dilakukan, dan pada akhirnya adiknya pun terbunuh. Kemudian ia pun naik tahta, namun segera diserang kembali oleh penguasa Kristen yang dulu pernah membantunya. Tidak lama setelah naik tahta, Abu Abdullah Muhammad pun digulingkan kekuasaannya oleh Ferdinand dan Isabella pada tahun 1492 M. Maka sejak saat itulah kekuasaan Islam mulai lenyap dari bumi Andalusia.
Spanyol mulai dikuasai oleh umat Islam pada masa pemerintahan khalifah Al Walid bin Abdul Malik (705-715 M), beliau adalah salah seorang khalifah yang berasal dari dinasti Umayah yang berkedudukan dikota Damaskus ( Syiria ). Sebelum menguasai Spanyol ( Andalusia ), angkatan perang Islam telah lebih dulu menguasai Afrika Utara yang akan dipergunakan sebagai batu loncatan untuk dapat menguasai Spanyol. Afrika Utara berhasil dikuasai pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik (685-705),yang merupakan ayah dari khalifah Al-Walid. Penguasaan Afrika Utara dipimpin oleh dua orang panglima Islam yang gagah berani yaitu panglima Hasan Ibn Nu’man dan Musa Ibn Nusair. Selanjut nya Hasan Ibn Nu’man diangkat menjadi gubernur Afrika Utara yang kemudian digantikan oleh Musa Ibn Nusair.
Dalam usaha menaklukkan dan menguasai Spanyol, Dinasti Umayah mengirimkan tiga orang panglima perang Singa Padang Pasir sekaligus pahlawan Islam, mereka adalah Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nusair. Pasukan panglima Tharif bin Malik berangkat lebih dulu, panglima Tharif lebih tepat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Dengan memimpin sebanyak lima ratus orang pasukan perang, Tharif dan pasukannya bergerak menuju Spanyol dengan menumpangi empat buah kapal yang disediakan oleh Julian (gubenur wilayah Septah ). Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapatkan perlawanan yang berarti, setelah mendapatkan kemenangan ia pun kembali ke Afrika Utara dengan membawa harta rampasan perang.
Pada tahun 711 M, gubenur Afrika Utara Musa bin Nusair mengirim pasukan Islam ke Spanyol di bawah pimpinan panglima Thariq bin Ziyad dengan jumlah pasukan sebanyak tujuh ribu orang. Dengan menumpangi kapal yang dipinjamkan oleh Julian, Pasukan Thariq bin Ziyad sampai di tanah Spanyol. Sebuah gunung tempat pertama sekali Thariq dan pasukan nya mendarat dan menyiapkan pasukan, diberi nama Jabal Thariq (Gilbraltar). Dalam sebuah pertempuran disuatu tempat yang bernama Bakkah, Pasukan Thariq bin Ziyad berhasil mengalahkan raja Goliath dan adik nya raja Roderick dari kerajaan kristen Gothic ( Goth ) yang selama ini berkuasa di Spanyol. Setelah itu berturut-turut pasukan Islam berhasil menguasai kota-kota penting dan strategis lainnya seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibu kota kerajaan Gothic). Sebelumnya panglima Thariq bin Ziyad telah mendapatkan tambahan pasukan dari gubernur Musa bin Nusair sebanyak 5000 orang pasukan, sehingga jumlah pasukan Islam seluruh nya berjumlah 12.000 orang . Sedangkan pasukan Kristen Gothic berkekuatan sebanyak 100.000 orang pasukan, dalam peperangan ini pasukan Islam mendapatkan kemenangan walaupun kalah dalam jumlah.
Dari Afrika, gubenur Musa bin Nusair juga bergerak menuju ke Spanyol. Beliau berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville, Merida dan Orihuela. Selanjut nya Musa bin Nusair dan pasukannya bergabung dengan Thariq bin Ziyad di Toledo. Kedua tokoh Islam ini berhasil menguasai Sanyol utara dan hampir seluruh wilayah Spanyol mulai dari kota Saragosa sampai Navarre.
Pembaca Ababil yang budiman.. mungkin setelah membaca kisah sejarah di atas tadi, pasukan Islam begitu mudah menguasai Spanyol dan mendapatkan banyak kemenangan. Hal ini tidak terlepas dari beberapa faktor pendukung yaitu:
1. Raja terakhir kerajaan Kristen Gothik Spanyol yaitu Roderick bersikap tidak toleran terhadap penganut agama lain. Seperti penganut agama Yahudi yang banyak dipaksa masuk agama Kristen, yang tidak bersedia masuk agama Kristen dibunuh secara kejam.
2. Tidak adanya persamaan hak, hilangnya keadilan dan kekejaman raja Roderick yang diluar batas perikemanusiaan, sehingga rakyat kecil merasa tertindas. Kedatangan pasukan Islam di Spanyol dianggap sebagai juru pembebas. Bahkan kemudian rakyat Spanyol sendiri memberikan bantuan kepada pasukan Islam.
3. Terjadi perpecahan politik didalam negeri Spanyol, akibat nya gubenur Toledo yang bernama Witiza dan gubenur Septah yang bernama Julian balik mendukung pasukan Islam dan menyerang raja Roderick.
Sementara itu pada tahun 750 M, dinasti Umayyah di Damaskus berhasil di gulingkan dan di runtuhkan oleh pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Abdullah Al Saffah (750-1258 M) yang merupakan keturunan dari paman nabi yang bernama Abbas bin Abdul Multhalib, yang selanjutnya mendirikan dinasti Abbasiyah di Bahgdad Irak. Khalifah terakhir dinasti Umayyah yang bernama Mawan bin Muhammad dapat dibunuh oleh pasukan Abbasiyah di Mesir. Salah seorang keturunan Dinasti Umayah dapat meloloskan diri ke Spanyol yang masih berada dibawah kekuasaan dinasti Umayyah. Pangeran yang beruntung itu bernama Abdurrahman Al Dakhil atau yang lebih dikenal dengan gelar Abdurrahman I.
Berikut dibawah ini adalah khalifah terkenal yang pernah memerintah di Spanyol antara lain adalah:
1. Abdurrahman Al Dakhil (755M-886M)
Pada masa ini gelar kepangkatan yang dipakai masih Amir atau gubernur, Abdurrahman mendirikan sebuah mesjid di Cordova dan juga mendirikan sekolah-sekolah di Spanyol. Umat Kristen diberikan toleransi beragama, diberikan izin untuk mendirikan gereja, pengadilan sendiri, asrama rahib dan biara-biara.
1. Muhammad bin Abdurrahman (832-886 M)
2. Abdurrahman III atau Abdurrahman An-Nasir (912-961M).
Abdurrahman III mulai memakai gelar khalifah, pada masa ini umat Islam di Spanyol mencapai puncak kejayaan. Beliau mendirikan universitas Cordova dan perpustakaan Cordova. Pada masa ini ibukota kerajaan berpusat di Cordova.
1. Hakam II (961-976 M)
Pada masa ini karya-karya ilmiah dan filosofis di impor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga Cordova dengan universitas dan perpustakaan nya mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan Islam. Khalifah terakhir dari dinasti Umayyah adalah Hisyam II yang memerintah dari tahun 976-1009 M. setelah itu kekuasaan dinasti Umayah digantikan oleh dinasti Murabhitun.
1. Yusuf bin Tasyfin (1062-1086 M)
Yusuf bin Tasyfin berasal dari dinasti Murabhitun yang berasal dari Afrika Utara, beliau memindahkan ibu kota ke Marakesy.
1. Abdul Al-Mun’im (1146-1212 M)
Abdul Al-Mun’im berasal dari dinasti Muwahhidun yang berhasil merebut kekuasaan dari dinasti Murabhitun. Pada tahun 1212 pasukan kristen mengalami kemenagan besar di Las Navas de Tolesa, kekalahan-kekalahan yang beruntun menyebabkan penguasa dinasti Muwahhidun terpaksa melarikan diri kembali ke Afrika Utara pada tahun 1235 M. Pada tahun 1238 M, kota Cordova yang merupakan pusat peradaban Islam di Spanyol jatuh ketangan pasukan Kristen, disusul oleh kota Seville pada tahun 1248 M. seluruh Spanyol kembali berhasil dikuasai oleh pasukan Kristen kecuali kota Granada.
Setelah dinasti Muwahhidun kembali ke Afrika Utara, pemerintahan Islam di Spanyol kemudian digantikan oleh Bani Ahmar (1232-1492M) yang hanya berkuasa di kota Granada saja. Pada masa itu Islam kembali mengalami kemajuan seperti pada masa Abdurrahman An-Nasir, tetapi kemudian terjadi perselisihan antara khalifah Sa’ad bin Ahmar dengan anak nya yang bernama Abu Abdullah Muhammad. Abu Abdullah tidak senang karena menunjukkan saudara nya yang lain menjadi khalifah pengganti.
Dalam kemelut tersebut muncul lah pemberontakan yang dipimpin oleh Abu Abdullah Muhammad yang berhasil menewaskan khalifah Sa’ad bin Ahmar. Selanjut nya beliau digantikan oleh Muhammad bin Sa’ad yang merupakan adik kandung dari Abu Abdullah sendiri. Abu Abdullah yang berambisi ingin menjadi khalifah segera meminta bantuan kepada penguasa kristen Spanyol yang bernama Ferdinand dan permaisuri nya ratu Isabella. Raja Ferdinand dan ratu Isabella berhasil menyingkirkan khalifah Muhammad bin Sa’ad dan Abu Abdullah Muhammad. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol tahun 1492 M. Umat Islam dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau meninggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini.
Dibidang peradaban dan ilmu pengetahuan, Kerajaan Islam Andalusia Spanyol yang berpusat di Cordova banyak melahirkan tokoh-tokoh Islam antara lain adalah:
1. Bidang Filsafat
Tokoh utama dalam filsafat sejarah Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad bin Al Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah, dilahirkan di Saragosa yang kemudian pindah ke Sevilla dan Granada. Dalam usia yang sangat muda, beliau meninggal di kota Fez karena keracunan tahun 1138 M. Hasil karya nya antara lain adalah Tadbir al-Mutawahhid. Tokoh yang lain adalah Abu Bakr bin Thufail yang berasal dari Wady Asy sebelah timur Granada, beliau meninggal pada tahun 1185. Abu Bakr bin Thufail banyak menulis masalah kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya nya yang terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan. Tokoh filsafat yang paling terkenal bernama Ibn Rusyd (Averusd) dari Cordova. Beliau lahir pada tahun 1126 M dan meninggal tahun 1198 M, beliau banyak menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk meneliti filsafat dan keserasian filsafat dengan agama. Karya beliau antara lain Bidayah Al-Mujtahid.
1. Bidang Ilmu pengetahuan dan sains
- Abbas Bin Farnas, ahli ilmu kimia dan Astronomi. Beliau lah yang pertama menemukan pembuatan kaca dari batu.
- Ibrahim bin Yahya Al-Naqqas terkenal dalam ilmu astronomi,beliau bisa memperkirakan kapan terjadinya gerhana. Menemukan teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang.
- Ahmad bin Ibas di Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan.
- Ummul Al Hasan binti Abi Jakfar adalah salah seorang tokoh kedokteran wanita Islam.
1. Bidang Sejarah dan geografi
- Ibnu Jubair dari Valencia (1145-1228 M), menulis tentang negeri-negeri muslim di Mediterania dan Sicilia.
- Ibnu Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) seorang sejarahwan Islam yang berhasil mencapai Samudera Pasai dan Cina.
- Ibn Al Khatib (1317-1374 M) berhasil menyusun riwayat sejarah kota Granada.
- Ibnu Khaldun dari Tunisia, lahir pada tahun 1332 M. Perumus sejarah yang kemudian menetap di Spanyol, beliau meninggal di Bahgdad Irak pada tahun 1406 M. karangan nya antara lain adalah Al Ihbar.
1. Bidang Fiqih
Kerajaan Andalusia di Spanyol menganut faham Maliki, tokoh Fiqih Spanyol yang terkenal adalah Ziyad bin Abd Al-Rahman, Ibn Yahya, Hisyam bin Abdurrahman, Ibn Hazm, Abu Bakr Ibn Al Quthiyah, Munzir Ibn Sa’id Al-Baluthi.
1. Bidang Musik dan Kesenian
Tokoh nya antara lain adalah Hasan Ibn Nafi yang terkenal dengan gelar Zaryab.
1. Bahasa dan Sastra
Tokoh nya antara lain adalah Ibn Sayyidih, Ibn Malik, Ibn Khuruf, Ibn Al Hajj, Abu Ali Al-Isybili.
Sampai sekarang, umat Islam di belahan dunia manapun masih tetap mengenang kebesaran kerajaan Islam Andalusia di Spanyol, kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan menjadi contoh teladan bagi kristen dan Eropah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar